JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Poliovirus merupakan organisme yang sangat kecil namun memiliki dampak yang sangat menghancurkan. Virus ini biasanya menyebar melalui kontak tangan yang kotor dan sebagian besar kasusnya terbatas pada saluran pencernaan.
Namun demikian, dalam sekitar satu persen kasus, virus ini membanjiri aliran darah dan menyerang sel saraf di sumsum tulang belakang. Kondisi ini memicu kelumpuhan khas yang menyerang anggota gerak atau otot pernapasan. Oleh karena itu, pada masa lalu, pasien sering membutuhkan alat pernapasan buatan yang legendaris, yakni “Paru-Paru Besi” (Iron Lung), untuk tetap bertahan hidup.
Teror Musim Panas dan Paru-Paru Besi
Pola penyebaran polio berubah secara drastis pada akhir abad ke-19 menjadi epidemi yang meledak setiap musim panas. Wabah besar pertama terjadi di Pantai Timur AS pada tahun 1916, yang menyebabkan 25.000 kasus kelumpuhan dan 6.000 kematian.
Akibatnya, kepanikan meluas di seluruh Amerika. Warga kaya berbondong-bondong meninggalkan kota setiap musim polio tiba. Krisis ini memicu lahirnya organisasi March of Dimes oleh Presiden Franklin D. Roosevelt, yang juga merupakan penyintas polio. Organisasi ini mengumpulkan dana besar untuk mendukung keluarga korban dan mendanai riset vaksin. Sebelum para peneliti menemukan vaksin, pasien harus menghadapi pengobatan yang berbahaya, mulai dari penyulutan punggung dengan besi panas hingga penggunaan “Paru-Paru Besi” yang memiliki tingkat kematian 70 persen akibat infeksi dada.
Rivalitas Salk vs Sabin: Perang Dua Strategi
Dunia sains mencatat persaingan sengit antara dua strategi vaksin untuk menghentikan polio:
- Jonas Salk (IPV): Menggunakan virus yang peneliti “bunuh” dengan formalin agar virus tidak lagi mampu bereplikasi. Petugas medis menyuntikkan vaksin ini ke otot dan memicu antibodi di dalam darah. Uji klinis massal pada 1954 yang melibatkan 1,8 juta anak mengukuhkan Salk sebagai pahlawan internasional.
- Albert Sabin (OPV): Menggunakan virus hidup yang telah mengalami mutasi di laboratorium agar tidak bisa menyerang saraf. Anak-anak menerima vaksin ini melalui mulut (oral) dan membangun kekebalan langsung di dinding usus, serupa dengan cara kerja virus alami.
Selanjutnya, vaksin Sabin akhirnya menggantikan vaksin Salk di banyak negara karena harganya yang lebih murah, lebih efektif, dan petugas lebih mudah mendistribusikannya secara massal. Meskipun memiliki risiko sangat rendah untuk bermutasi kembali menjadi varian yang melumpuhkan (1 berbanding 500.000), OPV tetap menjadi senjata utama dalam kampanye eradikasi global.
Ambang Eradikasi: Diplomasi Sebagai Penentu
Pada tahun 1988, berbagai organisasi meluncurkan kampanye vaksinasi global dengan ambisi meniru keberhasilan pemusnahan cacar (smallpox). Hasilnya sangat mengesankan; jumlah kasus lumpuh turun drastis dari 300.000 menjadi hanya 200 kasus tahun lalu.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Meskipun begitu, polio masih bertahan di tiga wilayah utama: Afghanistan, Pakistan, dan Nigeria Utara. Pasalnya, hambatan terbesar saat ini bukan lagi soal medis, melainkan ideologi anti-Barat. Para petugas vaksin sering menghadapi intimidasi, ancaman pembunuhan, bahkan pembunuhan secara nyata. Alhasil, pergerakan pengungsi memicu kemunculan kembali virus ini di negara-negara yang sebelumnya sudah bebas polio, seperti Suriah dan Lebanon.
Pada akhirnya, sains telah memberikan alat yang cukup untuk menghapus polio dari muka bumi. Namun, keberhasilan akhir pemusnahan virus ini tidak lagi hanya bergantung pada kedokteran, melainkan pada kemampuan diplomasi internasional untuk menjamin keamanan petugas di lapangan. Dunia kini menanti apakah kemauan politik global mampu menuntaskan bab terakhir dari sejarah penyakit yang melumpuhkan ini.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















