Iran Serang Tiga Kapal Meski Gencatan Senjata Berlanjut

Jumat, 24 April 2026 - 06:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Negosiasi yang masih alot. Presiden Donald Trump menegaskan draf damai sepihak Iran belum memuaskan Washington, meski Tehran mendesak pencabutan blokade laut di Selat Hormuz. Dok: Istimewa.

Negosiasi yang masih alot. Presiden Donald Trump menegaskan draf damai sepihak Iran belum memuaskan Washington, meski Tehran mendesak pencabutan blokade laut di Selat Hormuz. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Ketegangan militer di Timur Tengah mencapai titik didih baru pada Rabu sore. Pasukan paramiliter Iran meluncurkan serangan terhadap tiga kapal komersial di dekat Selat Hormuz.

Dalam konteks ini, serangan tersebut terjadi hanya satu hari setelah Presiden Donald Trump memperpanjang masa gencatan senjata. Oleh karena itu, insiden ini menghancurkan harapan pasar energi bagi pemulihan navigasi yang aman di jalur vital tersebut pada tahun 2026.

Serangan Kapal Euphoria dan Penyitaan Peti Kemas

Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengonfirmasi penyerangan terhadap kapal bernama Euphoria. Media pemerintah melaporkan bahwa kapal tersebut kini dalam kondisi “terdampar” di pesisir pantai Iran. Bahkan, militer Iran juga menyita dua kapal peti kemas lainnya: Epaminondas yang berbendera Liberia dan MSC Francesca yang berbendera Panama.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pihak Teheran melabeli aksi ini sebagai balasan langsung terhadap blokade laut Amerika Serikat. Selain itu, Iran menuduh militer AS secara ilegal menyita kapal mereka sebelumnya. Akibatnya, pergerakan logistik internasional di selat yang mengalirkan seperlima minyak dunia ini kembali lumpuh total.

Baca Juga :  6 Warga Meninggal dan Puluhan Rumah Hancur di Chupaca

Rezim “Toll Booth” dan Kebingungan Diplomasi

Sejak pertengahan Maret, Iran telah memegang kendali efektif atas jalur pelayaran Selat Hormuz. Dalam hal ini, IrGC menerapkan sistem verifikasi kargo dan kepemilikan kapal yang sangat ketat. Bahkan, pada beberapa kesempatan, Iran memaksakan pungutan biaya lintas sebesar $1 per barel minyak—atau sekitar $2 juta untuk satu kapal tanker besar.

Terlebih lagi, muncul kebingungan besar mengenai status pembukaan selat. Menteri Luar Negeri Iran sempat mengumumkan jalur telah terbuka pada hari Jumat. Namun, IRGC justru membantah pernyataan tersebut sehari kemudian. “Muncul kebingungan nyata mengenai kapan kapal diizinkan melintas,” ujar Torbjorn Soltvedt, analis risiko dari Verisk Maplecroft.\

Garda Revolusi Iran (IRGC) mengonfirmasi penyerangan terhadap kapal bernama Euphoria. Media pemerintah melaporkan bahwa kapal tersebut kini dalam kondisi “terdampar” di pesisir pantai Iran. Bahkan, militer Iran juga menyita dua kapal peti kemas lainnya: Epaminondas yang berbendera Liberia dan MSC Francesca yang berbendera Panama.

Pihak Teheran melabeli aksi ini sebagai balasan langsung terhadap blokade laut Amerika Serikat. Selain itu, Iran menuduh militer AS secara ilegal menyita kapal mereka sebelumnya. Akibatnya, pergerakan logistik internasional di selat yang mengalirkan seperlima minyak dunia ini kembali lumpuh total.

Jangkauan Global AS dan Dilema Blokade

Militer Amerika Serikat menunjukkan kekuatan hukumnya dengan menyita tanker minyak Iran di Samudra Hindia. Operasi tersebut berlangsung sekitar 2.000 mil dari Selat Hormuz, tepatnya di selatan Teluk Benggala. Oleh sebab itu, Washington menegaskan bahwa setiap pelanggar blokade tidak akan aman meskipun sudah menjauh dari zona tempur.

Baca Juga :  Jusuf Kalla Minta Pemerintah Evaluasi Program Makan Bergizi Gratis dan Belanja Negara

Meskipun demikian, Gedung Putih menghadapi dilema ekonomi yang sangat sulit. Pengetatan blokade secara total akan melambungkan harga minyak mentah secara ekstrem. Secara simultan, hampir seluruh minyak tersebut ditujukan untuk pasar Tiongkok. Hal ini memaksa Trump untuk berhati-hati menjelang kunjungan kenegaraannya ke Beijing pada pertengahan Mei mendatang.

Masa Depan Pelayaran: Reposisi yang Lamban

Juru bicara CENTCOM, Kapten Tim Hawkins, menegaskan bahwa blokade militer berlaku bagi seluruh kapal yang keluar-masuk pelabuhan Iran. Namun, AS memberikan pengecualian terbatas bagi pengiriman bantuan kemanusiaan seperti pangan dan obat-obatan.

Pada akhirnya, industri pelayaran memerlukan lebih dari sekadar pengumuman perdamaian di atas kertas. Firma analisis Rystad Energy memproyeksikan butuh waktu enam hingga delapan pekan guna menata ulang jaringan tanker dunia pasca-perang. “Perusahaan pelayaran akan tetap dihantui ancaman rudal Iran dalam waktu jangka panjang,” tambah Soltvedt, Dunia kini menanti kesepakatan komprehensif guna mencegah Iran kembali menggunakan kartu blokade energi di masa depan.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bassirou Diomaye Faye Meluncurkan Partai Baru Kiiraay
Brasil Tolak Visa Pejabat AS yang Ingin Awasi Pemilu
Pasangan Afrika Selatan Saksikan Kumpulan 299 Paus
Dua Pria Terjun Bebas dari Space Needle Seattle
Unggahan Medsos Soroti Budaya Kerja Ekstrem Jepang
Vietnam Siapkan Aturan Ketat Larang Anak di Bawah 16 Tahun
Warga al-Obeid Hadapi Serangan Drone dan Pemerkosaan
Kanada Batal Gelar Acara Bersama Peresmian Jembatan

Berita Terkait

Minggu, 26 Juli 2026 - 20:30 WIB

Bassirou Diomaye Faye Meluncurkan Partai Baru Kiiraay

Minggu, 26 Juli 2026 - 20:00 WIB

Brasil Tolak Visa Pejabat AS yang Ingin Awasi Pemilu

Minggu, 26 Juli 2026 - 19:30 WIB

Pasangan Afrika Selatan Saksikan Kumpulan 299 Paus

Minggu, 26 Juli 2026 - 19:00 WIB

Dua Pria Terjun Bebas dari Space Needle Seattle

Minggu, 26 Juli 2026 - 18:51 WIB

Unggahan Medsos Soroti Budaya Kerja Ekstrem Jepang

Berita Terbaru

Langkah baru pasar monitor OLED. Philips merilis Evnia 32M2N6901A yang memadukan panel 4K QD-OLED 165Hz dengan harga kompetitif. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Philips Resmi Meluncurkan Monitor Evnia 32M2N6901A

Minggu, 26 Jul 2026 - 22:30 WIB