PYONGYANG, POSNEWS.CO.ID – Korea Utara kembali mengguncang stabilitas kawasan dengan memamerkan kekuatan militer terbarunya. Pemimpin tertinggi Kim Jong Un secara resmi memperkenalkan sistem peluncur roket ganda (MLRS) berukuran 600 mm yang mampu membawa hulu ledak nuklir taktis pada Kamis pagi.
Dalam pidatonya, Kim memuji sistem persenjataan tersebut sebagai mahakarya yang tidak memiliki tandingan di tingkat global. Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa roket ini sangat ideal untuk melakukan “serangan khusus” guna menuntaskan misi strategis negara. Penggunaan istilah “serangan khusus” merupakan eufemisme yang sering Pyongyang gunakan untuk merujuk pada operasi serangan nuklir.
‘Senjata Ajaib’ dan Ancaman Eksistensial bagi Seoul
Sistem MLRS 600 mm ini memiliki daya hancur yang masif dan presisi tinggi. Kim Jong Un menjuluki sistem ini sebagai “senjata yang benar-benar indah dan menarik” yang berfungsi sebagai alat pencegah bagi musuh-musuh negara.
Namun demikian, para pengamat militer menyoroti posisi geografis yang sangat rawan. Seoul, ibu kota Korea Selatan, berada kurang dari 50 kilometer dari perbatasan antar-Korea. Pasalnya, dengan jangkauan tersebut, roket nuklir terbaru ini mampu meratakan pusat pemerintahan dan ekonomi Selatan dalam hitungan menit jika konflik pecah. Kim bahkan melontarkan ancaman tajam bahwa saat senjata ini beraksi, tidak akan ada kekuatan yang mampu mengharapkan perlindungan Tuhan.
Motivasi Ekspor dan Uji Coba Presisi
Para analis menilai drive militer Tiongkok saat ini memiliki beberapa tujuan strategis. Selain itu, peningkatan pengujian rudal secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir bertujuan untuk menantang dominasi Amerika Serikat di Pasifik.
Selanjutnya, muncul spekulasi kuat bahwa Korea Utara sedang menguji kualitas alutsistanya sebelum melakukan ekspor besar-besaran ke Rusia. Melalui peningkatan kemampuan serangan presisi, Pyongyang berupaya memperkuat posisinya sebagai eksportir senjata utama bagi sekutunya di tengah ketegangan global yang meningkat.
Diplomasi Drone: Sinyal Lunak Kim Yo Jong
Di tengah pamer kekuatan militer yang agresif, muncul dinamika diplomasi yang mengejutkan dari pihak Utara. Adik perempuan Kim Jong Un yang sangat berpengaruh, Kim Yo Jong, menyatakan rasa apresiasinya terhadap sikap terbaru pemerintah Korea Selatan pada Kamis.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kim Yo Jong memuji Menteri Unifikasi Seoul, Chung Dong-young, yang secara resmi mengakui dan menyesali insiden masuknya drone pengintai ke wilayah udara Korea Utara bulan lalu. “Saya sangat menghargai keinginan Menteri Chung untuk mencegah terulangnya provokasi tersebut,” ujar Kim Yo Jong sebagaimana dikutip oleh KCNA. Langkah ini dipandang sebagai upaya deeskalasi sementara guna menjaga momentum sebelum agenda politik besar di Pyongyang dimulai.
Menatap Kongres Partai 2026
Rangkaian peresmian senjata dan manuver diplomasi ini menjadi pendahulu bagi Kongres Partai Buruh Korea yang dijadwalkan pada awal 2026. Ini merupakan pertemuan besar pertama dalam lima tahun terakhir bagi kepemimpinan Kim Jong Un.
Sebagai hasilnya, para menteri dan pejabat tinggi militer diprediksi akan merumuskan kebijakan ekonomi dan pertahanan jangka panjang yang lebih asertif. Dunia internasional kini memantau dengan cermat apakah perpaduan antara ancaman nuklir 600 mm dan diplomasi drone ini akan bermuara pada stabilitas baru atau justru eskalasi yang lebih berbahaya di Semenanjung Korea.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















