Partai Republik Tolak Anggaran Keamanan Trump Senilai $1 Miliar

Jumat, 22 Mei 2026 - 15:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Pecah kongsi di Capitol Hill. Senator Partai Republik menunda pemungutan suara untuk RUU pendanaan imigrasi karena menolak usulan dana

Pecah kongsi di Capitol Hill. Senator Partai Republik menunda pemungutan suara untuk RUU pendanaan imigrasi karena menolak usulan dana "politisasi" dan pembangunan ruang dansa mewah Gedung Putih senilai $1 miliar. Dok: REUTERS/Eric Lee

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Senator dari Partai Republik secara mengejutkan membatalkan rencana pemungutan suara untuk RUU pendanaan Immigration and Customs Enforcement (ICE) pada hari Kamis. Langkah ini mencerminkan perpecahan serius di internal partai. Anggota parlemen menolak permintaan anggaran khusus dari Presiden Donald Trump.

Permintaan tersebut mencakup dana senilai $1,8 miliar untuk sekutu politik Trump. Selain itu, terdapat usulan dana sebesar $1 miliar untuk kompleks Gedung Putih. Sebagian besar anggota Senat dari Partai Republik mempertanyakan urgensi dan transparansi dana tersebut.

Ballroom Mewah di Tengah Krisis Ekonomi

Proposal Secret Service memuat alokasi dana sebesar $220 juta untuk pengerasan keamanan ruang dansa (ballroom) baru di Sayap Timur Gedung Putih. Pembangunan ini mencakup pemasangan kaca antipeluru dan teknologi deteksi drone canggih.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Meskipun demikian, para legislator Republik merasa kebingungan. Presiden Trump sebelumnya berjanji akan menggunakan dana pribadi sebesar $400 juta untuk pembangunan proyek tersebut. Oleh karena itu, Senator Thom Tillis menyebut penggabungan paket keamanan ini ke dalam RUU imigrasi sebagai “ide buruk”. Ia menolak memberikan dukungan meski nilainya sudah dikurangi.

Baca Juga :  Pohon Rengas Tumbang di Dharmawangsa, 5 Mobil Ringsek - 2 Warga Luka

Pergolakan Internal Partai Republik

Ketegangan di Capitol Hill ini terjadi setelah serangkaian intervensi Trump dalam politik internal partai. Trump baru saja mendukung penantang jaksa agung Texas dalam pemilihan pendahuluan melawan Senator John Cornyn. Selanjutnya, tindakan ini memicu amarah di kalangan senator senior Republik.

Pemimpin Mayoritas Senat, John Thune, mengakui adanya masalah dalam perolehan suara. Ia menyebut agenda pemerintahan menjadi jauh lebih rumit akibat manuver politik tersebut. “Ini menyulitkan langkah kami dalam menggerakkan agenda di Senat,” ujar Thune.

Demokrat Siap Menjegal

Faksi Demokrat segera memanfaatkan celah ini. Pemimpin Demokrat di Senat, Chuck Schumer, berencana memaksa pemungutan suara atas dana kompensasi tersebut. Dengan demikian, Demokrat ingin menekan Republik agar memilih secara terbuka di depan publik.

Schumer melabeli program tersebut sebagai “dana siluman” (slush fund) bagi para pengikut Trump yang terlibat kekerasan. Demokrat bahkan menyiapkan amandemen guna memblokir pembayaran kepada siapa pun yang pernah menyerang aparat penegak hukum pada kerusuhan 6 Januari 2021.

Baca Juga :  Ukraina Siap Berbagi Keahlian Drone Tempur dengan Jepang

Krisis Biaya Hidup dan Sentimen Pemilih

Krisis energi akibat blokade Selat Hormuz di Iran memperburuk situasi politik. Harga bahan bakar dan kebutuhan pokok di Amerika Serikat melonjak tajam dalam beberapa bulan terakhir. Oleh sebab itu, masyarakat mulai mempertanyakan prioritas anggaran pemerintah.

Senator Bill Cassidy mempertanyakan logika di balik anggaran ruang dansa di tengah kesulitan ekonomi. “Masyarakat kesulitan membeli bahan makanan dan bensin, lalu kita akan menghabiskan satu miliar dolar untuk ruang dansa?” tanya Cassidy dengan nada kritis.

Menanti Kepastian Pasca-Reses

Para pimpinan Republik terpaksa menunda pemungutan suara setidaknya hingga bulan Juni. Mereka menunggu anggota parlemen kembali dari masa reses liburan Memorial Day. Namun, prospek RUU ini tetap buram di tengah ketidakpuasan banyak anggota parlemen.

Singkatnya, langkah Trump untuk memaksa agenda ini menjadi ujian bagi soliditas Partai Republik. Jika mereka gagal menyatukan suara, agenda deportasi migran yang menjadi prioritas utama presiden akan terancam. Keputusan ini kini menyisakan ketidakpastian besar bagi stabilitas legislasi Amerika Serikat di sisa tahun 2026.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bassirou Diomaye Faye Meluncurkan Partai Baru Kiiraay
Brasil Tolak Visa Pejabat AS yang Ingin Awasi Pemilu
Pasangan Afrika Selatan Saksikan Kumpulan 299 Paus
Dua Pria Terjun Bebas dari Space Needle Seattle
Unggahan Medsos Soroti Budaya Kerja Ekstrem Jepang
Vietnam Siapkan Aturan Ketat Larang Anak di Bawah 16 Tahun
Warga al-Obeid Hadapi Serangan Drone dan Pemerkosaan
Kanada Batal Gelar Acara Bersama Peresmian Jembatan

Berita Terkait

Minggu, 26 Juli 2026 - 20:30 WIB

Bassirou Diomaye Faye Meluncurkan Partai Baru Kiiraay

Minggu, 26 Juli 2026 - 20:00 WIB

Brasil Tolak Visa Pejabat AS yang Ingin Awasi Pemilu

Minggu, 26 Juli 2026 - 19:30 WIB

Pasangan Afrika Selatan Saksikan Kumpulan 299 Paus

Minggu, 26 Juli 2026 - 19:00 WIB

Dua Pria Terjun Bebas dari Space Needle Seattle

Minggu, 26 Juli 2026 - 18:51 WIB

Unggahan Medsos Soroti Budaya Kerja Ekstrem Jepang

Berita Terbaru

Langkah baru pasar monitor OLED. Philips merilis Evnia 32M2N6901A yang memadukan panel 4K QD-OLED 165Hz dengan harga kompetitif. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Philips Resmi Meluncurkan Monitor Evnia 32M2N6901A

Minggu, 26 Jul 2026 - 22:30 WIB

Lompatan industri semikonduktor China. Produsen memori CXMT mematok harga modul DDR5 server melampaui tarif Samsung akibat lonjakan permintaan pusat data AI. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Produsen Chip China CXMT Patok Harga Memori Lebih Mahal

Minggu, 26 Jul 2026 - 22:00 WIB