VOC: Perusahaan Korporat Pertama (dan Terjahat) dalam Sejarah

Selasa, 2 Desember 2025 - 06:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Lebih kaya dari Apple, lebih kejam dari penjajah biasa. VOC bukan sekadar dagang, tapi mesin perang pencetak uang. Simak sejarah kelam perusahaan saham pertama di dunia ini. Dok: Istimewa.

Lebih kaya dari Apple, lebih kejam dari penjajah biasa. VOC bukan sekadar dagang, tapi mesin perang pencetak uang. Simak sejarah kelam perusahaan saham pertama di dunia ini. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Kita sering mengenal VOC atau “Kumpeni” sebagai penjajah yang menduduki Nusantara. Namun, identitas asli mereka sebenarnya jauh lebih modern daripada bayangan kita.

VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) bukanlah sebuah negara atau kerajaan. Faktanya, mereka adalah perusahaan multinasional pertama di dunia.

Pada tahun 1602, VOC melakukan terobosan sejarah. Mereka menjadi entitas pertama yang menerbitkan saham kepada publik untuk mendanai operasional bisnis. Seketika, konsep pasar modal dan bursa saham lahir dari rahim ambisi dagang Belanda ini.

Kekayaan yang Memalukan Apple dan Google

Seberapa kaya VOC sebenarnya? Jika kita mengonversi nilai aset mereka ke mata uang modern, angkanya akan membuat rahang ternganga.

Para sejarawan ekonomi mengestimasi nilai VOC pada puncaknya mencapai setara dengan $7,9 triliun. Bayangkan, angka ini jauh melampaui gabungan nilai pasar raksasa teknologi modern seperti Apple, Google (Alphabet), dan Amazon sekalipun.

Kekayaan fantastis ini berasal dari monopoli absolut atas perdagangan rempah-rempah. Pala dan cengkeh saat itu bernilai lebih mahal daripada emas. Akibatnya, para pemegang saham di Amsterdam menikmati dividen super besar sambil duduk manis.

Baca Juga :  Cuaca Ekstrem Mengancam, BNPB Minta Warga Siaga Hadapi Bibit Siklon Ganda di Indonesia

Negara di Dalam Negara

VOC bukanlah perusahaan biasa yang hanya memiliki kantor dan gudang. Justru, mereka adalah “negara di dalam negara”. Pemerintah Belanda memberikan hak istimewa luar biasa bernama Hak Octrooi.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hak ini mengizinkan VOC untuk memiliki angkatan perang sendiri. Mereka membangun benteng, mencetak mata uang sendiri, dan membuat perjanjian diplomatik. Bahkan, perusahaan ini memiliki wewenang legal untuk menyatakan perang terhadap negara lain tanpa perlu izin Ratu Belanda.

Lantas, VOC menjelma menjadi mesin militer yang berorientasi profit. Mereka menggunakan meriam dan mesiu bukan untuk pertahanan, melainkan untuk memaksa petani menyerahkan hasil bumi dengan harga murah.

Sisi Gelap: Dividen di Atas Darah

Di balik kemilau emas dan deviden, tersimpan sejarah yang sangat kelam. Direksi VOC tidak mengenal ampun demi menjaga monopoli.

Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen menjadi simbol kekejaman ini. Pasalnya, ia bertanggung jawab atas Pembantaian Banda pada tahun 1621.

Baca Juga :  1.541 Personel Polisi Jaga Demo Ojol di Monas dan Kedubes AS, Lalu Lintas Terancam Lumpuh

Coen membantai hampir seluruh penduduk asli Kepulauan Banda hanya karena mereka menjual pala ke pedagang Inggris. Kemudian, ia mengganti penduduk yang tewas dengan budak-budak yang didatangkan dari wilayah lain.

Perbudakan menjadi tulang punggung operasional VOC. Bagi mereka, nyawa manusia hanyalah angka di neraca keuangan. Kemanusiaan harus minggir demi keuntungan pemegang saham.

Runtuh Karena Korupsi

Meskipun sangat perkasa, VOC akhirnya runtuh juga. Penyebabnya bukan serangan musuh, melainkan penyakit dari dalam.

Pada akhir abad ke-18, VOC bangkrut total. Ironisnya, plesetan nama VOC pun muncul menjadi “Vergaan Onder Corruptie” atau “Hancur Karena Korupsi”.

Para pejabatnya memperkaya diri sendiri lewat perdagangan ilegal. Sementara itu, biaya perang yang membengkak menguras kas perusahaan. Akhirnya, pemerintah Belanda mengambil alih aset dan utang VOC pada tahun 1799.

Pada akhirnya, VOC mewariskan dua hal bagi dunia. Sistem kapitalisme pasar saham yang menggerakkan ekonomi modern, serta peringatan abadi tentang bahaya korporasi yang memiliki kekuasaan tanpa batas.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

KPK Sita 6 Barang Elektronik Faisal Assegaf, Terkait Kasus Suap Bea Cukai
16 Mahasiswa FH UI Diduga Terlibat Pelecehan, BEM Minta Menteri Turun Tangan
Begal Anggota Damkar di Gambir Dibekuk, Ditangkap di Hotel Pluit
Maling Motor Bersenpi Beraksi di RSIA Duren Sawit, Sekuriti Diancam Pistol
Sabu Hampir 5 Kg dari Iran Digagalkan di Tangsel, Polisi Tangkap 2 Kurir
Polisi Senior Aniaya Junior hingga Tewas di Batam, Propam Tetapkan Bripda AS Tersangka
Bareskrim Gerebek Gudang Selundupan di Penjaringan, Ribuan HP Ilegal Disita
Tawuran Picu Kericuhan, Mobil Polisi Jadi Sasaran Lemparan Warga

Berita Terkait

Selasa, 14 April 2026 - 21:11 WIB

KPK Sita 6 Barang Elektronik Faisal Assegaf, Terkait Kasus Suap Bea Cukai

Selasa, 14 April 2026 - 20:57 WIB

16 Mahasiswa FH UI Diduga Terlibat Pelecehan, BEM Minta Menteri Turun Tangan

Selasa, 14 April 2026 - 20:33 WIB

Begal Anggota Damkar di Gambir Dibekuk, Ditangkap di Hotel Pluit

Selasa, 14 April 2026 - 20:12 WIB

Maling Motor Bersenpi Beraksi di RSIA Duren Sawit, Sekuriti Diancam Pistol

Selasa, 14 April 2026 - 20:01 WIB

Sabu Hampir 5 Kg dari Iran Digagalkan di Tangsel, Polisi Tangkap 2 Kurir

Berita Terbaru