LONDON, POSNEWS.CO.ID – Selama puluhan tahun, dunia terobsesi pada satu angka: Produk Domestik Bruto (PDB). Ekonom meyakini bahwa semakin kaya sebuah negara, semakin bahagia warganya. Namun, paradigma itu kini bergeser.
Para ahli ekonomi mulai menilai negara dengan kriteria yang lebih manusiawi: seberapa layak huni kotanya? Seberapa bersih pemerintahannya? Dan yang paling penting: seberapa bahagia rakyatnya?
Di samping Indeks Pembangunan Manusia (HDI), ukuran yang lebih terfokus bernama Indeks Kebahagiaan Manusia (Human Happiness Index atau HHI) kini makin populer.
Belajar dari Bhutan
Gerakan ini tidak bermula di Wall Street, melainkan di Himalaya. Pada 2008, Bhutan mengembangkan indeks “Kebahagiaan Nasional Bruto” untuk memandu kebijakannya.
Logikanya sederhana namun revolusioner. Jika warga cemas soal kenaikan harga BBM, pemerintah mensubsidinya bukan hanya demi politik, tetapi karena warga yang bebas dari kecemasan akan lebih produktif. Presiden Prancis bahkan mengundang ekonom peraih Nobel, Amartya Sen dan Joseph Stiglitz, untuk merancang indeks serupa, langkah yang kemudian Inggris ikuti.
Paradoks Kekayaan: Denmark vs Hong Kong
Data HHI mengungkap fakta mengejutkan: Kaya belum tentu bahagia.
Ambil contoh Denmark dan Hong Kong. Warga kedua wilayah ini memiliki daya beli yang hampir identik. Namun, dalam skala 1-10, warga Hong Kong konsisten menilai kebahagiaan mereka di angka 5,5. Bandingkan dengan warga Denmark yang bertengger di angka 8.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pola serupa terlihat di Amerika Latin. Meski pendapatan mereka setara dengan negara bekas Uni Soviet seperti Ukraina, orang Latin jauh lebih sehat, panjang umur, ve ceria. Ternyata, budaya memegang peran kunci. Budaya yang lebih terbuka (extroverted) cenderung menghasilkan manusia yang lebih bahagia.
Titik Balik Usia 46
Temuan paling signifikan adalah hubungan antara usia dan kebahagiaan. Meski tubuh menua dan uang mungkin menipis, orang tua ternyata lebih stabil, tidak cemas, dan tidak mudah marah.
Konsensus global menunjukkan tingkat bunuh diri memuncak di usia awal 40-an (wanita) dan 50-an (pria). Namun, sebuah survei di 72 negara menemukan “angka ajaib”: 46 tahun. Setelah melewati usia rata-rata ini, hidup menjadi lebih mudah dan bahagia.
Mengapa? Karena setelah paruh baya, ambisi manusia menjadi realistis. Kita mulai menerima apa yang bisa dan tidak bisa kita lakukan. Kita mungkin tidak akan memenangkan Nobel Sastra, tapi juara lomba cerpen tingkat kecamatan pun sudah cukup memuaskan hati.
“Revolusi Uban”
Kabar baik ini berdampak besar pada kebijakan publik. Populasi negara maju makin menua, memicu kekhawatiran beban ekonomi.
Namun, data kebahagiaan ini menyarankan pemerintah untuk berpikir ulang. Lansia yang bahagia berpotensi lebih kapabel daripada anak muda yang stres. Hilangnya memori atau fisik yang melemah terbayar lunas oleh keceriaan mereka.
Artinya, usia pensiun bisa diperpanjang tanpa mengorbankan produktivitas. Seperti kata pepatah baru: Lebih baik bekerja dengan kolega beruban yang kompeten dan tersenyum, daripada anak muda rupawan yang menyimpan “massa ketidakpuasan” di balik wajahnya.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















