WASHINGTON/TEHERAN, POSNEWS.CO.ID – Eskalasi konflik di Timur Tengah memasuki babak baru yang berbahaya pada hari Selasa (13/1). Presiden AS Donald Trump resmi membatalkan rencana pertemuan dengan pejabat Iran. Ia juga menyerukan para “patriot Iran” untuk terus melancarkan protes.
Berbicara kepada pers setibanya di Pangkalan Gabungan Andrews, Maryland, Trump menegaskan posisinya. Ia berjanji bahwa “bantuan sedang dalam perjalanan” bagi para demonstran penentang rezim Teheran. Pernyataan ini muncul sehari setelah pengumuman ancaman ekonomi serius. Trump mengancam tarif 25 persen bagi negara yang nekat berbisnis dengan Iran.
Gedung Putih tidak main-main. Trump bahkan menyatakan sedang menimbang opsi tindakan militer untuk menghukum Iran. Situasi kian genting. Departemen Luar Negeri AS mendesak warga Amerika segera meninggalkan Iran. Mereka menyarankan rute darat melalui Turki atau Armenia.
Iran Tahan Ratusan “Perusuh”
Di Teheran, narasi yang berbeda bergulir. Kepala Polisi Keamanan Publik Iran, Seyed Majid Feiz Jafari, angkat bicara. Ia mengonfirmasi penahanan 297 orang yang ia sebut sebagai “preman” terkait kerusuhan baru-baru ini.
Jafari berbicara dalam wawancara dengan kantor berita IRIB. Ia menuduh para tahanan berhubungan dengan organisasi afiliasi Israel dan AS untuk memicu kekacauan.
“Mereka merusak tempat-tempat religius, gedung pemerintah, properti publik, dan menjarah harta benda warga selama kerusuhan,” tegas Jafari.
Operasi penangkapan ini merupakan respons aparat terhadap gelombang protes sejak 28 Desember 2025. Pemicu utamanya adalah devaluasi tajam mata uang Rial dan inflasi yang meroket. Keluhan ekonomi pedagang pasar di Teheran menjadi sumbu awal. Protes cepat menyambar ke kota lain. Korban jiwa berjatuhan dari pihak keamanan maupun warga sipil.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dunia Cemas, Diplomasi Buntu
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) segera menyuarakan kekhawatiran mendalam. Juru bicara Sekretaris Jenderal PBB, Stephane Dujarric, menyoroti peningkatan retorika militer di sekitar situasi Iran.
“Sangat penting bagi semua negara anggota untuk mendorong diplomasi alih-alih retorika militer,” desak Dujarric dalam pengarahan harian.
Sementara itu, Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, meminta tindakan Dewan Keamanan. Ia mendesak pengutukan terhadap AS karena menghasut kekerasan dan mengancam kekuatan militer.
Rusia pun turut angkat bicara. Moskow mengutuk apa yang mereka sebut sebagai “campur tangan eksternal subversif” dalam politik internal Iran. Kremlin memperingatkan potensi “konsekuensi bencana” bagi keamanan Timur Tengah jika serangan AS terulang.
Di tengah kebuntuan ini, upaya mediasi masih berjalan di balik layar. Laporan media menyebutkan adanya kontak intensif baru-baru ini. Komunikasi terjadi antara Perdana Menteri Qatar dan Menteri Luar Negeri Iran. Kontak juga dilaporkan terjadi antara Araghchi dengan utusan AS.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















