WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Gedung Putih kembali diguncang oleh perombakan pejabat tinggi. Presiden Donald Trump mengumumkan melalui media sosial bahwa Jaksa Agung Pam Bondi akan segera meninggalkan jabatannya. Penunjukan Todd Blanche sebagai pelaksana tugas (Plt) menandakan dimulainya fase restrukturisasi besar-besaran di jantung pemerintahan Amerika Serikat.
Dalam konteks ini, keluarnya Bondi menandai pemecatan kedua di tingkat kabinet dalam kurun waktu sebulan. Sebelumnya, Trump telah mendepak Menteri Keamanan Dalam Negeri Kristi Noem menyusul kritik lintas partai terhadap kepemimpinannya.
Skandal Berkas Epstein: Dari Aset Menjadi Beban
Sun Taiyi, profesor ilmu politik dari Christopher Newport University, menilai pencopotan Bondi didorong oleh perhitungan politik yang mendalam. Secara khusus, Bondi menghadapi kecaman karena dianggap gagal memenuhi permintaan pengungkapan dokumen terkait kasus Jeffrey Epstein secara penuh.
“Kesalahan-kesalahan ini sangat fatal secara politik dalam kasus yang sangat sensitif,” ujar Sun. Awalnya, isu Epstein diharapkan menjadi alat untuk menyerang lawan politik. Namun, inkonsistensi data yang dirilis Bondi justru memicu pengawasan publik kembali ke koneksi masa lalu Trump sendiri. Akibatnya, apa yang seharusnya menjadi aset politik justru berubah menjadi beban yang membahayakan citra presiden di tahun 2026.
Daftar Target Berikutnya: Intelijen dan Militer
Laporan dari The Atlantic dan The Guardian menyebutkan bahwa Trump sedang mempertimbangkan pembersihan lebih lanjut. Terlebih lagi, posisi Direktur Intelijen Nasional (DNI) Tulsi Gabbard kini berada di ujung tanduk. Trump dilaporkan merasa frustrasi karena Gabbard dianggap melindungi mantan deputinya yang merusak narasi pembenaran perang terhadap Iran.
Daftar pejabat yang terancam meliputi:
- Kash Patel: Direktur FBI yang sedang dalam evaluasi kinerja.
- Tulsi Gabbard: Direktur Intelijen Nasional terkait isu loyalitas perang Iran.
- Howard Lutnick: Menteri Perdagangan yang memicu kekecewaan presiden.
- General Randy George: Kepala Staf Angkatan Darat yang didorong pensiun dini oleh Menhan Pete Hegseth di tengah konflik aktif.
Reposisi Politik Menjelang Pemilihan Sela
Perubahan personel ini harus dilihat dalam kerangka politik yang lebih luas. Meskipun Trump lebih menyukai stabilitas tim pada periode kedua ini, tekanan dari berbagai front memaksa adanya kalibrasi ulang. Dalam hal ini, tantangan kebijakan luar negeri di Iran, lonjakan inflasi domestik, serta sengketa hukum di Mahkamah Agung telah menurunkan angka kepuasan publik.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Oleh karena itu, Trump menggunakan pergantian pejabat sebagai cara untuk menegaskan kembali kendali atas aparat intelijen dan keadilan. “Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa Trump sedang melakukan ‘reset’ besar-besaran agar pemerintahannya terlihat lebih berkinerja sebelum pemilih memberikan suara di pemilihan sela November mendatang,” tambah Sun Taiyi.
Kesimpulan: Menanti Wajah Baru Washington
Masa depan arah kebijakan Amerika Serikat di sisa tahun 2026 kini bergantung pada siapa yang akan Trump pilih untuk mengisi kekosongan jabatan tersebut. Pada akhirnya, pergantian dari Bondi ke Blanche hanyalah awal dari upaya Gedung Putih untuk menyaring kembali orang-orang yang paling loyal terhadap visi strategis presiden.
Dengan demikian, dunia internasional memantau dengan cemas apakah perombakan internal ini akan membuat kebijakan luar negeri AS semakin agresif atau justru lebih terukur. Di tengah dentuman rudal di Timur Tengah dan ketidakpastian ekonomi global, kesolidan internal Washington menjadi variabel penentu bagi stabilitas tatanan dunia saat ini.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia



















