Astronot Artemis II Pecahkan Rekor Jarak Terjauh Manusia dari Bumi

Selasa, 7 April 2026 - 16:06 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Langkah raksasa menuju Mars. Empat astronot misi Artemis II NASA kembali ke Bumi setelah memecahkan rekor jarak terjauh manusia di ruang angkasa, menandai suksesnya uji terbang berawak pertama menuju bulan dalam lebih dari setengah abad. Dok: Istimewa.

Langkah raksasa menuju Mars. Empat astronot misi Artemis II NASA kembali ke Bumi setelah memecahkan rekor jarak terjauh manusia di ruang angkasa, menandai suksesnya uji terbang berawak pertama menuju bulan dalam lebih dari setengah abad. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Peradaban manusia secara resmi mencatatkan rekor jarak baru di alam semesta. Empat astronot dalam misi Artemis II NASA mencapai titik terjauh dari planet Bumi pada Senin pagi waktu Eastern.

Dalam konteks ini, kapsul Orion yang mereka tumpangi kini berada di dalam pengaruh gravitasi Bulan. Langkah ini menandai kemajuan signifikan bagi diplomasi Internasional dan kedaulatan teknologi antariksa Amerika Serikat di tahun 2026.

Melampaui Warisan Apollo 13: Rekor 56 Tahun Runtuh

Kru Artemis II memulai hari keenam penerbangan mereka dengan pesan emosional dari mendiang astronot Jim Lovell. Lovell, yang wafat tahun lalu, merupakan komandan misi Apollo 13 yang memegang rekor jarak sebelumnya. “Selamat datang di lingkungan lama saya,” bunyi pesan rekaman Lovell.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebagai hasilnya, astronot Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch, dan Jeremy Hansen mencapai jarak 252.760 mil dari Bumi. Angka ini sekitar 4.105 mil (6.606 km) lebih jauh dibandingkan titik tertinggi yang Apollo 13 capai pada tahun 1970. Oleh karena itu, pencapaian ini menutup era rekor lama dan membuka babak baru eksplorasi manusia di ruang angkasa dalam.

Baca Juga :  Satgas Patroli Humanis di Puncak Jaya, Pedagang dan Tukang Ojek Merasa Lebih Aman

Sisi Jauh Bulan dan Fenomena “Earthrise” Terbalik

Selanjutnya, kru Orion akan berlayar mengelilingi sisi jauh bulan yang gelap. Mereka akan menyaksikan permukaan bulan dari ketinggian 4.000 mil. Bahkan, para astronot berkesempatan memotret fenomena langka di mana Bumi tampak terbit dan terbenam di cakrawala bulan.

Momen ini memberikan nilai ilmiah yang sangat tinggi. Meskipun demikian, fase ini memaksa kru masuk ke dalam kegelapan total dan pemutusan komunikasi sementara. Bulan akan menghalangi sinyal radio dari jaringan antena Deep Space Network milik NASA di Bumi. Selama enam jam masa terbang lintas tersebut, para astronot akan menggunakan kamera profesional guna merekam detail geologi bulan yang jarang terlihat.

Visi Strategis: Bulan sebagai Batu Loncatan ke Mars

Misi Artemis II merupakan puncak dari investasi bernilai miliaran dolar. Dalam hal ini, Amerika Serikat menargetkan kepulangan astronot ke permukaan bulan pada tahun 2028. Target ini menjadi sangat krusial guna mengungguli ambisi serupa dari Tiongkok.

Baca Juga :  Thomas Young: Pria Terakhir yang Tahu Segalanya

Terlebih lagi, Washington berencana membangun pangkalan permanen di bulan dalam dekade mendatang. Fasilitas tersebut akan berfungsi sebagai lokasi pengujian teknologi bagi misi masa depan menuju Mars. Secara simultan, tim ilmuwan di Johnson Space Center Houston terus memantau data yang kru kirimkan secara real-time guna memastikan keamanan operasional jangka panjang.

Kesimpulan: Menanti Kepulangan Sang Pelopor

Masa depan eksplorasi luar angkasa kini bergantung pada keberhasilan pendaratan kru Artemis II di Bumi pekan depan. Pada akhirnya, keberhasilan mencapai titik terjauh ini membuktikan ketangguhan sistem navigasi dan perlindungan radiasi Orion.

Dengan demikian, dunia kini memandang bulan bukan lagi sebagai objek observasi, melainkan sebagai wilayah kedaulatan baru bagi peradaban manusia. Keberhasilan misi ini di tahun 2026 akan menentukan seberapa cepat manusia mampu menetap di luar angkasa dan menjawab tantangan eksistensial di luar planet Bumi.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Wabah Ebola Kongo Meluas: WHO Peringatkan Bahaya
Anthropic Raih Skor Tertinggi di Tengah Ancaman Eksistensial
Gempuran Drone Ukraina Paksa Kilang Minyak Rusia Setop
Nigel Farage Mundur dari Parlemen Inggris
AS Gempur Sasaran Militer Iran Pasca-Serangan Kapal Tanker
Trump Tuntut Kendali Greenland dan Cabut Sanksi Turki
Korban Gempa Venezuela Bertahan Hidup di Bawah Reruntuhan
Rusia Gempur Kyiv dengan Rudal Balistik

Berita Terkait

Rabu, 8 Juli 2026 - 18:48 WIB

Wabah Ebola Kongo Meluas: WHO Peringatkan Bahaya

Rabu, 8 Juli 2026 - 14:04 WIB

Gempuran Drone Ukraina Paksa Kilang Minyak Rusia Setop

Rabu, 8 Juli 2026 - 13:56 WIB

Nigel Farage Mundur dari Parlemen Inggris

Rabu, 8 Juli 2026 - 12:38 WIB

AS Gempur Sasaran Militer Iran Pasca-Serangan Kapal Tanker

Rabu, 8 Juli 2026 - 11:31 WIB

Trump Tuntut Kendali Greenland dan Cabut Sanksi Turki

Berita Terbaru

Hambatan di tengah krisis kesehatan. Warga di kamp pengungsian Kpangba mengusir petugas medis yang berupaya melacak kontak erat korban meninggal akibat Ebola. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Wabah Ebola Kongo Meluas: WHO Peringatkan Bahaya

Rabu, 8 Jul 2026 - 18:48 WIB