TEHERAN, POSNEWS.CO.ID – Pemerintah Iran melancarkan serangan balik, bukan dengan peluru, melainkan dengan massa. Pada hari Senin, puluhan ribu pendukung pemerintah membanjiri jalan-jalan utama Teheran untuk menjawab panggilan resmi negara. Aksi ini bertujuan menunjukkan solidaritas terhadap rezim yang sedang diguncang protes ekonomi dan politik selama dua pekan terakhir.
Media pemerintah menyiarkan gambar kerumunan besar yang memadati Lapangan Enghelab di ibu kota. Bersamaan dengan itu, Menteri Luar Negeri Seyed Abbas Araghchi dengan percaya diri mendeklarasikan bahwa situasi internal kini berada “di bawah kendali total”.
Demonstrasi tandingan ini juga meletus di kota-kota lain seperti Kerman, Zahedan, dan Birjand. Bahkan, penyiar negara melabeli aksi ini sebagai “kebangkitan populer melawan terorisme Amerika-Zionis”. Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei menggambarkan pertemuan tersebut sebagai peringatan keras bagi politisi AS agar menghentikan tindakan penipuan mereka.
Tuduhan Konspirasi Asing
Sebelumnya, Araghchi bertemu dengan para diplomat asing di Teheran. Ia menuduh Amerika Serikat sengaja mengubah protes nasional menjadi kekerasan berdarah. Menurutnya, Washington melakukan ini untuk memberi alasan bagi Presiden Donald Trump melakukan intervensi militer.
“Iran siap perang, tapi juga siap untuk dialog,” tegas Araghchi. Ia bersumpah aparat keamanan akan memburu elemen asing yang mengobarkan demonstrasi. Lebih lanjut, ia mengklaim pihak berwenang memiliki bukti visual keterlibatan AS dan Israel dalam mendistribusikan senjata kepada pengunjuk rasa.
Mengenai pemadaman informasi, Araghchi menjanjikan layanan internet—yang mati total sejak Kamis—akan segera pulih.
Trump dan Opsi Militer
Di seberang samudra, Gedung Putih mengirim sinyal campuran. Presiden Trump menyatakan pada hari Minggu bahwa administrasinya sedang mempertimbangkan “opsi yang sangat kuat”, termasuk potensi aksi militer. Namun, pada hari Senin, pejabat AS menekankan bahwa Trump lebih memilih jalur diplomasi meski siap menggunakan kekuatan jika perlu.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menariknya, Trump mengklaim Iran kini sedang berusaha bernegosiasi dengan Washington pasca-ancaman pembalasan AS. Teheran belum memberikan komentar langsung terkait klaim negosiasi ini.
Perang Angka Korban Jiwa
Kabut perang informasi membuat verifikasi korban menjadi sulit. Kantor berita semi-resmi Tasnim melaporkan setidaknya 111 anggota pasukan keamanan Iran tewas. Sebaliknya, angka korban dari pihak demonstran tidak dirilis resmi. Kelompok hak asasi manusia di luar Iran memperkirakan sekitar 600 pengunjuk rasa telah tewas, sebuah angka yang mengerikan namun sulit diverifikasi secara independen.
Eropa Siapkan Sanksi Baru
Dunia internasional bereaksi keras terhadap penumpasan ini. Uni Eropa pada hari Senin menyatakan sedang mempertimbangkan sanksi tambahan.
“Kami terkejut dengan laporan korban jiwa… Kami siap mengusulkan sanksi baru yang lebih berat,” ujar juru bicara Urusan Luar Negeri UE, Anouar El Anouni. Tindakan konkret juga diambil oleh Presiden Parlemen Eropa Roberta Metsola yang melarang diplomat Iran memasuki gedung parlemen.
Sebagai respons, Kementerian Luar Negeri Iran memanggil utusan Inggris, Jerman, Prancis, dan Italia. Teheran memprotes dukungan negara-negara tersebut terhadap protes dan menyajikan “bukti video” tindakan kekerasan perusuh, mendesak Eropa menarik kembali pernyataan dukungan mereka.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















