55 Warga Ghana Tewas di Garis Depan Rusia Saat Skandal Rekrutmen Afrika Terbongkar

Minggu, 1 Maret 2026 - 20:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Teror di siang bolong. Rusia meluncurkan gelombang serangan rudal dan drone pada jam kerja guna memaksimalkan korban sipil, sementara Presiden Zelenskyy mengeklaim posisi militer Ukraina kini berada dalam kondisi terbaik dalam sepuluh bulan terakhir. Dok: Istimewa.

Teror di siang bolong. Rusia meluncurkan gelombang serangan rudal dan drone pada jam kerja guna memaksimalkan korban sipil, sementara Presiden Zelenskyy mengeklaim posisi militer Ukraina kini berada dalam kondisi terbaik dalam sepuluh bulan terakhir. Dok: Istimewa.

KYIV, POSNEWS.CO.ID – Pemerintah Ghana secara resmi menyuarakan kekhawatiran mendalam atas nasib warga negaranya yang tewas dalam perang Rusia-Ukraina. Sedikitnya 55 warga Ghana mengembuskan napas terakhir di garis depan setelah mereka “diumpan” untuk bergabung dengan militer Rusia melalui janji-janji pekerjaan yang menyesatkan.

Menteri Luar Negeri Ghana, Samuel Okudzeto Ablakwa, menyampaikan rincian memilukan tersebut setelah melakukan kunjungan resmi ke Kyiv guna membahas masalah rekrutmen warga Afrika oleh Moskow. Oleh karena itu, Ghana kini berkomitmen untuk membongkar jaringan rekrutmen ilegal yang beroperasi di wilayah hukumnya.

Skema “Umpan” dan Statistik Korban

Melalui unggahan di platform X pada Kamis (26/2/2026), Ablakwa menyatakan bahwa pihak berwenang mengidentifikasi sekitar 272 warga Ghana yang telah terjebak dalam konflik tersebut sejak 2022. Selain 55 orang yang tewas, dua warga Ghana lainnya kini berstatus sebagai tawanan perang.

Selanjutnya, Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha, mengungkapkan skala krisis yang lebih luas. Ia mencatat bahwa lebih dari 1.780 warga Afrika dari 36 negara berbeda saat ini bertempur di bawah bendera tentara Rusia. Ghana, yang memiliki ikatan ekonomi dan diplomatik dengan Rusia, berniat meningkatkan kesadaran publik guna mencegah jatuhnya korban baru. “Ini bukan perang kita, dan kita tidak bisa membiarkan pemuda kita menjadi perisai manusia bagi pihak lain,” tegas Ablakwa.

Baca Juga :  Trump Puji Kemenangan Telak Takaichi dan Siapkan Kunjungan ke Tiongkok

Investigasi di Afrika Selatan dan Skandal “Zuma”

Prahara rekrutmen ini juga menghantam Afrika Selatan. Pemerintah Pretoria mengonfirmasi kematian dua warganya di garis depan medan perang pekan ini. Kasus ini merupakan bagian dari laporan mengenai 17 warga Afrika Selatan yang petugas nilai telah “tertipu” untuk bertempur bagi Rusia.

Bahkan, kepolisian Afrika Selatan kini sedang melakukan investigasi terhadap Duduzile Zuma-Sambudla, putri mantan Presiden Jacob Zuma. Otoritas mencurigai keterlibatannya dalam aksi membujuk belasan pria Afrika Selatan untuk berangkat ke Rusia. Meskipun begitu, militer Rusia secara konsisten membantah tuduhan rekrutmen ilegal terhadap warga negara Afrika.

Baca Juga :  Runtuhnya Peradaban Pulau Paskah: Bukan Ekosida

Krisis Rekrutmen di Kenya

Kenya menghadapi tantangan yang serupa. Laporan intelijen Kenya menunjukkan bahwa lebih dari 1.000 warga negaranya telah berangkat untuk memperkuat militer Rusia. Kementerian Luar Negeri Kenya melaporkan telah berhasil menyelamatkan 27 warganya yang terdampar di Rusia setelah melarikan diri dari kamp militer.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menteri Luar Negeri Kenya, Musalia Mudavadi, menjadwalkan kunjungan ke Rusia pada Maret mendatang untuk menuntut penjelasan resmi dari pihak Moskow. Sebagai tindak lanjut, pemerintah Ghana juga memperketat pengawasan terhadap aktivitas di “dark web”. Para menteri menilai jaringan kriminal menggunakan platform tersebut untuk mengoperasikan skema rekrutmen ilegal guna menjaring pemuda yang tergiur insentif finansial di tengah kesulitan ekonomi global.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pemerintah AS Siap Kembalikan Dana Tarif $166 Miliar Pasca-Putusan Mahkamah Agung
Peter Magyar Tuntut Presiden Sulyok Mundur guna Reset Total
Operasi Ikan Sapu-Sapu DKI Jakarta Digelar Serentak Jumat Pagi, Ini 5 Lokasinya
PBB Kucurkan Dana Darurat Saat Korban Perang Iran Tembus 2.360 Jiwa
Menteri Keuangan G7 Cari Solusi atas Dampak Perang Iran
Hery Susanto Resmi Ditahan Kejagung, Terseret Kasus Korupsi Nikel Rp1,5 Miliar
Bagaimana Perang Iran Memperkokoh Hegemoni Energi Hijau Tiongkok
Bareskrim Bongkar Jaringan Narkoba via Ojol, Lab Vape Etomidate di Jaktim Digerebek

Berita Terkait

Kamis, 16 April 2026 - 18:20 WIB

Pemerintah AS Siap Kembalikan Dana Tarif $166 Miliar Pasca-Putusan Mahkamah Agung

Kamis, 16 April 2026 - 17:13 WIB

Peter Magyar Tuntut Presiden Sulyok Mundur guna Reset Total

Kamis, 16 April 2026 - 16:31 WIB

Operasi Ikan Sapu-Sapu DKI Jakarta Digelar Serentak Jumat Pagi, Ini 5 Lokasinya

Kamis, 16 April 2026 - 16:04 WIB

PBB Kucurkan Dana Darurat Saat Korban Perang Iran Tembus 2.360 Jiwa

Kamis, 16 April 2026 - 15:21 WIB

Menteri Keuangan G7 Cari Solusi atas Dampak Perang Iran

Berita Terbaru

Runtuhnya era Orban. Partai oposisi Tisza pimpinan Peter Magyar meraih kemenangan telak dalam pemilu Hungaria 2026, mengakhiri kekuasaan panjang Viktor Orban dan menjanjikan kembalinya aliansi kuat dengan Uni Eropa serta NATO. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Peter Magyar Tuntut Presiden Sulyok Mundur guna Reset Total

Kamis, 16 Apr 2026 - 17:13 WIB

Mencari kesatuan ekonomi. Para pemimpin keuangan G7 berkumpul di Washington guna menghadapi lonjakan harga energi dan gangguan rantai pasok global akibat blokade Selat Hormuz yang masih berlanjut di tahun 2026. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Menteri Keuangan G7 Cari Solusi atas Dampak Perang Iran

Kamis, 16 Apr 2026 - 15:21 WIB