Psikologi Video Game: Otak Kita Mencintai Tantangan Virtual?

Sabtu, 27 Desember 2025 - 06:04 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Bukan sekadar buang waktu! Video game adalah

Ilustrasi, Bukan sekadar buang waktu! Video game adalah "mesin belajar" yang disukai otak. Simak teori Raph Koster dan Jesper Juul tentang psikologi di balik hobi miliaran dolar ini. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Banyak orang tua atau pengamat sosial sering melabeli video game sebagai aktivitas “membuang waktu”. Anggapan ini telah melekat selama bertahun-tahun. Namun, sekelompok ahli yang terus bertambah mulai membantah pandangan kuno tersebut.

Kita tidak bisa mengabaikan fakta kerasnya. Video game adalah medium hiburan raksasa yang menghasilkan $50 miliar per tahun di seluruh dunia.

Para desainer dan teoritikus kini menggunakan kacamata psikologi dan sosiologi. Ternyata, kecintaan kita pada game menyingkap hasrat dan motivasi dasar manusia yang mendalam.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Guru” yang Menyenangkan bagi Otak

Peneliti game terkemuka, Jesper Juul, mencatat perubahan radikal dalam pandangan industri. Dulu, desain game dianggap sebagai seni aneh yang tak bisa diajarkan. Kini, bidang ini diakui secara akademis di universitas seluruh dunia.

Mengapa game begitu memikat? Raph Koster, perancang game fantasi multiplayer, menawarkan jawaban menarik. Menurutnya, game menjadi menyenangkan karena mereka mengajarkan kita lewat sistem dan teka-teki. Cara ini sangat sesuai dengan preferensi alami otak manusia.

Baca Juga :  Operasi TNI di Papua: Kelompok Bersenjata Kabur ke Hutan Usai Disergap

Koster menekankan bahwa game menciptakan lingkungan belajar yang efektif. Di dunia nyata, kegagalan sering kali membawa hukuman berat. Sebaliknya, dalam game, kegagalan adalah hal yang bisa diterima, bahkan disambut baik.

Pemain bebas bereksperimen tanpa rasa takut. Contohnya, pemain belajar melompat di level awal. Lantas, mereka harus menguasai keahlian itu untuk melompati musuh di level berikutnya. Proses belajar ini terasa alami dan memuaskan.

Kontrol dan Sensasi “Terlarang”

Elemen kunci lain adalah kemampuan pemain untuk menentukan nasib (agency). Margaret Robertson, direktur perusahaan desain game di London, menyebut game memungkinkan penciptaan sistem belajar yang terkontrol dengan brilian.

“Kekuatan game adalah rasa samar ketidaksetujuan yang mengelilinginya—mereka terasa seperti sesuatu yang terlarang!” ujarnya. Sensasi ini justru memicu kegembiraan tersendiri.

Dan Pinchbeck, desainer game eksperimental, menambahkan bahwa game modern telah berevolusi jauh. Dulu, pemain hanya bereaksi terhadap peristiwa. Sekarang, game menuntut perencanaan dan pilihan strategi. Kita tidak hanya menonton, tetapi kita memegang kendali penuh atas narasi.

Sistem Hadiah dan Struktur Hollywood

Bagaimana cara game membuat kita terus menekan tombol? Rahasianya ada pada sistem hadiah (reward systems).

Baca Juga :  Bendahara Bandar Narkoba Koh Erwin Diciduk di Mataram, Polisi Buru Sosok Boy

Konsultan studio game, Ben Weedon, menjelaskan triknya. “Game yang bagus akan memberikan kejutan hadiah di tengah jalan, bukan hanya di akhir level,” katanya. Kejutan-kejutan kecil ini menjaga motivasi pemain untuk terus melakukan tugas repetitif.

Selain itu, game modern mulai mengadopsi struktur narasi tiga babak ala film Hollywood. Level pembuka biasanya dibuat pendek untuk memberikan ilusi kemajuan cepat (flattery). Kemudian, level tengah menjadi lebih luas dan menantang, menuju klimaks yang mengejutkan.

Gamifikasi: Bisnis Bernilai Miliaran Dolar

Dampak psikologis game kini meluber ke dunia nyata. Muncul konsep baru bernama “Gamifikasi”. Perusahaan menggunakan elemen game seperti skor tinggi dan poin pencapaian untuk aplikasi bisnis atau pemasaran.

Data riset menunjukkan angka fantastis. Bisnis menghabiskan lebih dari $100 juta untuk proyek gamifikasi tahun lalu. Bahkan, angka ini diprediksi meroket hingga $1,6 miliar dalam empat tahun ke depan.

Pada akhirnya, game bukanlah tren sesaat yang tidak penting. Game memenuhi kebutuhan intrinsik manusia akan belajar, kontrol, dan penghargaan. Maka, wajar jika otak kita begitu mencintainya, sadar ataupun tidak.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang
Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap
Tarumajaya Bekasi Penuhi Sampah dan Genangan, Warga Desak Dedi Mulyadi Bertindak
Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa
Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar
Kapal Mati Mesin di Perairan Pulau Pari, Gulkarmat Evakuasi 150 Penumpang
Home Industry Vape THC di Bali Terbongkar, Omzet Diduga Capai Rp300 Miliar
TPA Jatiwaringin Tangerang Terbakar 15 Hektare, BNPB: 40 Persen Api Sudah Padam

Berita Terkait

Sabtu, 18 Juli 2026 - 20:17 WIB

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang

Sabtu, 18 Juli 2026 - 19:13 WIB

Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap

Selasa, 7 Juli 2026 - 21:55 WIB

Tarumajaya Bekasi Penuhi Sampah dan Genangan, Warga Desak Dedi Mulyadi Bertindak

Senin, 6 Juli 2026 - 05:24 WIB

Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa

Minggu, 5 Juli 2026 - 20:09 WIB

Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar

Berita Terbaru

Inovasi gawai modular dua fungsi. HoverAir merilis konsep Versa yang menggabungkan kamera gimbal genggam dan drone terbang pintar dalam satu perangkat. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

HoverAir Memperkenalkan Perangkat Modular Versa

Minggu, 2 Agu 2026 - 13:00 WIB

Peta baru industri hiburan interaktif. Krisis memori RAM global, kebijakan tarif impor, serta inflasi mengakhiri era konsol gaming murah 500 dolar AS secara permanen. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Krisis Memori dan Tarif Global Dorong Harga Gawai Gaming

Minggu, 2 Agu 2026 - 12:00 WIB

Lini tayangan terlengkap bulan Agustus. Disney+ menyajikan konten bervariasi mulai dari Pokemon, tayangan spin-off Star Wars, hingga siaran langsung e-sports. Dok: Istimewa.

ENTERTAINMENT

Disney+ Merilis Lini Konten Agustus 2026 Mulai Pokemon

Minggu, 2 Agu 2026 - 11:00 WIB