Mahkamah Agung Kebanjiran Perkara, 38.147 Kasus Ditangani Sepanjang 2025

Selasa, 30 Desember 2025 - 16:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gedung Mahkamah Agung. (Posnews/Humas MA)

Gedung Mahkamah Agung. (Posnews/Humas MA)

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Mahkamah Agung (MA) kebanjiran perkara sepanjang 2025. Total 38.147 perkara masuk dan ditangani hingga akhir tahun. Angka ini melonjak tajam dibandingkan tahun sebelumnya.

Ketua MA Sunarto mengungkapkan, data tersebut telah diperbarui hingga 29 Desember 2025. Sementara itu, majelis hakim masih terus bekerja memeriksa perkara sampai 31 Desember 2025.

“Beban perkara MA tahun 2025 mencapai 38.147 perkara, terdiri dari 37.917 perkara baru dan sisa 230 perkara dari 2024,” ujar Sunarto saat refleksi akhir tahun di Balairung MA, Jakarta, Selasa (30/12/2025).

Baca Juga :  KPK Periksa 11 Saksi Pemerasan Oknum Kejari HSU, Pemeriksaan Digelar di Polda Kalsel

Lonjakan perkara tak main-main. Sunarto menyebut, beban perkara naik 22,61 persen dibandingkan 2024 yang tercatat 31.112 perkara. Namun, MA tetap tancap gas.

Hasilnya, 37.865 perkara berhasil diputus sepanjang 2025. Rasio produktivitas pun nyaris sempurna, tembus 99,26 persen.

Tak hanya itu, jumlah perkara yang diputus juga melonjak 22,5 persen dibandingkan tahun lalu yang hanya 30.908 perkara.

Baca Juga :  Kasus Ijazah Jokowi Memanas, Roy Suryo Minta Uji Forensik Ulang oleh BRIN atau UI

MA juga mencatat kinerja cepat dalam minutasi putusan. Sepanjang 2025, MA mengirimkan 38.501 salinan putusan ke pengadilan pengaju, naik 17,33 persen dari tahun sebelumnya.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Dari 35.373 perkara yang diselesaikan, 96,52 persen rampung tepat waktu, kurang dari tiga bulan sejak diputus,” tegas Sunarto.

Capaian tersebut membuat Mahkamah Agung konsisten menjaga ketepatan waktu minutasi di atas 90 persen sejak 2023, meski beban perkara terus melonjak.

Penulis : Hadwan

Editor : Hadwan

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kyoto Pertimbangkan Bangun Gedung 60 Meter dekat Stasiun
Update Arus Balik Lebaran 2026, 186 Ribu Kendaraan Serbu Jabodetabek
Membongkar Bias Gender dalam Studi Keamanan Global
Tantangan Ekonomi Perempuan dalam Ekonomi Gig
Membedah Ekofeminisme dan Krisis Ekologi Global
Mengapa Interseksionalitas Menjadi Kunci Keadilan Sosial
Gembong Narkoba Dewi Astutik Segera Dilimpahkan ke Kejaksaan, Otak Kasus 2 Ton Sabu
Final FIFA Series 2026: Lawan Bulgaria di GBK, Ujian Sesungguhnya Garuda

Berita Terkait

Minggu, 29 Maret 2026 - 18:00 WIB

Kyoto Pertimbangkan Bangun Gedung 60 Meter dekat Stasiun

Minggu, 29 Maret 2026 - 17:56 WIB

Update Arus Balik Lebaran 2026, 186 Ribu Kendaraan Serbu Jabodetabek

Minggu, 29 Maret 2026 - 17:30 WIB

Membongkar Bias Gender dalam Studi Keamanan Global

Minggu, 29 Maret 2026 - 17:00 WIB

Tantangan Ekonomi Perempuan dalam Ekonomi Gig

Minggu, 29 Maret 2026 - 16:30 WIB

Membedah Ekofeminisme dan Krisis Ekologi Global

Berita Terbaru

Ilustrasi, Modernisasi vs Tradisi. Kyoto mengkaji rencana pelonggaran batas tinggi bangunan dari 31 meter menjadi 60 meter guna menarik investasi, memicu perdebatan mengenai identitas visual ibu kota kuno Jepang tersebut. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Kyoto Pertimbangkan Bangun Gedung 60 Meter dekat Stasiun

Minggu, 29 Mar 2026 - 18:00 WIB

Membongkar narasi perang. Perspektif Keamanan Kritis mengungkap bagaimana konstruksi maskulinitas militeristik mendominasi kebijakan luar negeri dan sering kali mengabaikan kerentanan nyata perempuan di wilayah konflik. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Membongkar Bias Gender dalam Studi Keamanan Global

Minggu, 29 Mar 2026 - 17:30 WIB

Ilustrasi, Ekonomi Gig menjanjikan kebebasan

INTERNASIONAL

Tantangan Ekonomi Perempuan dalam Ekonomi Gig

Minggu, 29 Mar 2026 - 17:00 WIB

Melawan logika dominasi. Ekofeminisme mengungkap bahwa pemulihan bumi mustahil tercapai tanpa meruntuhkan struktur patriarki yang mengeksploitasi perempuan dan alam secara bersamaan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Membedah Ekofeminisme dan Krisis Ekologi Global

Minggu, 29 Mar 2026 - 16:30 WIB