Hakim AS Sebut Rencana Pemerintah Terhadap Kilmar Ábrego

Rabu, 8 April 2026 - 16:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Hukum imigrasi yang buntu. Pemerintah Amerika Serikat bersikeras mendeportasi warga El Salvador, Kilmar Ábrego García, ke Liberia meski pengadilan meragukan rencana tersebut sebagai tindakan yang tidak realistis. Dok: Istimewa.

Hukum imigrasi yang buntu. Pemerintah Amerika Serikat bersikeras mendeportasi warga El Salvador, Kilmar Ábrego García, ke Liberia meski pengadilan meragukan rencana tersebut sebagai tindakan yang tidak realistis. Dok: Istimewa.

ARYLAND, POSNEWS.CO.ID – Drama hukum imigrasi yang melibatkan Kilmar Ábrego García memasuki babak baru di pengadilan federal Maryland pada Selasa (7/4/2026). Pemerintah Amerika Serikat menegaskan niatnya untuk mengirim Ábrego ke Liberia, sebuah negara di Afrika Barat.

Dalam konteks ini, kasus Ábrego menjadi simbol kekacauan birokrasi imigrasi saat ini. Oleh karena itu, publik memantau dengan cermat bagaimana pengadilan menyeimbangkan kedaulatan penegakan hukum dengan hak asasi individu.

Liberia vs Kosta Rika: Pertaruhan Modal Politik

Ábrego García telah berjuang melawan upaya deportasi kedua sejak kepulangannya ke Amerika Serikat. Ia mengusulkan Kosta Rika sebagai negara tujuan karena negara tersebut telah menyatakan kesediaan untuk menerimanya. Namun, Kepala Pelaksana Imigrasi dan Penegakan Bea Cukai (ICE), Todd Lyons, menolak usulan tersebut melalui memo resmi bulan Maret.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Lyons menyatakan bahwa mendeportasi Ábrego ke Kosta Rika akan “merugikan Amerika Serikat”. Sebaliknya, pemerintah AS telah menginvestasikan sumber daya dan modal politik yang besar untuk bernegosiasi dengan Liberia. Oleh sebab itu, Washington memandang pengiriman warga negara ketiga ke Liberia sebagai pencapaian diplomatik yang harus mereka laksanakan.

Baca Juga :  Polda Metro Jaya Tangkap 2 Pelaku Pembajakan Siaran Nex Parabola

Hakim Xinis: Kritik Atas Ide “Deportasi Mandiri”

Dalam persidangan hari Selasa, Direktur Litigasi Imigrasi Departemen Kehakiman (DoJ), Ernesto Molina, memberikan saran yang mengejutkan. Ia mengusulkan agar Ábrego “mendeportasi dirinya sendiri” secara sukarela ke Kosta Rika guna mengakhiri kebuntuan ini.

Namun, Hakim Paula Xinis segera menangkis argumen tersebut dengan nada sarkastik. Xinis menunjukkan fakta bahwa DoJ sedang menuntut Ábrego di Tennessee atas tuduhan penyelundupan manusia. “Sangat tidak masuk akal atau sebuah fantasi untuk mengatakan ia bisa pergi ke mana pun saat kasus pidananya masih berjalan,” tegas Xinis. Sebagai hasilnya, hakim menetapkan jadwal pengarahan baru dan menjadwalkan sidang lanjutan pada 28 April mendatang.

Rekam Jejak Kesalahan Fatal Deportasi 2024

Kilmar Ábrego García (30) merupakan seorang ayah yang memiliki istri dan anak berkebarganegaraan Amerika Serikat. Meskipun telah tinggal bertahun-tahun di Maryland, ia masuk ke AS secara ilegal saat masih remaja. Pada 2019, seorang hakim imigrasi melarang deportasi Ábrego ke El Salvador karena adanya ancaman nyata dari geng kriminal terhadap keluarganya.

Baca Juga :  Pelantikan Pejabat Baru BNN, Kombes Dedy Tabrani Naik Jadi Kepala BNN Kalteng

Meskipun demikian, otoritas tetap mendeportasi Ábrego ke El Salvador secara keliru pada tahun lalu. Langkah ini memicu tekanan publik yang masif terhadap administrasi Donald Trump. Akibatnya, pemerintah terpaksa membawa Ábrego kembali ke Amerika Serikat pada bulan Juni lalu, namun segera menjeratnya dengan dakwaan penyelundupan manusia sebagai langkah balasan hukum.

Menanti Kepastian Keadilan

Masa depan Ábrego García kini bergantung pada ketegasan Hakim Xinis dalam menghadapi tuntutan agresif dari pihak imigrasi. Pada akhirnya, kasus ini membuktikan betapa sulitnya memperbaiki kesalahan sistemik dalam kebijakan deportasi Amerika Serikat di tahun 2026.

Dengan demikian, dunia internasional memantau apakah Amerika Serikat akan benar-benar mengirim warganya ke negara yang tidak memiliki keterkaitan sejarah dengannya demi kepentingan politik semata. Keadilan bagi keluarga Ábrego di Maryland tetap menjadi inti dari perdebatan mengenai batas kekuasaan eksekutif dalam urusan imigrasi saat ini.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sempat Ditangkap Israel, 9 WNI Relawan Gaza Akhirnya Tiba di Indonesia
Marco Rubio Lawat India guna Pulihkan Hubungan Dagang
Bareskrim Selidiki Blackout Sumatera, Kabel SUTET Putus di Jambi Diuji Forensik
Prancis Larang Masuk Menteri Keamanan Israel
WHO Nyatakan Wabah Strain Bundibugyo sebagai Ancaman Global
Trump Klaim Kesepakatan Damai dengan Iran Hampir Tuntas
Brimob Polda Metro Gagalkan Tawuran dan Balap Liar, Celurit hingga Narkoba Disita
SpaceX Uji Coba Roket Terkuat dalam Sejarah Jelang Misi Bulan

Berita Terkait

Minggu, 24 Mei 2026 - 17:24 WIB

Sempat Ditangkap Israel, 9 WNI Relawan Gaza Akhirnya Tiba di Indonesia

Minggu, 24 Mei 2026 - 17:14 WIB

Marco Rubio Lawat India guna Pulihkan Hubungan Dagang

Minggu, 24 Mei 2026 - 17:00 WIB

Bareskrim Selidiki Blackout Sumatera, Kabel SUTET Putus di Jambi Diuji Forensik

Minggu, 24 Mei 2026 - 16:11 WIB

Prancis Larang Masuk Menteri Keamanan Israel

Minggu, 24 Mei 2026 - 15:06 WIB

WHO Nyatakan Wabah Strain Bundibugyo sebagai Ancaman Global

Berita Terbaru

Misi merajut kembali aliansi. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengunjungi India untuk memulihkan hubungan yang sempat retak akibat sengketa tarif dan perbedaan pandangan strategis terkait kawasan Asia Selatan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Marco Rubio Lawat India guna Pulihkan Hubungan Dagang

Minggu, 24 Mei 2026 - 17:14 WIB

Sanksi diplomatik Paris. Pemerintah Prancis resmi melarang Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, memasuki wilayahnya sebagai respons atas sikap kontroversialnya terhadap aktivis bantuan Gaza. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Prancis Larang Masuk Menteri Keamanan Israel

Minggu, 24 Mei 2026 - 16:11 WIB

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) dan Uganda sebagai darurat internasional. Dok: (AP Photo/Moses Sawasawa)

KESEHATAN

WHO Nyatakan Wabah Strain Bundibugyo sebagai Ancaman Global

Minggu, 24 Mei 2026 - 15:06 WIB