Eks-Maiko Bongkar Praktik Perbudakan dan Pelecehan

Selasa, 7 April 2026 - 12:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Runtuhnya citra keanggunan. Seorang mantan maiko mengungkap realitas mengerikan di balik tradisi geisha Kyoto, mulai dari pelecehan seksual sistemik hingga jeratan hutang puluhan juta yen. Dok: Istimewa.

Runtuhnya citra keanggunan. Seorang mantan maiko mengungkap realitas mengerikan di balik tradisi geisha Kyoto, mulai dari pelecehan seksual sistemik hingga jeratan hutang puluhan juta yen. Dok: Istimewa.

KYOTO, POSNEWS.CO.ID – Keindahan distrik geisha di Kyoto kini menghadapi sorotan tajam terkait isu hak asasi manusia. Kiyoha Kiritaka, yang meninggalkan distrik tersebut pada 2016, secara terbuka melabeli sistem tersebut sebagai bentuk perbudakan modern.

Dalam konteks ini, Kiritaka masuk ke dunia geisha saat remaja karena kecintaannya pada seni tradisional Jepang. Namun, hanya dalam waktu setahun sebagai maiko, ia merasa terjebak dalam dunia yang ia sebut sangat tidak normal.

Pelecehan Seksual dan Suasana Perjamuan

Kiritaka memulai debutnya di distrik Pontocho pada November 2015. Meskipun geisha dikenal karena hiburan yang halus, Kiritaka mengaku mengalami realitas yang jauh berbeda. Pelanggan yang mabuk sering kali melakukan kontak fisik yang menjurus ke arah seksual secara agresif.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bahkan, Kiritaka menceritakan pengalaman pahit saat pelanggan menyentuh bagian tubuhnya secara paksa melalui celah kimono. “Ada ekspektasi bahwa gadis-gadis yang tidak bisa melakukannya harus berhenti,” ujar Kiritaka. Oleh karena itu, ia terpaksa bertahan di tengah pelecehan yang berulang demi menjaga kelangsungan kariernya.

Baca Juga :  Hukum Internasional sebagai Panglima: Menegakkan Keadilan di Tengah Krisis Kemanusiaan

Kekerasan Fisik dan Jeratan Hutang 30 Juta Yen

Kiritaka menggambarkan kondisi di dalam okiya (asrama geisha) sangat menindas. Kesalahan kecil sering kali berujung pada tamparan fisik atau lemparan benda keras oleh senior. Selain itu, Kiritaka pernah mengalami penyekapan di sebuah ruangan selama delapan jam tanpa akses makanan maupun toilet.

Titik nadir terjadi saat Kiritaka memutuskan untuk keluar dari industri tersebut. Otoritas okiya mendesaknya untuk membayar “hutang” sebesar 30 juta yen ($190.000). Akibatnya, pemilik okiya sempat menawarkan seorang pelindung (patron) kepadanya untuk melunasi hutang tersebut dengan imbalan hubungan pribadi. Oleh sebab itu, para ahli hukum menilai pola ini sangat identik dengan praktik perdagangan manusia.

Bantahan Otoritas dan Gerakan Reformasi 2025

Yayasan Seni Tradisional Kyoto membantah keras seluruh pengakuan Kiritaka melalui pernyataan tertulis. Mereka mengeklaim bahwa pemerintah selalu menjelaskan adat istiadat di awal kepada individu dan orang tua. Bahkan, yayasan tersebut menegaskan bahwa larangan minuman keras bagi anak di bawah umur tetap berlaku ketat.

Baca Juga :  Buka Suara Soal Kisruh PBNU, Gus Yahya: β€œKami Tetap Hadir untuk Umat”

Meskipun demikian, keresahan ini mendorong lahirnya jaringan pengacara dan akademisi pada Juni 2025. Kelompok ini bertujuan untuk memeriksa ulang budaya distrik geisha dari kacamata hukum perburuhan modern. Sebagai hasilnya, semakin banyak maiko aktif yang mulai berani melaporkan insiden serupa kepada tim hukum tersebut.

Menanti Reformasi Budaya

Masa depan tradisi geisha kini bergantung pada kesediaan pemangku kepentingan untuk beradaptasi dengan hukum modern. Pada akhirnya, pemerintah harus memprioritaskan perlindungan terhadap anak dan hak pekerja di atas pelestarian citra pariwisata semata.

Dengan demikian, dunia internasional memantau apakah Kyoto mampu membersihkan noda perbudakan dari warisan budayanya. “Luka masa kecil tidak akan pernah sembuh sepenuhnya,” tegas Kiritaka dalam konferensi persnya. Perjuangan Kiritaka di tahun 2026 ini menjadi lonceng peringatan bagi setiap industri budaya yang masih mengabaikan martabat manusianya.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Peluncuran Konsol Retro NEOGEO AES+ Ditunda
Iran Ancam Balas Setiap Serangan Baru AS terhadap Asetnya
Ekstremisme Nihilistik Online Ancam Keamanan Eropa
Shinjuku Larang Separuh Sewa Liburan, Termasuk Properti
Tim Nepal Kian Bersemangat Cari Korban Banjir
PM Yunani Janjikan Pemangkasan Pajak dan Kenaikan Gaji
Sony Perkenalkan DualSense GTA 6 Limited Edition
AS Serang Tiga Kapal Tanker Minyak Iran usai Rudal IRGC

Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 13:30 WIB

Peluncuran Konsol Retro NEOGEO AES+ Ditunda

Rabu, 9 September 2026 - 08:03 WIB

Iran Ancam Balas Setiap Serangan Baru AS terhadap Asetnya

Rabu, 9 September 2026 - 07:00 WIB

Ekstremisme Nihilistik Online Ancam Keamanan Eropa

Rabu, 9 September 2026 - 06:00 WIB

Shinjuku Larang Separuh Sewa Liburan, Termasuk Properti

Minggu, 6 September 2026 - 18:27 WIB

Tim Nepal Kian Bersemangat Cari Korban Banjir

Berita Terbaru

 Kelangkaan komponen optical drive mengancam ketersediaan disc drive eksternal pada konsol masa depan Sony dan Microsoft. Simak dampak krisis pasokan media fisik ini. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Kelangkaan Komponen Optical Drive Ancam Masa Depan

Minggu, 13 Sep 2026 - 14:30 WIB

Peluncuran konsol retro NEOGEO AES+ ditunda hingga September 2027. Keterbatasan komponen dan tingginya pemesanan awal menjadi alasan utama penundaan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Peluncuran Konsol Retro NEOGEO AES+ Ditunda

Minggu, 13 Sep 2026 - 13:30 WIB

Ilustrasi, penganiayaan.(Posnews/Ist)

HUKRIM

Guru Renang di Depok Diduga Dipukul Ojol hingga Tabrak Tiang

Minggu, 13 Sep 2026 - 13:12 WIB

Nintendo merilis pembaruan firmware 23.0.0 untuk Switch 2. Update ini mengaktifkan fitur VRR mode docked dan mempersiapkan rilis Zelda Ocarina of Time Remake. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Nintendo Switch 2 Resmi Dapatkan Fitur VRR di Mode Docked

Minggu, 13 Sep 2026 - 12:36 WIB