Ancaman Nuklir di Garis Depan: Kim Jong Un Pamerkan Senjata Ajaib 600mm

Kamis, 19 Februari 2026 - 12:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Foto, Kembali unjuk kekuatan. Korea Utara menembakkan sejumlah rudal ke perairan lepas pantai barat pada Selasa, menandai aktivitas militer pertama sejak bulan April dan menegaskan ambisi nuklir Pyongyang di tahun 2026. Dok: Istimewa.

Foto, Kembali unjuk kekuatan. Korea Utara menembakkan sejumlah rudal ke perairan lepas pantai barat pada Selasa, menandai aktivitas militer pertama sejak bulan April dan menegaskan ambisi nuklir Pyongyang di tahun 2026. Dok: Istimewa.

PYONGYANG, POSNEWS.CO.ID – Korea Utara kembali mengguncang stabilitas kawasan dengan memamerkan kekuatan militer terbarunya. Pemimpin tertinggi Kim Jong Un secara resmi memperkenalkan sistem peluncur roket ganda (MLRS) berukuran 600 mm yang mampu membawa hulu ledak nuklir taktis pada Kamis pagi.

Dalam pidatonya, Kim memuji sistem persenjataan tersebut sebagai mahakarya yang tidak memiliki tandingan di tingkat global. Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa roket ini sangat ideal untuk melakukan “serangan khusus” guna menuntaskan misi strategis negara. Penggunaan istilah “serangan khusus” merupakan eufemisme yang sering Pyongyang gunakan untuk merujuk pada operasi serangan nuklir.

‘Senjata Ajaib’ dan Ancaman Eksistensial bagi Seoul

Sistem MLRS 600 mm ini memiliki daya hancur yang masif dan presisi tinggi. Kim Jong Un menjuluki sistem ini sebagai “senjata yang benar-benar indah dan menarik” yang berfungsi sebagai alat pencegah bagi musuh-musuh negara.

Namun demikian, para pengamat militer menyoroti posisi geografis yang sangat rawan. Seoul, ibu kota Korea Selatan, berada kurang dari 50 kilometer dari perbatasan antar-Korea. Pasalnya, dengan jangkauan tersebut, roket nuklir terbaru ini mampu meratakan pusat pemerintahan dan ekonomi Selatan dalam hitungan menit jika konflik pecah. Kim bahkan melontarkan ancaman tajam bahwa saat senjata ini beraksi, tidak akan ada kekuatan yang mampu mengharapkan perlindungan Tuhan.

Motivasi Ekspor dan Uji Coba Presisi

Para analis menilai drive militer Tiongkok saat ini memiliki beberapa tujuan strategis. Selain itu, peningkatan pengujian rudal secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir bertujuan untuk menantang dominasi Amerika Serikat di Pasifik.

Selanjutnya, muncul spekulasi kuat bahwa Korea Utara sedang menguji kualitas alutsistanya sebelum melakukan ekspor besar-besaran ke Rusia. Melalui peningkatan kemampuan serangan presisi, Pyongyang berupaya memperkuat posisinya sebagai eksportir senjata utama bagi sekutunya di tengah ketegangan global yang meningkat.

Diplomasi Drone: Sinyal Lunak Kim Yo Jong

Di tengah pamer kekuatan militer yang agresif, muncul dinamika diplomasi yang mengejutkan dari pihak Utara. Adik perempuan Kim Jong Un yang sangat berpengaruh, Kim Yo Jong, menyatakan rasa apresiasinya terhadap sikap terbaru pemerintah Korea Selatan pada Kamis.

Baca Juga :  Trump Perpanjang Gencatan Senjata Israel-Lebanon Selama Tiga Pekan

Kim Yo Jong memuji Menteri Unifikasi Seoul, Chung Dong-young, yang secara resmi mengakui dan menyesali insiden masuknya drone pengintai ke wilayah udara Korea Utara bulan lalu. “Saya sangat menghargai keinginan Menteri Chung untuk mencegah terulangnya provokasi tersebut,” ujar Kim Yo Jong sebagaimana dikutip oleh KCNA. Langkah ini dipandang sebagai upaya deeskalasi sementara guna menjaga momentum sebelum agenda politik besar di Pyongyang dimulai.

Menatap Kongres Partai 2026

Rangkaian peresmian senjata dan manuver diplomasi ini menjadi pendahulu bagi Kongres Partai Buruh Korea yang dijadwalkan pada awal 2026. Ini merupakan pertemuan besar pertama dalam lima tahun terakhir bagi kepemimpinan Kim Jong Un.

Sebagai hasilnya, para menteri dan pejabat tinggi militer diprediksi akan merumuskan kebijakan ekonomi dan pertahanan jangka panjang yang lebih asertif. Dunia internasional kini memantau dengan cermat apakah perpaduan antara ancaman nuklir 600 mm dan diplomasi drone ini akan bermuara pada stabilitas baru atau justru eskalasi yang lebih berbahaya di Semenanjung Korea.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Israel Gempur Lebanon Selatan di Tengah Isyarat Damai
Donald Trump dan Emmanuel Macron Pererat Aliansi
Wabah Ebola Kongo Kian Mengkhawatirkan
Israel Bersiap Hadapi Pemilihan Umum Sela
Presiden Mongolia Ukhnaa Khurelsukh Sambut Menlu Tiongkok
Raksasa Teknologi Dunia Serap Mineral Milisi M23
Militer Amerika Serikat Tembak Mati Gembong Kriminal
BIGBANG Resmi Umumkan Jadwal Tur Dunia

Berita Terkait

Minggu, 14 Juni 2026 - 17:21 WIB

Israel Gempur Lebanon Selatan di Tengah Isyarat Damai

Minggu, 14 Juni 2026 - 14:03 WIB

Wabah Ebola Kongo Kian Mengkhawatirkan

Minggu, 14 Juni 2026 - 12:56 WIB

Israel Bersiap Hadapi Pemilihan Umum Sela

Minggu, 14 Juni 2026 - 11:52 WIB

Presiden Mongolia Ukhnaa Khurelsukh Sambut Menlu Tiongkok

Minggu, 14 Juni 2026 - 10:44 WIB

Raksasa Teknologi Dunia Serap Mineral Milisi M23

Berita Terbaru

Eskalasi pertempuran di perbatasan. Israel membombardir wilayah Nabatieh di Lebanon Selatan saat Amerika Serikat dan Iran sedang merancang draf perdamaian komprehensif. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Israel Gempur Lebanon Selatan di Tengah Isyarat Damai

Minggu, 14 Jun 2026 - 17:21 WIB

Kepala BPJPH Ahmad Haikal Hasan. (Posnews/BPJPH)

NASIONAL

Pelaku Usaha Diingatkan, Wajib Halal Mulai Berlaku Oktober 2026

Minggu, 14 Jun 2026 - 16:56 WIB

Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto. (Posnews/Ist)

NASIONAL

Gunakan Visa Turis untuk Cari Uang, 25 WNA Langsung Dideportasi

Minggu, 14 Jun 2026 - 16:23 WIB