WASHINGTON/TEHERAN, POSNEWS.CO.ID – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menaikkan suhu geopolitik global pada hari Rabu (28/1). Melalui media sosial, ia mengeluarkan peringatan keras kepada Iran: segera kembali ke meja perundingan untuk kesepakatan nuklir, atau hadapi konsekuensi militer yang menghancurkan.
Trump, yang menarik AS keluar dari kesepakatan nuklir 2015 pada masa jabatan pertamanya, kini menggunakan pendekatan tekanan maksimum. Ia mencatat bahwa peringatan terakhirnya kepada Iran diikuti oleh serangan militer pada bulan Juni lalu.
“Serangan berikutnya akan jauh lebih buruk! Jangan biarkan itu terjadi lagi,” tulis Trump. Ia mengulangi klaimnya bahwa sebuah “armada” AS sedang bergerak menuju Republik Islam tersebut.
Namun, Trump juga menawarkan jalan keluar. “Semoga Iran akan cepat ‘Datang ke Meja’ dan menegosiasikan kesepakatan yang adil dan setara – TANPA SENJATA NUKLIR… Waktu hampir habis, ini benar-benar sangat penting!”
Respons Teheran: “Jari di Pelatuk”
Ancaman tersebut tidak membuat Teheran gentar. Ali Shamkhani, penasihat Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, segera membalas via platform X. Ia menegaskan bahwa setiap tindakan militer dari Amerika Serikat akan mengakibatkan Iran menargetkan AS, Israel, dan siapa pun yang mendukung mereka.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, memperkuat pesan tersebut dengan bahasa militer yang gamblang.
“Angkatan bersenjata Iran sudah siap – dengan jari mereka di pelatuk – untuk segera dan dengan kuat merespons SETIAP agresi,” peringat Araqchi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Meski demikian, Araqchi tetap membuka celah diplomasi bersyarat. Ia menyatakan Iran selalu menyambut kesepakatan nuklir yang saling menguntungkan dan adil, asalkan setara dan “bebas dari paksaan, ancaman, dan intimidasi.”
Armada Tempur Telah Tiba
Di lapangan, ancaman “armada” Trump bukan isapan jempol. Dua pejabat AS mengonfirmasi kepada Reuters pada hari Senin bahwa kapal induk USS Abraham Lincoln beserta kapal perang pendukungnya telah tiba di Timur Tengah.
Kapal-kapal perang tersebut mulai bergerak dari wilayah Asia-Pasifik pekan lalu. Pergerakan ini terjadi seiring meningkatnya ketegangan pasca-tindakan keras berdarah terhadap protes di Iran oleh otoritas ulama dalam beberapa pekan terakhir.
Trump berulang kali mengancam akan melakukan intervensi jika Iran terus membunuh pengunjuk rasa. Namun, demonstrasi nasional terkait kesulitan ekonomi dan represi politik tersebut kini dilaporkan telah mereda.
Prediksi Keruntuhan Ekonomi
Di Washington, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memberikan penilaian tajam di hadapan komite kongres pada Rabu pagi. Ia menyebut pemerintah Iran mungkin berada dalam kondisi “lebih lemah daripada sebelumnya”.
Rubio menyoroti ekonomi Iran yang sedang runtuh dan memprediksi bahwa protes akan kembali meletus. Sementara itu, juru bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim pihaknya telah merancang rencana operasional untuk menghadapi “semua skenario”, termasuk konfrontasi langsung dengan kekuatan adidaya tersebut.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia
Sumber Berita: Reuters




















