JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Komputer bekerja sebagai mesin ajaib yang mampu melakukan segalanya, mulai dari mengontrol pembangkit listrik hingga membuat musik. Namun, kemampuan serba bisa itu justru membuka celah fatal.
Komputer mampu menjalankan program apa saja. Artinya, mesin ini juga sanggup menjalankan perangkat lunak jahat (malware) atau virus. Seketika, virus menjelma menjadi ancaman unik yang melumpuhkan banyak sistem sekaligus.
Serangan virus mengancam perusahaan kecil lebih serius daripada kerusakan perangkat keras biasa. Bahkan, kita sering menyejajarkan dampaknya dengan bahaya kebakaran. Bedanya, orang bisa pindah kerja saat kantor terbakar. Namun, infeksi virus akan terus mengikuti ke mana pun mereka pergi.
Cara Kerja Infeksi Digital
Apa sebenarnya virus komputer itu? Secara teknis, virus adalah potongan kode program yang “menempel” pada program lain. Virus memodifikasi inangnya dan diam-diam melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.
Virus yang sukses akan bersembunyi (lie low) hingga menyusup ke seluruh sistem. Mereka baru menampakkan diri saat kerusakan sudah terjadi. Lantas, virus mencari program lain untuk diinfeksi, menciptakan siklus penyebaran yang tak berujung.
Peneliti biasanya mengklasifikasikan virus menjadi dua jenis: “virus riset” untuk studi, dan “virus liar” (in the wild) yang menyebar luas dan merusak.
Dari Disket ke Email
Metode penyebaran virus berubah drastis seiring zaman. Sebelum internet merajalela, virus menyebar lewat media fisik yang dapat dilepas, terutama disket (floppy disks).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Virus sektor boot menjadi momok menakutkan saat itu. Mereka menginfeksi bagian disk yang dibaca komputer pertama kali saat dinyalakan. Namun, era disket telah berlalu.
Kini, pembuat virus menggunakan email sebagai senjata utama. Paket email komersial canggih sering kali memiliki fitur otomatisasi. Sayangnya, peretas memanfaatkan fitur ini untuk menyebarkan kode jahat secara otomatis ke seluruh daftar kontak korban.
Logika Bom dan Kuda Troya
Istilah “virus” sering kali memayungi berbagai jenis malware. Contohnya, ada “Bom Logika” (Logic Bomb). Program destruktif ini hanya aktif jika kondisi tertentu terpenuhi, misalnya pada tanggal tertentu.
Lalu, kita mengenal “Kuda Troya” (Trojan Horse). Sesuai namanya, program ini menyamar sebagai aplikasi berguna untuk menipu pengguna agar menginstalnya. Sementara itu, “Cacing” (Worm) adalah program yang mampu menggandakan diri dan menyebar melalui jaringan tanpa perlu menempel pada file inang.
Virus modern semakin licik. Mereka bermutasi setiap kali menyalin diri dan menggunakan teknik kriptografi. Akibatnya, program antivirus sering kali kesulitan mendeteksinya.
Sejarah Serangan 13 Mei
Sejarah mencatat serangan virus besar pertama pada akhir 1987. Sebuah virus diam-diam menyusup ke program-program di sebuah universitas di Timur Tengah.
Pengguna mendeteksi virus itu karena ukuran file program membengkak. Ternyata, peretas merancang virus tersebut untuk menghapus semua file pada hari keramat: Jumat, tanggal 13 Mei. Untungnya, analis berhasil menemukan penawarnya sebelum tanggal tersebut tiba.
Pertahanan: Kewaspadaan Abadi
Mengembangkan virus ternyata tidak sulit. Internet menyediakan banyak “paket konstruksi virus” secara bebas. Oleh karena itu, ancaman ini tidak akan pernah hilang sepenuhnya.
Pertahanan terbaik yang paling praktis adalah memperbarui program antivirus (update) secara rutin. Selain itu, pengguna harus meminimalkan prosedur berisiko seperti berbagi informasi sembarangan.
Pada akhirnya, semua pendekatan perlindungan adalah kompromi (trade-offs). Tidak ada sistem yang 100% aman. Maka, kewaspadaan abadi (eternal vigilance) dan edukasi pengguna menjadi kunci utama untuk selamat di hutan rimba digital ini.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















