Mengapa Kita Memilih Pemimpin yang Kita Sukai?

Rabu, 8 April 2026 - 19:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Rasionalitas vs Emosi. Membedah mekanisme psikologis di balik kotak suara, di mana identitas kelompok dan bias kognitif sering kali membuat pemilih mengabaikan substansi kebijakan demi citra pemimpin yang mereka sukai di tahun 2026. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Rasionalitas vs Emosi. Membedah mekanisme psikologis di balik kotak suara, di mana identitas kelompok dan bias kognitif sering kali membuat pemilih mengabaikan substansi kebijakan demi citra pemimpin yang mereka sukai di tahun 2026. Dok: Istimewa.

LONDON, POSNEWS.CO.ID – Mengapa masyarakat sering kali memilih pemimpin yang kebijakannya justru merugikan mereka secara ekonomi? Di tahun 2026, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada data statistik ekonomi, melainkan pada struktur otak manusia. Dalam konteks ini, psikologi politik mengungkap bahwa pilihan di kotak suara lebih banyak ditentukan oleh perasaan daripada logika.

Langkah analisis ini bertujuan untuk mengurai mengapa rasionalitas sering kali kalah dalam panggung politik. Oleh karena itu, memahami mekanisme bias pemilih adalah kunci untuk menyadari cara kita memproses janji-janji kampanye di era digital saat ini.

Identitas Kelompok: Penjara Partisanship

Pilar utama perilaku politik manusia adalah kesukuan atau tribalism. Dalam studi Hubungan Internasional dan politik domestik, identitas kelompok bertindak sebagai kompas utama. Secara khusus, pemilih cenderung melihat partai politik atau kandidat sebagai bagian dari identitas sosial mereka, mirip dengan dukungan terhadap klub olahraga.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bahkan, fenomena partisanship yang kuat menciptakan “filter informasi” dalam pikiran. Sebagai hasilnya, pemilih hanya akan menerima data yang mendukung kelompoknya dan secara otomatis menolak fakta yang menyudutkan pilihannya. Di tahun 2026, algoritma media sosial memperparah kondisi ini dengan menciptakan ruang hampa informasi yang mengunci individu dalam keyakinan kelompoknya tanpa celah kritik.

Baca Juga :  BMKG Prediksi Hujan Guyur Jakarta dan Sekitarnya Minggu 8 Maret 2026

Perang Emosi: Ketakutan vs Harapan

Kampanye politik yang sukses jarang sekali berbicara tentang rincian anggaran yang rumit. Sebaliknya, para konsultan politik lebih fokus memicu emosi dasar pemilih. Dalam hal ini, emosi ketakutan (fear) terbukti menjadi motivator paling kuat untuk menggerakkan massa.

Lebih lanjut, narasi tentang “ancaman asing” atau “kehilangan pekerjaan” memicu respon defensif di otak manusia. Oleh sebab itu, politisi sering kali menciptakan musuh imajiner guna menyatukan pendukungnya. Di sisi lain, narasi harapan (hope) memberikan imbalan psikologis berupa rasa memiliki terhadap masa depan yang cerah. Konflik antara ketakutan dan harapan inilah yang mendikte keputusan akhir di bilik suara, bukan kualitas program kerja yang pemerintah tawarkan.

Kultus Individu: Ketika Citra Menghapus Substansi

Dinamika politik tahun 2026 juga diwarnai oleh fenomena Kultus Individu. Melalui bantuan teknologi pencitraan yang canggih, seorang kandidat dapat membangun persona yang tampak sempurna dan tak tercela. Dalam hal ini, terjadi efek psikologis yang kita kenal sebagai Halo Effect.

Jika kita menyukai kepribadian seorang pemimpin, kita cenderung menganggap seluruh kebijakannya adalah benar. Akibatnya, pemilih sering kali mengabaikan rekam jejak kegagalan atau cacat kebijakan selama pemimpin tersebut tetap tampil menarik dan karismatik. Citra visual di layar ponsel kini telah mengalahkan kedalaman substansi naskah akademik. Masyarakat lebih memburu sosok “penyelamat” yang heroik daripada manajer birokrasi yang efisien namun tampak membosankan.

Baca Juga :  Polsek Tanjung Priok Buru Jaringan Penggelapan Mobil Rental, 2 Pelaku Masih Buron

Masa depan demokrasi bergantung pada kemampuan warga negara untuk menyadari bias-bias ini. Pada akhirnya, kita harus belajar membedakan antara kesukaan personal dengan kebutuhan kolektif bangsa.

Dengan demikian, dunia memerlukan sistem pendidikan yang mengedepankan literasi psikologi politik. Jika pemilih terus membiarkan emosi mendikte keputusan mereka, maka panggung kekuasaan hanya akan diisi oleh para aktor yang pandai bersandiwara. Di tahun 2026, tantangan terbesar kita adalah merebut kembali kedaulatan akal sehat dari cengkeraman manipulasi emosional yang kian masif di ruang publik.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

El Nino Kuat dan Mandat B50 Indonesia Dorong Penguatan Pasar
Pemerintah Minta AS Bebaskan Tarif Impor Minyak Sawit
Malaysia Siapkan Peningkatan Campuran Biodiesel B12 dan B15
Puncak 15 Pekan: Harga Minyak Sawit Malaysia Melandai
Lonjakan Harga Global Tekan Impor Minyak Nabati India
Polisi Tembak Mati Pelaku Penabrakan Minivan Pride
Pelaku Lepaskan Tembakan ke Gedung Konsulat AS
Gelombang Fitur AI Interaktif Ubah Pengalaman Membaca

Berita Terkait

Rabu, 29 Juli 2026 - 14:00 WIB

El Nino Kuat dan Mandat B50 Indonesia Dorong Penguatan Pasar

Rabu, 29 Juli 2026 - 11:17 WIB

Pemerintah Minta AS Bebaskan Tarif Impor Minyak Sawit

Rabu, 29 Juli 2026 - 10:13 WIB

Malaysia Siapkan Peningkatan Campuran Biodiesel B12 dan B15

Rabu, 29 Juli 2026 - 09:08 WIB

Puncak 15 Pekan: Harga Minyak Sawit Malaysia Melandai

Rabu, 29 Juli 2026 - 07:04 WIB

Lonjakan Harga Global Tekan Impor Minyak Nabati India

Berita Terbaru

Menteri Agama Nasaruddin Umar. (Posnews/Kemenang)

NASIONAL

Menag Ajak Warga Ikut Doa Kebangsaan di Monas 1 Agustus 2026

Rabu, 29 Jul 2026 - 17:59 WIB

Sinyal lonjakan harga gawai global. Qualcomm menaikkan harga chipset Snapdragon mulai 1 September akibat keterbatasan rantai pasok dan kapasitas manufaktur TSMC. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Qualcomm Naikkan Tarif Chipset Snapdragon Dua Digit

Rabu, 29 Jul 2026 - 16:54 WIB