Krisis Senyap Dunia Medis: Antibiotik Kehilangan Taji

Kamis, 1 Januari 2026 - 17:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Bukan hanya kanker atau jantung, ancaman terbesar kesehatan global kini datang dari bakteri yang kebal obat akibat ulah manusia sendiri. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Bukan hanya kanker atau jantung, ancaman terbesar kesehatan global kini datang dari bakteri yang kebal obat akibat ulah manusia sendiri. Dok: Istimewa.

Istilah “antibiotik” pertama kali dicetuskan oleh Selman Waksman untuk menggambarkan zat pembunuh bakteri dari makhluk hidup. Kini, istilah itu mencakup antimikroba sintetis yang menjadi tulang punggung pengobatan modern. Namun, senjata andalan dunia medis ini mulai tumpul.

Penyalahgunaan antibiotik telah memicu evolusi bakteri menjadi kebal atau resisten, mirip dengan hama serangga yang kebal pestisida. Dr. Iain Nicholson menjelaskan mekanisme mengerikan di balik fenomena ini.

“Konsep seleksi genetik menuntut kita membunuh bakteri hingga mendekati 100 persen untuk menghindari seleksi resistensi,” ujar Nicholson. Jika sebagian kecil bakteri selamat dari pengobatan dan berkembang biak, populasi baru ini akan jauh lebih tangguh daripada nenek moyangnya karena mereka adalah keturunan dari penyintas yang kuat.

Balapan yang Hampir Kalah

Di rumah sakit negara maju maupun berkembang, tingkat resistensi antibiotik kini mencapai titik nadir. Antibiotik murah yang biasa kita andalkan kini nyaris tidak berguna melawan infeksi umum. Dokter terpaksa meresepkan senyawa baru yang lebih mahal, yang ironisnya, juga memicu resistensi baru.

Juru bicara perusahaan farmasi, Emma Thompson, menggambarkan situasi ini sebagai perlombaan tanpa akhir. “Kami berlomba menemukan antibiotik baru agar manusia tidak kalah dalam pertempuran melawan infeksi. Ketakutannya adalah kita akhirnya gagal mengimbangi laju ini, dan manusia kembali menghadapi ancaman infeksi bakteri yang mematikan,” jelasnya.

Baca Juga :  Saudara Kandung Memiliki Kepribadian yang Bertolak Belakang?

Sebagai contoh nyata, Staphylococcus aureus yang pada tahun 1940-an mudah takluk oleh penisilin, kini hampir seluruh variannya kebal. Bakteri ini bahkan mampu mentransfer gen kebal tersebut ke bakteri lain yang belum pernah terpapar obat, memperluas jaringan pasukan “superbug”.

Kesalahan Fatal dalam Konsumsi

Manusia mempercepat evolusi alami ini secara drastis lewat perilaku sembrono. Pejabat kesehatan pemerintah, Georgina Haynes, menyoroti kesalahan umum di masyarakat: menggunakan antibiotik untuk penyakit virus seperti flu biasa, atau menjadikannya pencegahan (profilaksis) alih-alih pengobatan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Alexander Fleming, penemu penisilin, jauh-jauh hari telah memperingatkan komunitas ilmiah. “Pemberian dosis yang terlalu kecil justru melahirkan strain bakteri yang resisten,” ujarnya. Sayangnya, peringatan ini sering terabaikan.

Di banyak negara berkembang, terutama di Asia, apotek kerap menjual antibiotik secara eceran sesuai isi dompet pasien—kadang hanya dua atau tiga butir. Dosis “nanggung” ini gagal membunuh infeksi dan malah melatih bakteri menjadi lebih kuat.

Tantangan Iklim dan Pemalsuan Obat

Masalah lain muncul dari benua Afrika. Laporan terbaru menunjukkan wadah obat di sana terkadang hanya mengandung separuh dari kadar seharusnya. Pedagang grosir farmasi, Chenbo Okonkwa, menyebut faktor pemadaman listrik dan cuaca tropis sebagai biang keladi degradasi obat.

Baca Juga :  Mediasi Lisa Mariana dan Ridwan Kamil Digelar Bareskrim Polri

“Meski aturan mewajibkan penyimpanan di ruang ber-AC, gudang sering kali gagal menjaga suhu dingin akibat listrik mati. Terlebih lagi, pedagang ilegal jarang peduli pada panduan penyimpanan resmi,” ungkap Okonkwa.

Bahaya dari Piring Makan Kita

Ancaman tidak hanya datang dari apotek, tapi juga dari industri pangan. Penggunaan antibiotik pada hewan ternak dan budidaya ikan menyumbang besar pada munculnya bakteri resisten yang kemudian mencemari makanan manusia.

Petambak ikan, Jo Hardwick, menceritakan praktik masa lalu di industri perikanan di mana ribuan ikan berdesakan dalam satu keramba. Kondisi stres ini memicu penyakit ginjal seperti furunkulosis. Dahulu, petambak mencampur antibiotik ke pakan ikan. Sayangnya, ikan yang sakit tidak nafsu makan, sehingga sisa obat mengendap di dasar air dan menyebar ke lingkungan laut.

“Hari ini, vaksin mulai menggantikan pelet antibiotik, namun sayangnya, sebagian besar kerusakan lingkungan sudah telanjur terjadi,” aku Hardwick.

Kesimpulan: Mengubah Perilaku atau Punah

Masyarakat harus mengubah pendekatan mereka terhadap penggunaan antibiotik secara radikal. Bakteri resisten pada hewan ternak menjadi waduk patogen yang sewaktu-waktu bisa menyerang manusia. Jika kita tidak ingin kembali ke masa kelam di mana goresan luka kecil bisa membunuh, penggunaan antibiotik secara bijak adalah harga mati.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Banjir 2 Meter Kepung Kebon Pala, Ditpolairud Polda Metro Jaya Evakuasi Warga
Ke Mana Perginya Kanguru 3 Meter dan Kadal Sebesar Gajah?
Pengacara Pastikan Yaqut Cholil Qoumas Hadiri Pemeriksaan KPK Hari Ini
Rumah Mewah di Jaksel Terbakar, Lansia 60 Tahun Tewas Terjebak Api
Migran Bayar Mahal Demi Kecap dari Kampung Halaman?
Perlombaan Baru Miliarder Menuju Nol Gravitasi dan Koloni Mars
Kasus Kuota Haji Memanas, KPK Panggil Eks Menag Yaqut Hari Ini
Pembicaraan Teknis Greenland dengan AS Dimulai, Tensi Mereda

Berita Terkait

Jumat, 30 Januari 2026 - 14:04 WIB

Banjir 2 Meter Kepung Kebon Pala, Ditpolairud Polda Metro Jaya Evakuasi Warga

Jumat, 30 Januari 2026 - 13:17 WIB

Ke Mana Perginya Kanguru 3 Meter dan Kadal Sebesar Gajah?

Jumat, 30 Januari 2026 - 12:58 WIB

Pengacara Pastikan Yaqut Cholil Qoumas Hadiri Pemeriksaan KPK Hari Ini

Jumat, 30 Januari 2026 - 12:34 WIB

Rumah Mewah di Jaksel Terbakar, Lansia 60 Tahun Tewas Terjebak Api

Jumat, 30 Januari 2026 - 12:11 WIB

Migran Bayar Mahal Demi Kecap dari Kampung Halaman?

Berita Terbaru

Ilustrasi, Australia pernah menjadi

INTERNASIONAL

Ke Mana Perginya Kanguru 3 Meter dan Kadal Sebesar Gajah?

Jumat, 30 Jan 2026 - 13:17 WIB

Ilustrasi, Riset membuktikan: loyalitas pada merek masa kecil bertahan hingga 50 tahun. Migran di AS dan India lebih memilih produk mahal dari daerah asal daripada alternatif lokal yang murah. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Migran Bayar Mahal Demi Kecap dari Kampung Halaman?

Jumat, 30 Jan 2026 - 12:11 WIB