Rumah Saksi Dibakar, KPK Usut Intimidasi di Kasus Suap Bupati Bekasi Ade Kuswara

Rabu, 8 April 2026 - 15:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KPK mengungkap dugaan ijon proyek yang menyeret Bupati Bekasi Ade Kuswara Kunang. Dok: Posnews/KPK

KPK mengungkap dugaan ijon proyek yang menyeret Bupati Bekasi Ade Kuswara Kunang. Dok: Posnews/KPK

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Teror mengerikan muncul dalam pusaran kasus korupsi proyek di Bekasi.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkap dugaan intimidasi brutal terhadap saksi kunci, bahkan hingga rumahnya diduga dibakar.

Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, menegaskan pihaknya menerima laporan serius terkait ancaman terhadap saksi dalam perkara suap proyek yang menjerat Ade Kuswara Kunang.

“Benar, dalam perkara suap ijon proyek Bekasi, kami menerima informasi adanya intimidasi terhadap salah satu saksi oleh pihak tertentu,” tegas Budi, Rabu (8/4/2026).

Tak main-main, bentuk teror yang diterima saksi diduga sudah masuk kategori ekstrem. Berdasarkan informasi yang dihimpun KPK, rumah saksi tersebut bahkan dibakar oleh pelaku yang hingga kini masih misterius.

Baca Juga :  Pemprov DKI Jakarta Segera Perbaiki Fasilitas Umum Rusak Akibat Aksi Unjuk Rasa

“Informasi yang kami peroleh, rumah saksi itu sampai diduga dibakar,” lanjutnya.

Meski begitu, KPK belum mengungkap identitas saksi maupun pihak yang diduga berada di balik aksi teror tersebut. Namun demikian, lembaga antirasuah memastikan tidak tinggal diam.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebagai langkah cepat, KPK langsung berkoordinasi dengan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) guna memberikan perlindungan maksimal kepada saksi.

“Kami sudah koordinasikan agar saksi mendapat perlindungan dari LPSK,” ujar Budi.

Di sisi lain, kasus ini sendiri terus bergulir panas. KPK telah menetapkan Ade Kuswara Kunang sebagai tersangka suap izin proyek bersama ayahnya HM Kunang (HMK) serta pihak swasta SRJ sebagai pemberi suap.

Baca Juga :  Panglima TNI Agus Subiyanto Kirim Pasukan Garuda Merah Putih-II ke Gaza Palestina

Penyidik menduga praktik “ijon proyek” ini melibatkan aliran dana besar demi meloloskan perizinan proyek tertentu di Kabupaten Bekasi.

Atas perbuatannya, para tersangka dijerat pasal berlapis dalam Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi.

KPK menegaskan akan mengusut tuntas perkara ini, termasuk memburu pelaku intimidasi yang mencoba menghalangi proses hukum.

“Kami tidak akan mentolerir segala bentuk tekanan terhadap saksi. Proses hukum harus berjalan tanpa intervensi,” tegas KPK.

Kasus ini menjadi alarm keras bahwa praktik korupsi tak hanya merugikan negara, tetapi juga membuka ruang teror terhadap pihak-pihak yang berani bersuara. (red)

Editor : Hadwan

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mengapa Kita Memilih Pemimpin yang Kita Sukai?
Teror Air Keras Aktivis Andrie Yunus, Bukti Keterlibatan Sipil Mulai Terkuak
Memahami Gejala Regresi Politik di Berbagai Belahan Dunia
Ngeri! Anak di Lahat Mutilasi Ibu Kandung, Jasad Dikubur dalam 3 Karung
Sistem Pemilu Dunia: Mana yang Paling Representatif untuk Demokrasi Kita?
Selandia Baru Siaga Satu: Siklon Vaianu Ancam Pulau Utara dengan Angin Mematikan
Hakim AS Sebut Rencana Pemerintah Terhadap Kilmar Ábrego
Konflik Uang Berujung Maut, Ayah Tewas Dibantai Anak Kandung Saat Tidur

Berita Terkait

Rabu, 8 April 2026 - 19:29 WIB

Mengapa Kita Memilih Pemimpin yang Kita Sukai?

Rabu, 8 April 2026 - 18:50 WIB

Teror Air Keras Aktivis Andrie Yunus, Bukti Keterlibatan Sipil Mulai Terkuak

Rabu, 8 April 2026 - 18:26 WIB

Memahami Gejala Regresi Politik di Berbagai Belahan Dunia

Rabu, 8 April 2026 - 17:25 WIB

Ngeri! Anak di Lahat Mutilasi Ibu Kandung, Jasad Dikubur dalam 3 Karung

Rabu, 8 April 2026 - 17:21 WIB

Sistem Pemilu Dunia: Mana yang Paling Representatif untuk Demokrasi Kita?

Berita Terbaru

Ilustrasi, Rasionalitas vs Emosi. Membedah mekanisme psikologis di balik kotak suara, di mana identitas kelompok dan bias kognitif sering kali membuat pemilih mengabaikan substansi kebijakan demi citra pemimpin yang mereka sukai di tahun 2026. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Mengapa Kita Memilih Pemimpin yang Kita Sukai?

Rabu, 8 Apr 2026 - 19:29 WIB

Bahaya dari dalam. Demokrasi modern tidak lagi mati melalui kudeta militer yang berdarah, melainkan melalui erosi perlahan yang para pemimpin terpilih lakukan terhadap institusi dan norma politik tahun 2026. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Memahami Gejala Regresi Politik di Berbagai Belahan Dunia

Rabu, 8 Apr 2026 - 18:26 WIB