Bagaimana Telegraf Mengubah Kecepatan Dunia Selamanya

Jumat, 15 Mei 2026 - 07:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Dari kejutan listrik hingga pesan lintas benua. Sejarah telegraf mencatat ambisi manusia untuk menaklukkan jarak, mengubah cara pemerintah, pedagang, dan surat kabar berinteraksi di panggung global. Dok: Istimewa.

Dari kejutan listrik hingga pesan lintas benua. Sejarah telegraf mencatat ambisi manusia untuk menaklukkan jarak, mengubah cara pemerintah, pedagang, dan surat kabar berinteraksi di panggung global. Dok: Istimewa.

LONDON, POSNEWS.CO.ID – Gagasan mengenai komunikasi elektrik ternyata telah muncul jauh sebelum era digital dimulai. Eksperimen ini berawal pada tahun 1746 saat sekitar 200 biarawan di sebuah biara di Paris berbaris sepanjang satu mil. Masing-masing biarawan memegang ujung kawat besi sepanjang 25 kaki.

Seorang biarawan yang juga merupakan ilmuwan kemudian melepaskan muatan listrik dari baterai primitif ke kawat tersebut. Seketika, seluruh biarawan merasakan sengatan listrik secara bersamaan. Tom Standage, penulis The Victorian Internet, menjelaskan bahwa kejadian ini sangat penting. Sengatan tersebut membuktikan bahwa sinyal dapat terkirim melalui kabel dengan kecepatan yang sangat tinggi.

Evolusi Kode: Dari Dial Rumit ke Kode Morse

Kebutuhan akan sistem persinyalan menjadi mendesak seiring terjadinya perang di Eropa dan ekspansi koloni. Awalnya, William Cooke dan Charles Wheatstone dari Inggris mengusulkan sistem dial yang menunjuk pada huruf-huruf tertentu. Namun, sistem ini memerlukan lima kawat sehingga pembangunannya sangat mahal.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Seorang warga Amerika, Samuel Morse, kemudian menciptakan solusi yang jauh lebih sederhana. Sistem Morse hanya membutuhkan satu kawat untuk mengirimkan kode berupa titik dan garis. Meskipun awalnya dianggap sulit, banyak orang segera menjadi mahir menggunakan kode Morse. Oleh karena itu, tiang-tiang telegraf mulai menyebar luas di seluruh Eropa dan Amerika.

Baca Juga :  Kasus CSR BI-OJK Memanas, KPK Segera Tahan 2 Anggota DPR Satori dan Heri Gunawan

Menaklukkan Samudera: Tantangan Kabel Bawah Laut

Tantangan berikutnya adalah menyeberangi lautan. Inggris memimpin upaya ini untuk menghubungkan wilayah imperiumnya. Terobosan besar muncul melalui penemuan gutta-percha, sejenis getah lateks dari semenanjung Malaya yang berfungsi sebagai isolator kabel.

Percobaan kabel lintas Atlantik pertama terjadi pada tahun 1858. Kapal-kapal harus berlayar ke tengah samudera untuk menyambungkan kabel tersebut. Ratu Victoria berhasil mengirimkan pesan telegraf kepada Presiden Amerika Serikat, James Buchanan. Namun, pengiriman pesan 98 kata tersebut membutuhkan waktu lebih dari 19 jam. Kegagalan teknis akibat tegangan tinggi bahkan membuat saluran tersebut mati hanya dalam seminggu.

Perjuangan di Jantung Australia

Pada tahun 1870, pembangunan kabel bawah laut mulai mengarah ke Australia. Proyek ini jauh lebih ambisius daripada menyeberangi samudera. Para pekerja harus membawa ribuan domba, kuda, dan unta untuk menyediakan makanan dan transportasi di pedalaman Australia yang gersang.

Baca Juga :  Evolusi Pangan: Dari Revolusi Memasak Hingga Ancaman

Tim konstruksi menghadapi hujan tropis di utara dan ancaman kehausan di pusat benua. Mereka harus membangun stasiun pengulang (repeater) setiap beberapa ratus mil guna memperkuat sinyal. Selain itu, pekerja menggunakan 40.000 tiang telegraf yang sebagian besar terbuat dari baja karena rayap sering memakan tiang kayu.

Dunia yang Tidak Lagi Sama

Jalur telegraf darat akhirnya selesai pada 22 Agustus 1872. Dalam beberapa bulan, Australia berhasil terhubung langsung dengan Inggris melalui kabel bawah laut. Jalur ini tetap beroperasi hingga tahun 1942 untuk membawa kabar serangan Jepang di Darwin.

Singkatnya, telegraf telah mengubah wajah peradaban. Pemerintah dapat berkomunikasi langsung dengan koloni mereka. Pedagang dapat mengirimkan kargo berdasarkan harga terbaru di pasar. Dengan demikian, surat kabar tidak lagi mempublikasikan berita yang sudah basi, melainkan kejadian yang baru saja terjadi di belahan dunia lain.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Trump Klaim Kesepakatan Damai dengan Iran Hampir Tuntas
Brimob Polda Metro Gagalkan Tawuran dan Balap Liar, Celurit hingga Narkoba Disita
SpaceX Uji Coba Roket Terkuat dalam Sejarah Jelang Misi Bulan
Selebriti Lawan Deepfake AI dengan Hukum Trademark
Dendam Lama Meledak di Panggung Nikahan, Lansia Tanjung Priok Ditangkap
AS Wajibkan Pelamar Green Card Ajukan Aplikasi dari Negara Asal
Ledakan Gas Tewaskan 90 Pekerja, Bencana Terburuk dalam 17 Tahun
Ini Tampang Kecot Rampok Wanita Bogor, Mobil Dijual Murah buat Judol dan Foya-foya

Berita Terkait

Minggu, 24 Mei 2026 - 14:03 WIB

Trump Klaim Kesepakatan Damai dengan Iran Hampir Tuntas

Minggu, 24 Mei 2026 - 13:44 WIB

Brimob Polda Metro Gagalkan Tawuran dan Balap Liar, Celurit hingga Narkoba Disita

Minggu, 24 Mei 2026 - 13:30 WIB

SpaceX Uji Coba Roket Terkuat dalam Sejarah Jelang Misi Bulan

Minggu, 24 Mei 2026 - 12:57 WIB

Selebriti Lawan Deepfake AI dengan Hukum Trademark

Minggu, 24 Mei 2026 - 09:57 WIB

Dendam Lama Meledak di Panggung Nikahan, Lansia Tanjung Priok Ditangkap

Berita Terbaru

Pintu perdamaian terbuka. Presiden Donald Trump mengeklaim negosiasi dengan Iran telah mencapai tahap akhir, meski isu nuklir dan kontrol Selat Hormuz masih menjadi ganjalan besar bagi tercapainya perdamaian permanen. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Trump Klaim Kesepakatan Damai dengan Iran Hampir Tuntas

Minggu, 24 Mei 2026 - 14:03 WIB

Era baru eksplorasi ruang angkasa. SpaceX sukses meluncurkan Starship V3, roket paling kuat yang pernah dibuat manusia, sebagai langkah krusial bagi ambisi NASA mendaratkan astronot di Bulan dan rencana perjalanan manusia ke Mars. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

SpaceX Uji Coba Roket Terkuat dalam Sejarah Jelang Misi Bulan

Minggu, 24 Mei 2026 - 13:30 WIB

Taylor Swift hingga Matthew McConaughey kini menggunakan hukum merek dagang untuk melindungi wajah dan suara mereka dari kloning kecerdasan buatan. Dok: Istimewa.

ENTERTAINMENT

Selebriti Lawan Deepfake AI dengan Hukum Trademark

Minggu, 24 Mei 2026 - 12:57 WIB