TEHERAN, POSNEWS.CO.ID – Republik Islam Iran menunjukkan cengkeraman kaku atas Selat Hormuz melalui operasi militer yang dramatis. Media pemerintah menyiarkan rekaman pasukan komando bermasker menyerbu kapal kargo raksasa di tengah kegagalan upaya diplomasi internasional pada Kamis malam.
Dalam konteks ini, insiden tersebut menandai berakhirnya masa tenang yang sempat tercipta melalui gencatan senjata 8 April lalu. Oleh karena itu, komunitas internasional kini bersiap menghadapi fase baru peperangan energi yang diprediksi akan jauh lebih mematikan dibandingkan dengan pekan-pekan sebelumnya pada tahun 2026.
Serangan Komando dan Penangkapan Kapal Tanpa Izin
Televisi negara Iran menyiarkan cuplikan video ala film aksi yang memperlihatkan gerak cepat pasukan elit mereka. Menggunakan kapal cepat berwarna abu-abu, para prajurit memanjat tangga tali menuju kapal MSC Francesca sembari menenteng senapan serbu.
Selain itu, militer Iran juga mengonfirmasi penyitaan kapal kedua bernama Epaminondas. Teheran menuduh kedua kapal tersebut mencoba melintasi Selat Hormuz tanpa izin resmi. Langkah ini mempertegas kontrol fisik Iran terhadap jalur navigasi yang mengalirkan seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.
Ancaman “Zaman Kegelapan” dari Tel Aviv
Ketegangan militer juga merembet ke ruang udara ibu kota Iran. Kantor berita Mehr melaporkan aktivasi sistem pertahanan udara di Teheran guna menghalau “target musuh” pada Kamis malam. Meskipun jenis target belum terkonfirmasi, laporan ini segera melambungkan harga minyak dunia secara signifikan.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan bahwa pasukannya hanya menunggu “lampu hijau” dari Amerika Serikat guna memulai kembali serangan darat dan udara. Bahkan, Katz secara spesifik mengancam akan membidik Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei. “Serangan kali ini akan berbeda dan mematikan, membawa Iran kembali ke zaman kegelapan,” tegas Katz dalam pernyataan resminya.
Duel Kontrol: Trump vs Speedboat Teheran
Presiden Donald Trump mengeklaim melalui media sosial bahwa Washington memegang kendali total atas Selat Hormuz. Trump melabeli jalur tersebut dalam kondisi “terkunci rapat” hingga Iran bersedia menyepakati perjanjian yang ia tawarkan. Meskipun demikian, kehadiran kapal cepat dan drone laut Iran di gua-gua pesisir membuktikan bahwa armada laut Teheran masih mampu mengganggu pelayaran internasional.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam hal ini, Washington terus memperketat blokade lautnya. Militer AS mengonfirmasi telah mencegat kapal tanker Majestic yang membawa dua juta barel minyak mentah di Samudra Hindia. Sejak blokade bermula, pasukan sekutu telah memaksa 33 kapal untuk mengubah rute pelayaran mereka guna melumpuhkan pendapatan ekonomi Teheran di tahun 2026.
Status “Bukan Damai, Bukan Perang” dan Dampak Ekonomi
Kebuntuan diplomatik di Islamabad membuat rakyat Iran hidup dalam ketakutan akan gempuran baru. Kondisi psikologis warga berada pada titik terendah setelah bertahan selama enam pekan pengeboman hebat. “Situasi saat ini terasa sangat menakutkan karena setiap saat serangan bisa terjadi kembali,” ujar Arash ($35$), seorang pegawai pemerintah di Teheran.
Pada akhirnya, guncangan energi ini mulai melumpuhkan ekonomi global secara nyata. Sektor manufaktur di berbagai negara kini berjuang melawan lonjakan biaya produksi yang tak terkendali. Akibatnya, pertumbuhan sektor jasa pun mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan sistemik. Dunia kini memantau perundingan paralel antara Israel dan Lebanon di Washington sebagai harapan terakhir guna mencegah perluasan perang total yang dapat menghancurkan tatanan ekonomi modern.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















