WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Presiden Donald Trump menyatakan bahwa perang antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran tidak akan berakhir dalam minggu ini. Meskipun demikian, ia berulang kali menegaskan bahwa konflik berskala besar tersebut akan segera mencapai titik akhir.
Dalam keterangannya di Gedung Putih pada hari Senin, Trump menyebutkan bahwa perang tidak akan berlangsung lama. “Ini akan segera selesai,” ujar Trump kepada wartawan. Selain itu, ia mengeklaim akan segera mengumumkan daftar negara yang setuju bergabung dalam koalisi pengawalan kapal di Selat Hormuz.
Penolakan Massal dari Sekutu Eropa
Harapan Trump untuk mendapatkan dukungan militer dari sekutu dekatnya di Eropa tampaknya menemui jalan buntu. Sebaliknya, sejumlah negara Eropa dan Uni Eropa menyuarakan penolakan keras terhadap misi militer di jalur energi vital tersebut. Mereka lebih menekankan solusi diplomatik guna mencegah eskalasi yang lebih parah di Timur Tengah.
Kanselir Jerman, Friedrich Merz, secara tegas menolak keterlibatan militer Jerman untuk melindungi kapal tangker di selat tersebut. Menurutnya, NATO merupakan aliansi pertahanan dan bukan aliansi intervensi. Merz menegaskan bahwa Jerman tidak akan berpartisipasi dalam tindakan militer selama konflik masih berlangsung tanpa adanya konsep operasi yang jelas.
“Ini Bukan Perang Eropa”
Pernyataan senada juga muncul dari Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas. Setelah pertemuan di Brussel, Kallas menegaskan bahwa blok tersebut tidak memiliki keinginan untuk memperluas misi angkatan lautnya ke Selat Hormuz. “Ini bukan perang Eropa,” tegas Kallas, meski ia mengakui bahwa kepentingan ekonomi Eropa ikut terancam akibat gangguan pengiriman global.
Lebih lanjut, penolakan juga datang dari Portugal dan Italia. Menteri Luar Negeri Portugal, Paulo Rangel, menyatakan negaranya tidak akan terlibat dalam konflik ini. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Italia, Antonio Tajani, meragukan efektivitas perluasan misi perlindungan maritim saat ini ke wilayah Selat Hormuz yang sangat berisiko tinggi.
Trump Mengecam Ketidakpatuhan NATO
Sikap enggan para sekutu ini memicu kemarahan Donald Trump. Oleh karena itu, Trump kembali melontarkan kritik pedas terhadap anggota NATO. Ia mengeluhkan bahwa Amerika Serikat selalu ada untuk sekutunya, namun para sekutu justru tidak hadir saat Washington membutuhkan bantuan militer.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, mencoba mengambil jalan tengah dengan mengupayakan rencana pemulihan navigasi yang layak. Namun, ia secara jelas menggarisbawahi bahwa operasi tersebut bukanlah dan tidak akan pernah menjadi misi resmi NATO. Akibatnya, perpecahan di internal blok Barat semakin nyata saat krisis energi global terus menekan ekonomi dunia akibat guncangan harga minyak sejak perang meletus pada 28 Februari lalu.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















