Trump Klaim Venezuela Serahkan Minyak Senilai $2 Miliar ke AS

Rabu, 7 Januari 2026 - 17:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Konfrontasi di pengadilan New York. Seorang hakim federal mempertanyakan kedaulatan sanksi AS yang menghalangi Nicolás Maduro menggunakan dana negara. Dok: Istimewa.

Konfrontasi di pengadilan New York. Seorang hakim federal mempertanyakan kedaulatan sanksi AS yang menghalangi Nicolás Maduro menggunakan dana negara. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Donald Trump kembali membuat kejutan besar dalam saga geopolitik Amerika Latin. Pada hari Selasa, Presiden Amerika Serikat itu mengumumkan bahwa Venezuela akan “menyerahkan” minyak mentah senilai $2 miliar kepada AS. Kesepakatan ini menjadi sinyal kuat bahwa tekanan Washington mulai memaksa Caracas bertekuk lutut, bahkan dengan risiko mengorbankan hubungan lamanya dengan China.

Dalam sebuah unggahan daring yang penuh percaya diri, Trump menjelaskan mekanisme kontrol dana tersebut. “Minyak ini akan dijual pada Harga Pasar, dan uang itu akan dikendalikan oleh saya, sebagai Presiden Amerika Serikat, untuk memastikan uang itu digunakan demi keuntungan rakyat Venezuela dan Amerika Serikat!” tulisnya.

Memutus Nadi China

Langkah ini bukan sekadar transaksi ekonomi, melainkan manuver strategis yang memukul dua burung dengan satu batu. Pertama, AS mendapatkan akses langsung ke cadangan minyak raksasa Venezuela. Kedua, kesepakatan ini secara efektif mengalihkan pasokan yang seharusnya menuju ke China.

Selama dekade terakhir, China menjadi pembeli utama minyak Venezuela, terutama sejak AS menjatuhkan sanksi keras pada 2020. Namun, sumber Reuters menyebutkan bahwa untuk memenuhi kuota AS ini, kargo yang awalnya bertujuan ke Beijing mungkin harus berputar arah ke pelabuhan-pelabuhan Amerika. Menteri Energi AS, Chris Wright, kabarnya memegang komando langsung atas eksekusi pengiriman ini.

Delcy Rodríguez: Melawan atau Menyerah?

Situasi di Caracas tampak semakin paradoks. Kesepakatan minyak ini muncul hanya beberapa jam setelah Presiden Interim Delcy Rodríguez mengeraskan nada bicaranya di televisi nasional. Ia membantah keras klaim Trump bahwa AS akan “menjalankan” Venezuela pasca-penangkapan Maduro.

“Tidak ada agen eksternal yang memerintah Venezuela,” tegas Rodríguez dalam pidato yang disiarkan televisi. Ia kembali menggunakan bahasa keras, menyebut operasi militer AS sabtu lalu sebagai “agresi militer yang mengerikan” dan “penculikan”. Ia bahkan menetapkan tujuh hari berkabung nasional untuk anggota militer yang tewas.

Baca Juga :  Ottawa Ancam Regulasi Ketat Jika OpenAI Gagal Tingkatkan Protokol Keamanan

Akan tetapi, realitas di lapangan berbicara lain. Kesepakatan penyerahan minyak ini menjadi indikasi kuat bahwa di balik layar, pemerintahan Rodríguez merespons tuntutan Trump: buka akses bagi perusahaan minyak AS atau hadapi intervensi militer lanjutan.

Blokade dan Tanker yang Tertahan

Venezuela memiliki jutaan barel minyak yang tertahan di kapal tanker dan tangki penyimpanan akibat blokade ketat Trump. Sanksi telah membekukan rekening bank PDVSA dan memblokir transaksi dolar, membuat negara itu tercekik secara finansial.

Saat ini, Chevron adalah satu-satunya perusahaan yang memuat dan mengirimkan minyak mentah Venezuela ke AS tanpa henti di bawah otorisasi khusus, dengan volume antara 100.000 hingga 150.000 barel per hari. Pengumuman Trump ini diprediksi akan meningkatkan volume tersebut secara drastis, yang langsung direspons pasar dengan jatuhnya harga minyak mentah AS lebih dari 1,5%.

Apakah Venezuela akan melihat sepeser pun dari “uang yang dikontrol Trump” tersebut? Itu masih menjadi tanda tanya besar di tengah ketidakpastian transisi kekuasaan ini.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Donald Trump Bentuk AI Force dan Tolak Pembatasan AI
Pengamat Oposisi Pingsan Saat Polisi Lakukan Penangkapan
Denmark Tegaskan Kedaulatan Usai Trump Klaim Kontrol
Houthi Serang Situs di Riyadh dan Fasilitas Aramco di Yanbu
Korea Utara Tembakkan Rudal Balistik ke Arah Laut Jepang
AS Setujui Penjualan Jet Tempur F-35 ke Arab Saudi
Hakim AS Larang Pembongkaran Gedung Kennedy Center
Milisi Houthi Kuasai Jalur Maritim Utama Yaman

Berita Terkait

Minggu, 20 September 2026 - 21:58 WIB

Donald Trump Bentuk AI Force dan Tolak Pembatasan AI

Minggu, 20 September 2026 - 20:55 WIB

Pengamat Oposisi Pingsan Saat Polisi Lakukan Penangkapan

Minggu, 20 September 2026 - 20:30 WIB

Denmark Tegaskan Kedaulatan Usai Trump Klaim Kontrol

Minggu, 20 September 2026 - 18:42 WIB

Korea Utara Tembakkan Rudal Balistik ke Arah Laut Jepang

Sabtu, 19 September 2026 - 11:04 WIB

AS Setujui Penjualan Jet Tempur F-35 ke Arab Saudi

Berita Terbaru

Donald Trump mengumumkan pembentukan AI Force untuk mendukung industri AI AS. Simak rincian kebijakan baru dan kontroversi pusat data AI. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Donald Trump Bentuk AI Force dan Tolak Pembatasan AI

Minggu, 20 Sep 2026 - 21:58 WIB

Polisi Rusia menangkap pengamat pemilu Partai Yabloko hingga pingsan di St. Petersburg. Simak rincian insiden dan dugaan pelanggaran pemilu Duma. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Pengamat Oposisi Pingsan Saat Polisi Lakukan Penangkapan

Minggu, 20 Sep 2026 - 20:55 WIB

Denmark dan Greenland menegaskan kedaulatan wilayah usai Donald Trump mengklaim kontrol militer permanen di Arktik. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Denmark Tegaskan Kedaulatan Usai Trump Klaim Kontrol

Minggu, 20 Sep 2026 - 20:30 WIB