ARACATACA, POSNEWS.CO.ID – Ketika Gabriel García Márquez wafat pada tahun 2014, dunia menundukkan kepala. Para pembaca kembali mengenang mahakaryanya tahun 1967, One Hundred Years of Solitude (Seratus Tahun Kesunyian). Novel ini tidak hanya terjual lebih dari 25 juta kopi, tetapi juga mengantarkan Márquez meraih Hadiah Nobel Sastra pada 1982.
Namun, siapa sebenarnya sosok di balik halaman-halaman ajaib itu?
Lahir pada 1927 di Aracataca, sebuah kota kecil di pesisir Karibia Kolombia, Márquez tumbuh dalam kuali peleburan budaya Spanyol, kulit hitam, dan pribumi. Di tempat terpencil seperti itu, logika dan nalar sering kali kalah oleh agama, mitos, dan takhayul.
Neneknya memegang peran kunci. Cerita-cerita hantu yang sang nenek kisahkan memengaruhi jiwa Gabriel muda secara mendalam. Tidak mengherankan jika hantu menjadi karakter sentral dalam epik sastra yang ia tulis kelak.
Keluarganya tidak kaya. Ayahnya bekerja serabutan mulai dari pegawai pos, operator telegraf, hingga apoteker untuk menghidupi dua belas anak. Márquez menghabiskan masa kecilnya dalam asuhan kakek-neneknya. Meskipun ia meninggalkan Aracataca pada usia delapan tahun, kota itu tidak pernah benar-benar meninggalkan jiwanya. Aracataca merasuk ke dalam setiap fiksi yang ia tulis.
Pena Tajam di Tengah Revolusi
Sebelum menjadi novelis, Márquez adalah jurnalis yang penuh gairah. Di Bogota, selama usia dua puluhan dan tiga puluhan, ia menyaksikan langsung “La Violencia”—periode pergolakan politik dan sosial berdarah yang menewaskan sekitar 300.000 warga Kolombia.
Hidup jurnalis tidak pernah aman. Setelah menulis artikel yang membongkar korupsi di angkatan laut Kolombia pada 1955, Márquez terpaksa melarikan diri ke Eropa. Di pengasingan Paris, ia justru kecewa. Ia menemukan bahwa budaya Eropa tidak lebih kaya dari budayanya sendiri dan merasa orang Eropa bersikap merendahkan terhadap orang Amerika Latin.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Secara politik, Márquez berdiri tegak di sayap kiri. Ia berkampanye melawan diktator Chili Jenderal Augusto Pinochet, membiayai partai politik di Venezuela, dan membela kaum revolusioner di Nikaragua. Ia bahkan menganggap Fidel Castro, Presiden Kuba, sebagai sahabat karib.
Akibat dukungannya terhadap rezim komunis Castro, Amerika Serikat melarang penulis ini menginjakkan kaki di tanah Paman Sam selama bertahun-tahun, hingga Presiden Clinton akhirnya mengundangnya pada 1995.
Membedah “Realisme Magis”
Márquez berpendapat bahwa di Amerika Latin, hal-hal yang tampak nyata di sana akan terasa fantastis di tempat lain. Ia menjadi eksponen utama genre “Realisme Magis”. Namun, apa itu sebenarnya?
Kritikus Meksiko Luis Leal pernah berkata, “Jika Anda bisa menjelaskannya, maka itu bukan Realisme Magis.”
Banyak kritikus mendefinisikannya dengan apa yang bukan merupakan genre tersebut.
- Ini bukan Fiksi Ilmiah (seperti Brave New World karya Huxley) yang membayangkan dunia baru.
- Ini bukan Fantasi (seperti Metamorphosis karya Kafka) di mana pembaca bingung apakah kejadian itu supranatural atau tidak.
- Ini bukan Surealisme yang mengeksplorasi alam mimpi.
Realisme Magis menggunakan detail dan nada karya realis, tetapi memasukkan unsur magis seolah-olah itu adalah fakta sehari-hari. Hantu dalam One Hundred Years of Solitude hadir sebagai hal yang normal, sehingga pembaca menerimanya tanpa ragu. Karakter bisa hidup selama 200 tahun tanpa ada yang heran.
Dalam karya Márquez, dunia bersifat alami sekaligus supranatural, rasional sekaligus irasional. Dualitas inilah yang memikat pembaca global.
Warisan yang Abadi
Amerika Latin memiliki sejarah panjang penaklukan, revolusi, dan kediktatoran; kelaparan dan kekacauan. Namun, pada saat yang sama, wilayah ini diberkati dengan budaya yang kaya dan orang-orang yang hangat serta emosional.
Seperti Márquez, banyak dari mereka tetap optimis secara utopis. Gabriel Garcia Márquez mungkin telah tiada, namun fiksi dan dunia magis yang ia ciptakan akan terus hidup melampaui waktu.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















