Trump Pertimbangkan Gandakan Kuota Pengungsi bagi Warga Kulit Putih

Sabtu, 25 April 2026 - 13:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Negosiasi di hari lahir. Presiden AS Donald Trump menggelar diplomasi telepon bersama Vladimir Putin dan Volodymyr Zelenskyy menjelang pembukaan KTT G7 di Prancis. Dok: Istimewa.

Negosiasi di hari lahir. Presiden AS Donald Trump menggelar diplomasi telepon bersama Vladimir Putin dan Volodymyr Zelenskyy menjelang pembukaan KTT G7 di Prancis. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Amerika Serikat bersiap merombak besar program penerimaan pengungsinya. Administrasi Donald Trump dilaporkan ingin melipatgandakan batas tahunan pengungsi. Prioritas utama diberikan pada pemukiman kembali warga Afrikaner dari Afrika Selatan.

Dalam konteks ini, langkah tersebut merupakan kelanjutan dari perintah eksekutif Trump awal 2025. Oleh karena itu, kebijakan imigrasi AS kini bergeser secara radikal. Standar perlindungan global berubah menjadi instrumen politik yang sangat selektif pada tahun 2026.

Perluasan Kuota dan Dominasi Etnis Afrikaner

Pemerintah AS menetapkan plafon pengungsi sebesar 7.500 orang untuk tahun fiskal 2026. Angka ini turun drastis dari plafon 125.000 pada era sebelumnya. Namun, pejabat senior di Departemen Luar Negeri kini mendiskusikan penambahan 10.000 slot lagi. Langkah ini guna mempercepat masuknya warga kulit putih Afrika Selatan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Data statistik menunjukkan:

  • Penerimaan 6 Bulan: Sekitar 4.500 warga Afrika Selatan telah masuk ke AS melalui jalur pengungsi.
  • Eksklusivitas: Selain warga Afrika Selatan, hanya tiga warga negara Afganistan yang pemerintah izinkan masuk tahun ini.
  • Infrastruktur di Pretoria: AS memasang belasan unit trailer di area kedutaan besar Pretoria. Fasilitas ini khusus untuk wawancara pengungsi secara masif dengan target 4.500 orang per bulan.
Baca Juga :  Perusahaan Pelayaran Hentikan Operasi ke Ukraina

Program Lautenberg dan Minoritas Keagamaan

Selain fokus pada etnis Afrikaner, Washington mempertimbangkan perluasan program “Lautenberg”. Dalam hal ini, AS menimbang masuknya minoritas keagamaan dari Iran dan negara-negara bekas Uni Soviet.

Program ini awalnya berasal dari amandemen anggaran tahun 1989. Tujuannya adalah mempermudah pengungsi Yahudi dan minoritas lainnya untuk menetap di AS. Meskipun demikian, prioritas utama administrasi Trump tetap pada narasi “persekusi rasial” terhadap warga kulit putih. Pemerintah Pretoria membantah keras klaim tersebut melalui pernyataan resmi mereka.

Fenomena “Self-Deportation”: Pengungsi yang Memilih Pulang

Menariknya, realitas di lapangan menunjukkan dinamika yang berbeda dari narasi Washington. Dokumen internal pemerintah mengungkapkan fakta mengejutkan. Setidaknya empat pengungsi Afrikaner yang baru tiba justru memutuskan untuk kembali ke Afrika Selatan.

Kasus-kasus tersebut meliputi:

  1. Minneapolis: Seorang pria kembali setelah satu bulan. Rencana keluarganya untuk bergabung dilaporkan gagal total.
  2. Idaho: Sepasang pengungsi berbalik arah hanya sepekan setelah tiba. Mereka beralasan ada orang tua yang sakit di negara asal.
  3. Illinois: Seorang wanita berusia 66 tahun memilih pulang karena merasa kurang persiapan. Ia menilai proses pemukiman kembali berjalan terlalu cepat.
Baca Juga :  Raja Charles III Temui Donald Trump di Gedung Putih

“Ekspektasi tidak selalu sesuai dengan kenyataan di sini,” ujar salah satu konsultan imigrasi. Oleh sebab itu, kedaulatan informasi mengenai kondisi nyata di Afrika Selatan menjadi perdebatan hangat. Ribuan warga Afrikaner di luar negeri dilaporkan mulai pulang ke kampung halaman dalam beberapa tahun terakhir.

Kesimpulan: Menanti Keputusan Final Musim Semi

Masa depan program pengungsi AS kini bergantung pada evaluasi Departemen Luar Negeri. Pada akhirnya, keputusan untuk meningkatkan batas pengungsi akan menjadi pernyataan politik yang kuat. Hal ini mencerminkan arah ideologi administrasi Trump yang kaku.

Dengan demikian, masyarakat internasional terus memantau kebijakan Washington. Fokus utamanya adalah keseimbangan antara retorika perlindungan rasial dan fakta sosiologis di lapangan. Di tahun 2026, kebijakan suaka AS telah bertransformasi menjadi cermin pergeseran nilai kemanusiaan global.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Zelenskyy dan Trump Gelar Pertemuan Penting di Gedung Putih
Iran Borong 400 Peluncur Rudal Panggul Buatan China
El Nino Kuat dan Mandat B50 Indonesia Dorong Penguatan Pasar
Pemerintah Minta AS Bebaskan Tarif Impor Minyak Sawit
Malaysia Siapkan Peningkatan Campuran Biodiesel B12 dan B15
Puncak 15 Pekan: Harga Minyak Sawit Malaysia Melandai
Lonjakan Harga Global Tekan Impor Minyak Nabati India
Polisi Tembak Mati Pelaku Penabrakan Minivan Pride

Berita Terkait

Kamis, 30 Juli 2026 - 16:12 WIB

Zelenskyy dan Trump Gelar Pertemuan Penting di Gedung Putih

Kamis, 30 Juli 2026 - 14:09 WIB

Iran Borong 400 Peluncur Rudal Panggul Buatan China

Rabu, 29 Juli 2026 - 14:00 WIB

El Nino Kuat dan Mandat B50 Indonesia Dorong Penguatan Pasar

Rabu, 29 Juli 2026 - 11:17 WIB

Pemerintah Minta AS Bebaskan Tarif Impor Minyak Sawit

Rabu, 29 Juli 2026 - 10:13 WIB

Malaysia Siapkan Peningkatan Campuran Biodiesel B12 dan B15

Berita Terbaru

Langkah taktis amankan benteng udara. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menemui Donald Trump di Washington guna membahas produksi mandiri rudal Patriot. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Zelenskyy dan Trump Gelar Pertemuan Penting di Gedung Putih

Kamis, 30 Jul 2026 - 16:12 WIB

Langkah taktis Teheran amankan wilayah udara. Iran membeli 400 peluncur rudal panggul buatan China bernilai 70 juta dolar AS guna memperkuat pertahanan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Iran Borong 400 Peluncur Rudal Panggul Buatan China

Kamis, 30 Jul 2026 - 14:09 WIB