9,1 Juta Warga Benggala Barat Kehilangan Hak Pilih Jelang Pemilu

Rabu, 22 April 2026 - 19:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Demokrasi di bawah ancaman. Revisi daftar pemilih yang kontroversial di Benggala Barat mengakibatkan penghapusan masif hak pilih minoritas, memicu tuduhan manipulasi sistemik dan kegagalan algoritma AI dalam mengenali identitas warga tahun 2026. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Demokrasi di bawah ancaman. Revisi daftar pemilih yang kontroversial di Benggala Barat mengakibatkan penghapusan masif hak pilih minoritas, memicu tuduhan manipulasi sistemik dan kegagalan algoritma AI dalam mengenali identitas warga tahun 2026. Dok: Istimewa.

KOLKATA, POSNEWS.CO.ID – Krisis konstitusional kini melanda Benggala Barat. Jutaan warga menemukan fakta bahwa pemerintah secara sepihak menghapus nama mereka dari daftar pemilih. Kritikus melabeli fenomena ini sebagai “genosida politik tak berdarah”. Langkah ini bertujuan melumpuhkan partisipasi kelompok minoritas dalam pemilu negara bagian tahun 2026.

Dalam konteks ini, penghapusan nama mencakup lebih dari $10\%$ konstituen di wilayah tersebut. Oleh karena itu, partai oposisi dan pakar hukum menuduh pemerintah pusat melakukan manipulasi sistemik. Mereka menduga pemerintah ingin memenangkan pertarungan politik di benteng terakhir pihak oposisi.

“Pemurnian” atau Persekusi Sistemik?

Pemerintah pimpinan PM Narendra Modi berargumen bahwa proses SIR bertujuan membersihkan daftar dari “infiltran”. Menteri Dalam Negeri Amit Shah menyebut tindakan ini perlu guna menjaga kesucian sistem demokrasi.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan pola berbeda. Secara khusus, organisasi penelitian Sabar Institute mencatat bahwa agama menjadi pembeda terbesar. Di daerah mayoritas Muslim, otoritas mencoret hampir setengah dari pemilih meski mereka memiliki dokumen sah. “Apa yang terjadi di Benggala adalah kejahatan konstitusional,” tegas Sagarika Ghose, anggota parlemen partai TMC.

Baca Juga :  Menjaga Mata dan Mental dari Paparan Blue Light yang Mengintai

Kegagalan Algoritma AI dan Konteks Budaya

Pilar utama kontroversi ini adalah penggunaan algoritma berbantuan AI. Pemerintah menerapkan sistem cerdas tersebut guna mendeteksi “diskrepansi logis”. Sayangnya, sistem ini gagal mempertimbangkan isu budaya lokal Benggala Barat.

Mantan Komisioner Pemilihan India, SY Quraishi, menyoroti beberapa kelemahan teknis:

  1. Ketidakteraturan Ejaan: Ketiadaan format standar transkripsi nama Benggala menyebabkan inkonsistensi ejaan antar-dokumen keluarga.
  2. Struktur Keluarga: AI menandai keluarga besar sebagai anomali. Padahal, memiliki banyak saudara merupakan hal umum bagi generasi tua.
  3. Kecepatan di Atas Akurasi: Pemerintah memaksakan penyelesaian daftar dalam tiga bulan. Padahal, Quraishi menilai proses akurasi $99\%$ biasanya membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Akibatnya, pemerintah turut mencoret tokoh besar seperti pemenang Nobel Amartya Sen. Ribuan purnawirawan militer juga hilang dari daftar tanpa penjelasan yang jelas.

Dampak Manusia: Ketakutan dan Hilangnya Suara

Tragedi ini menyentuh individu seperti Jaber Ali ($36$), seorang petugas lapangan verifikasi dokumen. Ironisnya, namanya sendiri justru hilang dari daftar akhir. “Warga asli takut pemerintah melabeli mereka sebagai imigran ilegal lalu mengusir mereka,” ujar Ali.

Baca Juga :  Krisis Mediterania Timur: Inggris, Prancis, dan Yunani Kerahkan Pasukan Udara Guna Lindungi Siprus

Selain itu, ribuan warga kini terjebak dalam proses pengadilan yang lamban. Himani Roy, seorang guru sekolah negeri, kehilangan kesempatan memberikan suara untuk pertama kalinya. Jadwal sidangnya baru akan berlangsung setelah hari pencoblosan. Padahal, namanya masih tercantum sebagai petugas pemungutan suara resmi.

Menuju Fragmentasi Masyarakat

Masa depan demokrasi India kini menghadapi ujian kredibilitas yang berat. Ekonom Parakala Prabhakar memperingatkan bahwa langkah ini menciptakan dua kelas warga negara. Sebagian memiliki hak penuh, sementara yang lain terisolasi dari proses politik.

Dengan demikian, penghapusan hak pilih massal ini bukan sekadar urusan teknis pemilu. Langkah ini merupakan upaya mendefinisikan ulang kedaulatan warga negara. Dunia internasional kini memantau keberanian lembaga independen India dalam memulihkan keadilan konstitusional di Benggala Barat.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tolak Perjodohan, Wanita di Banyuasin Diduga Rancang Pembunuhan Bersama Kekasih
Reaksi Keras Tehran: Iran Gempur Pangkalan Militer AS
LDP Jepang Sepakati Draf Revisi Dokumen Keamanan Nasional
Bocah 6 Tahun Diduga Korban Perundungan di Senen, Tubuh Tersetrum Tak Sadarkan Diri
Xi Jinping dan Kim Jong Un Sepakati Strategis Baru
Pelaku Curi HP Saat Pintu Rumah Terbuka di Kembangan Ditangkap Polisi
Siri Bertenaga AI Meluncur: Kado Perpisahan Tim Cook
Aksi Tolak Kenaikan BBM di Jakarta Pusat Disorot, Potensi Gejolak Politik Menguat

Berita Terkait

Kamis, 11 Juni 2026 - 13:51 WIB

Tolak Perjodohan, Wanita di Banyuasin Diduga Rancang Pembunuhan Bersama Kekasih

Kamis, 11 Juni 2026 - 13:42 WIB

Reaksi Keras Tehran: Iran Gempur Pangkalan Militer AS

Kamis, 11 Juni 2026 - 12:36 WIB

LDP Jepang Sepakati Draf Revisi Dokumen Keamanan Nasional

Kamis, 11 Juni 2026 - 12:21 WIB

Bocah 6 Tahun Diduga Korban Perundungan di Senen, Tubuh Tersetrum Tak Sadarkan Diri

Kamis, 11 Juni 2026 - 10:29 WIB

Xi Jinping dan Kim Jong Un Sepakati Strategis Baru

Berita Terbaru

Eskalasi berbahaya di Teluk. Pemerintah Iran meluncurkan serangan rudal balasan ke pangkalan militer Amerika Serikat menyusul gempuran udara AS di Selat Hormuz. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Reaksi Keras Tehran: Iran Gempur Pangkalan Militer AS

Kamis, 11 Jun 2026 - 13:42 WIB

Peralihan postur pertahanan. Partai LDP yang berkuasa di Jepang menyetujui draf revisi dokumen keamanan nasional guna memperkuat kemampuan ofensif militer. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

LDP Jepang Sepakati Draf Revisi Dokumen Keamanan Nasional

Kamis, 11 Jun 2026 - 12:36 WIB

Konsolidasi aliansi di Asia Timur. Presiden Tiongkok Xi Jinping memulai kunjungan kenegaraan ke Pyongyang guna mempererat kemitraan taktis di tengah kebuntuan negosiasi nuklir dengan AS. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Xi Jinping dan Kim Jong Un Sepakati Strategis Baru

Kamis, 11 Jun 2026 - 10:29 WIB