JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Bagaimana cara Anda memulai tahun akan menentukan nasib Anda ke depan. Di tengah gempuran berita tentang ekonomi yang merosot dan tekanan hidup yang meningkat, mempertahankan pandangan “merah jambu” mungkin terdengar naif atau bahkan delusif.
Namun, sains justru berkata sebaliknya. Brice Pitt, profesor emeritus psikiatri di Imperial College London, memperkenalkan kita pada “paradoks optimisme”.
“Optimis itu tidak realistis,” ujarnya. Orang yang depresi cenderung melihat dunia apa adanya dengan akurasi brutal, tetapi realisme itu justru merugikan secara evolusioner. Sebaliknya, optimisme adalah perlengkapan evolusi yang telah membawa manusia melewati ribuan tahun kemunduran. Jika Anda bisa meyakinkan diri bahwa segalanya akan membaik, peluang keberhasilan meningkat—semata-mata karena Anda terus bermain dan tidak menyerah.
Resep Panjang Umur 7 Tahun
Bukti medis mendukung kekuatan pikiran ini. Dr. Becca Levy, psikolog Universitas Yale, menemukan dalam studinya terhadap 660 sukarelawan bahwa berpikir positif dapat menambah rata-rata 7 tahun usia harapan hidup.
Lebih lanjut, riset Harvard Medical School terhadap 670 pria menemukan mekanisme fisik di baliknya: kaum optimis memiliki fungsi paru-paru yang jauh lebih baik. Dr. Rosalind Wright meyakini bahwa sikap mental positif memperkuat sistem kekebalan tubuh, yang pada gilirannya menurunkan risiko kematian.
Menariknya, dampak ini juga berlaku pada dompet Anda. Chad Wallens dari Henley Centre menemukan bahwa perasaan “kaya” atau “miskin” di kalangan kelas menengah Inggris sering kali tidak berhubungan dengan jumlah uang di bank, melainkan pola pikir dan sikap mereka terhadap uang itu sendiri.
Sisi Gelap: Optimisme yang Mematikan
Meskipun demikian, optimisme buta memiliki bahaya tersendiri. American Psychological Association (APA) menyoroti “optimisme yang tidak realistis”, contohnya pada perokok.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Banyak perokok meremehkan risiko kanker paru-paru, bersembunyi di balik mitos bahwa “merokok beberapa tahun tidak berbahaya” atau “semua tergantung genetik”. Akibatnya, optimisme yang salah tempat ini justru menjadi tiket menuju bencana kesehatan karena mengabaikan fakta objektif.
Resiliensi: Seni “Membal” dari Lantai
Jika optimisme adalah tameng, maka resiliensi (ketahanan) adalah ototnya. APA mendefinisikan resiliensi sebagai kemampuan beradaptasi saat menghadapi trauma atau tragedi. Riset terhadap para taipan bisnis menunjukkan bahwa jalan menuju sukses sering kali penuh dengan kebangkrutan dan pemecatan.
Kuncinya, mereka tidak meringkuk di bawah meja. Mereka bangkit, belajar dari kegagalan, dan melangkah maju.
Sosiolog Steven Stack mengungkapkan fakta mengejutkan dalam Journal of Social Psychology. Salah satu cara ampuh memperoleh resiliensi ternyata melalui masa kecil yang sulit. Misalnya, pria bertubuh pendek memiliki tingkat bunuh diri lebih rendah dibanding pria tinggi. Mengapa? Karena sejak kecil mereka terlatih mengembangkan pertahanan psikologis untuk menghadapi ejekan (bullying).
Sebaliknya, mereka yang masa mudanya terlalu mulus sering kali “tergelincir” saat menghadapi masalah besar pertama di masa dewasa. Mereka rapuh karena tidak pernah mendapat “imunisasi” terhadap penderitaan.
Melatih Otot Mental
Bagi Anda yang “terhambat” oleh masa kecil yang terlalu bahagia, jangan khawatir. Resiliensi bisa kita latih melalui optimisme proaktif. Belajarlah mengambil risiko, tersenyum, dan bersikap hangat pada orang lain.
Ini adalah jalur altruistik menuju kepentingan diri sendiri. Pada akhirnya, sains mengonfirmasi pepatah lama: masa-masa sulitlah yang sering kali mengeluarkan potensi terbaik dari diri manusia.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















