Komando Iran Serbu Kapal Kargo saat Israel Siaga Serang Jantung Teheran

Sabtu, 25 April 2026 - 10:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Negosiasi yang masih alot. Presiden Donald Trump menegaskan draf damai sepihak Iran belum memuaskan Washington, meski Tehran mendesak pencabutan blokade laut di Selat Hormuz. Dok: Istimewa.

Negosiasi yang masih alot. Presiden Donald Trump menegaskan draf damai sepihak Iran belum memuaskan Washington, meski Tehran mendesak pencabutan blokade laut di Selat Hormuz. Dok: Istimewa.

TEHERAN, POSNEWS.CO.ID – Republik Islam Iran menunjukkan cengkeraman kaku atas Selat Hormuz melalui operasi militer yang dramatis. Media pemerintah menyiarkan rekaman pasukan komando bermasker menyerbu kapal kargo raksasa di tengah kegagalan upaya diplomasi internasional pada Kamis malam.

Dalam konteks ini, insiden tersebut menandai berakhirnya masa tenang yang sempat tercipta melalui gencatan senjata 8 April lalu. Oleh karena itu, komunitas internasional kini bersiap menghadapi fase baru peperangan energi yang diprediksi akan jauh lebih mematikan dibandingkan dengan pekan-pekan sebelumnya pada tahun 2026.

Serangan Komando dan Penangkapan Kapal Tanpa Izin

Televisi negara Iran menyiarkan cuplikan video ala film aksi yang memperlihatkan gerak cepat pasukan elit mereka. Menggunakan kapal cepat berwarna abu-abu, para prajurit memanjat tangga tali menuju kapal MSC Francesca sembari menenteng senapan serbu.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Selain itu, militer Iran juga mengonfirmasi penyitaan kapal kedua bernama Epaminondas. Teheran menuduh kedua kapal tersebut mencoba melintasi Selat Hormuz tanpa izin resmi. Langkah ini mempertegas kontrol fisik Iran terhadap jalur navigasi yang mengalirkan seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.

Baca Juga :  Korea Utara Luncurkan Rentetan Rudal saat Jepang-Korsel Perkuat Aliansi

Ancaman “Zaman Kegelapan” dari Tel Aviv

Ketegangan militer juga merembet ke ruang udara ibu kota Iran. Kantor berita Mehr melaporkan aktivasi sistem pertahanan udara di Teheran guna menghalau “target musuh” pada Kamis malam. Meskipun jenis target belum terkonfirmasi, laporan ini segera melambungkan harga minyak dunia secara signifikan.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan bahwa pasukannya hanya menunggu “lampu hijau” dari Amerika Serikat guna memulai kembali serangan darat dan udara. Bahkan, Katz secara spesifik mengancam akan membidik Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei. “Serangan kali ini akan berbeda dan mematikan, membawa Iran kembali ke zaman kegelapan,” tegas Katz dalam pernyataan resminya.

Duel Kontrol: Trump vs Speedboat Teheran

Presiden Donald Trump mengeklaim melalui media sosial bahwa Washington memegang kendali total atas Selat Hormuz. Trump melabeli jalur tersebut dalam kondisi “terkunci rapat” hingga Iran bersedia menyepakati perjanjian yang ia tawarkan. Meskipun demikian, kehadiran kapal cepat dan drone laut Iran di gua-gua pesisir membuktikan bahwa armada laut Teheran masih mampu mengganggu pelayaran internasional.

Baca Juga :  Keiko Fujimori Unggul Tipis Atas Roberto Sánchez

Dalam hal ini, Washington terus memperketat blokade lautnya. Militer AS mengonfirmasi telah mencegat kapal tanker Majestic yang membawa dua juta barel minyak mentah di Samudra Hindia. Sejak blokade bermula, pasukan sekutu telah memaksa 33 kapal untuk mengubah rute pelayaran mereka guna melumpuhkan pendapatan ekonomi Teheran di tahun 2026.

Status “Bukan Damai, Bukan Perang” dan Dampak Ekonomi

Kebuntuan diplomatik di Islamabad membuat rakyat Iran hidup dalam ketakutan akan gempuran baru. Kondisi psikologis warga berada pada titik terendah setelah bertahan selama enam pekan pengeboman hebat. “Situasi saat ini terasa sangat menakutkan karena setiap saat serangan bisa terjadi kembali,” ujar Arash ($35$), seorang pegawai pemerintah di Teheran.

Pada akhirnya, guncangan energi ini mulai melumpuhkan ekonomi global secara nyata. Sektor manufaktur di berbagai negara kini berjuang melawan lonjakan biaya produksi yang tak terkendali. Akibatnya, pertumbuhan sektor jasa pun mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan sistemik. Dunia kini memantau perundingan paralel antara Israel dan Lebanon di Washington sebagai harapan terakhir guna mencegah perluasan perang total yang dapat menghancurkan tatanan ekonomi modern.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bassirou Diomaye Faye Meluncurkan Partai Baru Kiiraay
Brasil Tolak Visa Pejabat AS yang Ingin Awasi Pemilu
Pasangan Afrika Selatan Saksikan Kumpulan 299 Paus
Dua Pria Terjun Bebas dari Space Needle Seattle
Unggahan Medsos Soroti Budaya Kerja Ekstrem Jepang
Vietnam Siapkan Aturan Ketat Larang Anak di Bawah 16 Tahun
Warga al-Obeid Hadapi Serangan Drone dan Pemerkosaan
Kanada Batal Gelar Acara Bersama Peresmian Jembatan

Berita Terkait

Minggu, 26 Juli 2026 - 20:30 WIB

Bassirou Diomaye Faye Meluncurkan Partai Baru Kiiraay

Minggu, 26 Juli 2026 - 20:00 WIB

Brasil Tolak Visa Pejabat AS yang Ingin Awasi Pemilu

Minggu, 26 Juli 2026 - 19:30 WIB

Pasangan Afrika Selatan Saksikan Kumpulan 299 Paus

Minggu, 26 Juli 2026 - 19:00 WIB

Dua Pria Terjun Bebas dari Space Needle Seattle

Minggu, 26 Juli 2026 - 18:51 WIB

Unggahan Medsos Soroti Budaya Kerja Ekstrem Jepang

Berita Terbaru

Langkah baru pasar monitor OLED. Philips merilis Evnia 32M2N6901A yang memadukan panel 4K QD-OLED 165Hz dengan harga kompetitif. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Philips Resmi Meluncurkan Monitor Evnia 32M2N6901A

Minggu, 26 Jul 2026 - 22:30 WIB