Trump Ulur Gencatan Senjata Iran atas Permintaan Pakistan

Rabu, 22 April 2026 - 08:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Sengketa intelijen di Capitol Hill. Undang-Undang pengawasan asing Seksi 702 terancam kedaluwarsa setelah kelompok bipartisan menolak penunjukan Bill Pulte oleh Presiden Trump. Dok: Istimewa.

Sengketa intelijen di Capitol Hill. Undang-Undang pengawasan asing Seksi 702 terancam kedaluwarsa setelah kelompok bipartisan menolak penunjukan Bill Pulte oleh Presiden Trump. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Amerika Serikat memberikan tambahan waktu bagi jalur diplomasi guna mengakhiri perang di Timur Tengah. Presiden Donald Trump mengonfirmasi bahwa Washington memperpanjang masa gencatan senjata dengan Republik Islam Iran atas permintaan khusus dari pihak Pakistan.

Dalam konteks ini, Trump memilih menunda eskalasi militer lebih lanjut sembari menunggu dokumen “proposal terpadu” dari Teheran. Namun demikian, kesepakatan damai permanen masih jauh dari jangkauan karena posisi kedua belah pihak tetap keras di lapangan.

Syarat Perpanjangan dan Kelanjutan Blokade

Gencatan senjata yang seharusnya berakhir pada Rabu kini tetap berlaku hingga waktu yang tidak ditentukan. Trump menegaskan bahwa ia hanya akan mengakhiri jeda ini setelah proposal Iran diajukan dan diskusi selesai dilakukan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Saya telah memerintahkan militer kita untuk melanjutkan blokade,” tegas Trump. Oleh karena itu, meskipun bom berhenti berjatuhan, napas ekonomi Iran tetap tercekik. Militer AS secara aktif mencegah kapal komersial memasuki wilayah perairan Iran guna memaksa Teheran melepaskan cengkeramannya di Selat Hormuz. Jalur vital tersebut normalnya mengalirkan 20 persen energi dunia.

Baca Juga :  Uang Rampasan Korupsi Taspen Dikembalikan, Sisa Rp100 Miliar Masih Hilang

Mediasi Pakistan dan Keraguan Teheran

Pemerintah Pakistan di bawah PM Shehbaz Sharif bekerja intensif selama 24 jam terakhir guna mencegah berakhirnya masa damai. Sebagai hasilnya, Islamabad berhasil meyakinkan Trump untuk tidak segera memulai kembali serangan udara.

Meskipun demikian, pihak Iran tampak masih enggan untuk kembali ke meja perundingan di Islamabad. Juru bicara Kemenlu Iran, Esmail Baghaei, menyatakan bahwa tindakan blokade Amerika Serikat merupakan hal yang “tidak dapat diterima”. Bahkan, komandan senior Garda Revolusi (IRGC) Majid Mousavi mengancam akan menghancurkan seluruh industri minyak di Timur Tengah jika perang pecah kembali. “Jika tetangga selatan membiarkan fasilitas mereka digunakan untuk menyerang Iran, katakan selamat tinggal pada produksi minyak regional,” ancam Mousavi.

Penangkapan Kapal M/T Tifani di Samudra Hindia

Di tengah ketidakpastian gencatan senjata, ketegangan maritim justru meluas hingga ke wilayah Asia. Pentagon mengonfirmasi bahwa pasukan AS berhasil menaiki dan mengamankan kapal tanker minyak M/T Tifani pada hari Selasa.

Dalam hal ini, kapal tersebut teridentifikasi sebagai kapal yang melanggar sanksi karena menyelundupkan minyak mentah Iran. Berdasarkan data pelacakan kapal, operasi pencegatan terjadi di perairan internasional antara Sri Lanka dan Indonesia. Oleh sebab itu, Washington menegaskan bahwa laut lepas bukanlah tempat perlindungan bagi kapal-kapal yang melanggar kebijakan sanksi Amerika Serikat.

Baca Juga :  Jalur Kilat Izin Tinggal WNA, Rp1,5 Juta per Kepala Diduga Mengalir ke Pejabat Imigrasi

Progres Israel-Lebanon dan Biaya Manusia

Berbeda dengan kebuntuan AS-Iran, jalur diplomasi Israel dan Lebanon menunjukkan kemajuan positif. Delegasi kedua negara dijadwalkan melanjutkan pembicaraan langsung di Washington pada Kamis depan. Tujuannya adalah mencapai kesepakatan damai permanen dan pelucutan senjata Hezbollah pasca-gencatan senjata 10 hari di wilayah Lebanon.

Pada akhirnya, biaya manusia dari konflik tahun 2026 ini sudah terlalu besar. Data resmi mencatat sedikitnya 3.375 warga Iran dan 2.290 warga Lebanon telah tewas sejak awal pertempuran pada 28 Februari lalu. Dengan demikian, keberhasilan perundingan di Islamabad dan Washington menjadi satu-satunya cara untuk mencegah angka kematian ini terus membengkak dan menyelamatkan ekonomi dunia dari resesi energi yang parah.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tim Penyelamat Terus Cari Korban Tertimbun di General Santos
Isu Demo Besar Juni-Juli 2026, Kapolri Pastikan Polri Kawal Aksi Secara Humanis
Kapolri Siapkan Nobar Piala Dunia 2026 Gratis di Mabes, Polda hingga Polsek
Roberto Sánchez Unggul Tipis Atas Keiko Fujimori
Tak Mau Bayar Makan, 2 Pria Keroyok Pedagang Sate di Rawasari Diciduk Polisi
Laporan GAO Ungkap Borok Pangkalan Imigrasi Texas
Wabah Ebola: AS Desak Eropa Perketat Aturan Imigrasi
Kasus Air Keras Aktivis KontraS, Dua Prajurit BAIS TNI Dipecat dari Dinas Militer

Berita Terkait

Rabu, 10 Juni 2026 - 18:43 WIB

Tim Penyelamat Terus Cari Korban Tertimbun di General Santos

Rabu, 10 Juni 2026 - 18:00 WIB

Isu Demo Besar Juni-Juli 2026, Kapolri Pastikan Polri Kawal Aksi Secara Humanis

Rabu, 10 Juni 2026 - 17:38 WIB

Kapolri Siapkan Nobar Piala Dunia 2026 Gratis di Mabes, Polda hingga Polsek

Rabu, 10 Juni 2026 - 17:35 WIB

Roberto Sánchez Unggul Tipis Atas Keiko Fujimori

Rabu, 10 Juni 2026 - 17:21 WIB

Tak Mau Bayar Makan, 2 Pria Keroyok Pedagang Sate di Rawasari Diciduk Polisi

Berita Terbaru

Duka di Mindanao. Tim penyelamat menyisir puing-puing bangunan komersial di General Santos pasca-gempa bumi dahsyat magnitudo 7,8 yang menewaskan puluhan warga. Dok: REUTERS/Noel Celis

INTERNASIONAL

Tim Penyelamat Terus Cari Korban Tertimbun di General Santos

Rabu, 10 Jun 2026 - 18:43 WIB

Persaingan ketat di Andes. Roberto Sánchez memimpin sangat tipis atas Keiko Fujimori dalam penghitungan suara pemilihan presiden Peru yang berjalan lambat. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Roberto Sánchez Unggul Tipis Atas Keiko Fujimori

Rabu, 10 Jun 2026 - 17:35 WIB