Candu Batubara dan Janji Mahal Teknologi Penangkapan Karbon

Rabu, 14 Januari 2026 - 07:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Dunia riuh membicarakan energi hijau, namun faktanya batubara masih menjadi raja listrik global. Teknologi penangkapan karbon (CCS) digadang-gadang sebagai penyelamat, tapi benarkah solusi ini realistis atau sekadar angan-angan mahal? Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Dunia riuh membicarakan energi hijau, namun faktanya batubara masih menjadi raja listrik global. Teknologi penangkapan karbon (CCS) digadang-gadang sebagai penyelamat, tapi benarkah solusi ini realistis atau sekadar angan-angan mahal? Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Di tengah riuhnya diskusi global tentang energi terbarukan, batubara diam-diam masih memegang takhta tertinggi dalam pembangkitan listrik dunia. Angka terbaru dari Badan Energi Internasional (IEA) menampar kita dengan realitas pahit: China bergantung pada batubara untuk 79% listriknya, Australia 78%, dan Amerika Serikat 45%. Bahkan Jerman, yang sering menuai pujian sebagai pionir hijau, masih menggunakan 41% batubara—angka yang setara dengan rata-rata global.

Ketergantungan ini bukan tanpa alasan. Banyak negara duduk di atas cadangan batubara raksasa yang mudah diakses. Selain itu, 70% produksi baja dunia membutuhkan batubara, begitu pula pembuatan plastik dan rayon. Pembangkit listrik tenaga batubara memberi makan nafsu energi dunia yang rakus, namun mereka memuntahkan karbon dioksida (CO2) dalam jumlah yang mengejutkan.

Warga kota mungkin mengeluh tentang tagihan listrik bulanan rata-rata $113, namun mereka menutup mata terhadap fakta bahwa tagihan itu tidak mencakup biaya lingkungan dari 6-7 juta metrik ton CO2 buangan pembangkit lokal mereka. Saat langit berubah kelabu dan suhu melonjak, manusia menghadapi dilema klasik: menginginkan udara bersih sekaligus listrik murah.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Harapan pada Penangkapan Karbon (CCS)

Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) telah memperingatkan bahwa kenaikan suhu bumi sebesar 2° Celsius adalah ambang batas bahaya serius. Kita harus memangkas emisi karbon sebesar 80% dalam 30 tahun ke depan, bahkan saat para ahli memprediksi permintaan energi naik 50%. Salah satu proposal utama untuk menjembatani kesenjangan ini adalah adopsi teknologi Penangkapan dan Penyimpanan Karbon (Carbon Capture and Storage atau CCS).

Baca Juga :  Medan Perang Siber: Masa Depan Konflik di Domain Kelima

Industri minyak dan gas sebenarnya sudah mempraktikkan penyimpanan CO2, atau sekuestrasi. Mereka memompa CO2 ke ladang minyak untuk menjaga tekanan dan mempermudah ekstraksi. Namun, menangkap CO2 dari pembangkit listrik masih menjadi tantangan besar.

Ada tiga bentuk utama CCS:

  1. Pasca-pembakaran (Post-combustion): Memisahkan CO2 dari gas setelah batubara dibakar. Industri menyukai metode ini karena teknisi dapat menerapkannya pada pembangkit listrik yang sudah ada.
  2. Pra-pembakaran (Pre-combustion): Mengubah batubara, oksigen, dan air menjadi gas sintetis (Syngas) sebelum pembakaran.
  3. Oxy-firing: Membakar batubara dalam oksigen murni.

Meskipun pre-combustion dan oxy-firing lebih efisien menghilangkan CO2 dan menghasilkan lebih banyak listrik, keduanya menuntut pembangunan pembangkit baru yang mahal.

Biaya Mahal dan Risiko Gempa

Banyak negara bernafsu memperbesar skala CCS. Lobi kuat dari profesional pertambangan dan teknik mendukung hal ini. Namun, skeptisisme tetap tinggi. Masalah utamanya adalah biaya yang fantastis. Estimasi konservatif menempatkan harga listrik dari pembangkit CCS lebih dari lima kali lipat harga eceran saat ini. Tanpa subsidi negara besar-besaran, konsumen tidak akan mau menanggung lonjakan harga ini.

Selain itu, energi yang proses ini butuhkan untuk menangkap CO2 justru memaksa kita membakar sepertiga lebih banyak batubara. Membangun pabrik CCS baru juga setidaknya 75% lebih mahal daripada memodifikasi yang lama.

Baca Juga :  Marty Makary Mundur dari Jabatan Kepala di Tengah Tekanan Politik

Masalah tidak berhenti di situ. Setelah menangkapnya, operator harus mengompresi CO2 menjadi cairan superkritis untuk transportasi dan penyimpanan. Jika kita mengadopsi CCS secara moderat saja, dunia akan memproduksi 700 juta barel cairan limbah ini per hari—sebagai perbandingan, produksi minyak dunia saat ini hanya sekitar 85 juta barel per hari. Kita akan mengubur limbah sebelas kali lebih banyak daripada minyak yang kita sedot.

Risiko kebocoran juga menghantui. Di batuan yang rapuh, gempa bumi bisa melepaskan kembali CO2 dalam penyimpanan. Proposal menyimpan CO2 di akuifer asin di dasar laut pun belum pernah melewati uji coba nyata. Yang paling mendasar, CCS hanya mengurangi emisi, tidak mengakhirinya.

Alternatif yang Lebih Masuk Akal

Untungnya, ada alternatif yang lebih masuk akal secara ekonomi. Pertama, mendesain ulang pembangkit batubara konvensional agar lebih efisien. Kedua, menggunakan pembangkit hibrida gas alam dan batubara. Ketiga, beralih ke gas alam murni. Menurut Administrasi Informasi Energi AS, biaya rata-rata pembangkitan listrik (Levelized Cost of Energy/LCOE) dari gas alam tanpa CCS adalah $0,0686/kWh, menjadikannya cara termurah menghasilkan energi bersih saat ini.

Keempat, tenaga surya yang kian murah. Pada 2014, sebuah proyek surya di New Mexico mampu menghasilkan listrik seharga $0,0849/kWh.

Namun, menonaktifkan seluruh infrastruktur batubara yang ada saat ini mungkin tidak realistis dalam waktu dekat. Selama batubara masih melimpah, kita mungkin tidak akan menemukan solusi untuk teka-teki antara listrik murah dan udara bersih dalam waktu dekat.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang
Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap
Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa
Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar
Kapal Mati Mesin di Perairan Pulau Pari, Gulkarmat Evakuasi 150 Penumpang
Home Industry Vape THC di Bali Terbongkar, Omzet Diduga Capai Rp300 Miliar
TPA Jatiwaringin Tangerang Terbakar 15 Hektare, BNPB: 40 Persen Api Sudah Padam
Satgas Ungkap KKB Bakusip Diduga Dalang Pembakaran Pesawat PT AMA

Berita Terkait

Sabtu, 18 Juli 2026 - 20:17 WIB

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang

Sabtu, 18 Juli 2026 - 19:13 WIB

Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap

Senin, 6 Juli 2026 - 05:24 WIB

Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa

Minggu, 5 Juli 2026 - 20:09 WIB

Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar

Minggu, 5 Juli 2026 - 19:56 WIB

Kapal Mati Mesin di Perairan Pulau Pari, Gulkarmat Evakuasi 150 Penumpang

Berita Terbaru

Dell resmi merilis trio laptop gaming Alienware terbaru yang mengusung chipset Intel Core Ultra 9 dan kartu grafis hingga Nvidia GeForce RTX 5090. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Dell Rilis Trio Alienware 16X Aurora, Area-51 16, dan Area-51

Minggu, 2 Agu 2026 - 15:12 WIB