Jejak Kuno Sepak Bola: Evolusi dari Tradisi Tiongkok Tsu’chu Menuju Kelahiran Football Association

Minggu, 8 Maret 2026 - 15:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Lebih dari sekadar permainan abad ke-19. Sepak bola memiliki akar sejarah sedalam 3.000 tahun, bertransformasi dari hiburan kaisar di Tiongkok hingga menjadi olahraga terorganisir yang memisahkan diri dari rugby. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Lebih dari sekadar permainan abad ke-19. Sepak bola memiliki akar sejarah sedalam 3.000 tahun, bertransformasi dari hiburan kaisar di Tiongkok hingga menjadi olahraga terorganisir yang memisahkan diri dari rugby. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Masyarakat mengenal sepak bola modern dari Inggris abad ke-19. Namun, olahraga ini sebenarnya berusia jauh lebih tua. Istilah sepak bola secara historis merujuk pada permainan yang orang lakukan dengan berjalan kaki, bukan selalu menendang bola.

Catatan tertua mengenai permainan ini berasal dari daratan Tiongkok sekitar 3.000 tahun lalu. Masyarakat mengenalnya dengan nama tsu’chu. Para pemain mempertontonkan kemahiran menendang bola kulit ke jaring kecil di hadapan Kaisar saat perayaan ulang tahunnya. Aktivitas ini menuntut teknik tinggi dan akurasi yang luar biasa dari setiap pemain.

Variasi Timur Jauh dan Romawi Kuno

Negara tetangga Tiongkok juga memiliki tradisi serupa. Jepang mengembangkan kemari pada abad ke-5. Berbeda dengan versi Tiongkok, kemari bersifat lebih seremonial dan tidak kompetitif. Pemain hanya bertugas menjaga agar bola tidak menyentuh tanah dalam ruang terbatas.

Selanjutnya, bangsa Romawi memiliki versi yang lebih lincah melalui harpastum. Setiap anggota tim memiliki tugas taktis yang spesifik. Meskipun begitu, peran kaki dalam harpastum sangatlah kecil sehingga para ahli ragu menyebutnya sebagai nenek moyang langsung sepak bola modern. Permainan ini tetap populer selama delapan abad sebelum akhirnya merambah wilayah Inggris.

Baca Juga :  Akhir Drama Perbatasan: Thailand dan Kamboja Sepakati Gencatan Senjata Segera

Keganasan Sepak Bola Abad Pertengahan

Antara abad ke-8 hingga ke-19, sepak bola di Inggris berkembang dalam bentuk yang sangat liar. Permainan ini seringkali berubah menjadi pertempuran panas antar-seluruh desa.

Hampir tidak ada aturan baku dalam kontes tersebut. Pemain bahkan diperbolehkan menendang lawan. Oleh karena itu, otoritas Inggris, Skotlandia, dan Prancis sempat melarang sepak bola pada abad ke-14 dan 15. Pemerintah melabeli olahraga ini sebagai gangguan publik yang mengalihkan perhatian rakyat dari latihan militer. Namun demikian, larangan hukum tersebut terbukti tidak efektif dalam meredam antusiasme masyarakat.

Reformasi Mulcaster dan Peran Sekolah Inggris

Memasuki abad ke-16, gairah terhadap sepak bola semakin kuat akibat pengaruh permainan calcio dari Italia. Tokoh pendidikan Richard Mulcaster muncul sebagai pendukung utama. Ia menilai sepak bola memiliki nilai edukatif yang mampu meningkatkan kesehatan dan kekuatan fisik siswa.

Mulcaster mengusulkan penyempurnaan aturan, pembatasan jumlah pemain, dan penggunaan wasit. Selanjutnya, pada awal abad ke-19, sekolah-sekolah elit di Inggris mulai mengembangkan adaptasi aturan sendiri. Akibatnya, muncul budaya permainan yang mewajibkan sportivitas, loyalitas, dan kerja sama tim sebagai bagian dari kurikulum sekolah.

1863: Kelahiran FA dan Perpisahan dengan Rugby

Titik balik sejarah sepak bola terjadi di Universitas Cambridge pada tahun 1863. Para penggiat olahraga mulai menyusun standar aturan yang seragam untuk semua pihak.

Namun, terjadi perpecahan pendapat yang tajam. Kelompok dari Sekolah Rugby bersikeras ingin mempertahankan aturan membawa bola dengan tangan. Akhirnya, pada Oktober 1863, perwakilan 11 klub London bertemu untuk mendirikan Football Association (FA). Perselisihan mengenai teknik menendang dan membawa bola berakhir pada 8 Desember tahun yang sama. Kelompok pro-rugby resmi memisahkan diri, yang memicu lahirnya cabang olahraga rugby secara mandiri. Hanya dalam delapan tahun, FA telah menaungi 50 klub dan meluncurkan FA Cup sebagai kompetisi sepak bola pertama di dunia.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Aliansi Baru di Pasifik sebagai Bentuk Penyeimbang Kekuatan Tiongkok
Mengapa Negara Tak Pernah Benar-Benar Saling Percaya?
Mengapa Ambisi Pemimpin Dunia Tetap Menjadi Motor Konflik?
Pramono Anung Peringatkan Ormas Jangan Paksa Pengusaha Minta THR Jelang Lebaran 2026
Hakim Tolak Gugatan Yaqut, Status Tersangka Kasus Korupsi Kuota Haji Tetap Berlaku
Jasad Pria dengan Luka Tembak di Kepala Ditemukan di Jaksel, Polisi Selidiki Senjata Api
Kasus Suap Terbongkar, KPK Tetapkan 5 Tersangka Termasuk Bupati Rejang Lebong
Program MBG Dievaluasi, 1.512 SPPG Dihentikan Belum Punya Sertifikat Higiene

Berita Terkait

Rabu, 11 Maret 2026 - 15:26 WIB

Aliansi Baru di Pasifik sebagai Bentuk Penyeimbang Kekuatan Tiongkok

Rabu, 11 Maret 2026 - 14:20 WIB

Mengapa Negara Tak Pernah Benar-Benar Saling Percaya?

Rabu, 11 Maret 2026 - 13:19 WIB

Mengapa Ambisi Pemimpin Dunia Tetap Menjadi Motor Konflik?

Rabu, 11 Maret 2026 - 12:34 WIB

Pramono Anung Peringatkan Ormas Jangan Paksa Pengusaha Minta THR Jelang Lebaran 2026

Rabu, 11 Maret 2026 - 12:17 WIB

Hakim Tolak Gugatan Yaqut, Status Tersangka Kasus Korupsi Kuota Haji Tetap Berlaku

Berita Terbaru

Struktur adalah takdir. Melalui lensa Neo-Realisme Kenneth Waltz, kita memahami bahwa konflik dunia bukan disebabkan oleh sifat jahat manusia, melainkan oleh sistem internasional yang memaksa setiap negara untuk terus waspada demi bertahan hidup. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Mengapa Negara Tak Pernah Benar-Benar Saling Percaya?

Rabu, 11 Mar 2026 - 14:20 WIB

Politik adalah cermin manusia. Melalui kacamata Realisme Klasik Hans Morgenthau, kita memahami bahwa konflik global bukan sekadar masalah teknis diplomatik, melainkan manifestasi dari dorongan biologis manusia untuk mendominasi. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Mengapa Ambisi Pemimpin Dunia Tetap Menjadi Motor Konflik?

Rabu, 11 Mar 2026 - 13:19 WIB