WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Presiden Donald Trump kembali menebar ancaman intervensi militer terhadap Kuba. Pernyataan ini muncul hanya sehari setelah pemerintah mendakwa mantan pemimpin Kuba, Raul Castro.
Trump menyampaikan pandangannya saat acara lingkungan di Ruang Oval. Ketika wartawan menyinggung isu Kuba, ia menegaskan kesiapan pemerintah untuk bertindak. “Presiden-presiden sebelumnya hanya mengamati situasi selama 50 atau 60 tahun. Sepertinya sayalah yang akan melakukannya. Saya senang jika harus melakukannya,” ujar Trump.
Dakwaan Raul Castro: Keadilan Setelah Tiga Dekade
Jaksa federal resmi mendakwa Raul Castro (94) atas keterlibatannya dalam penembakan dua pesawat sipil pada 1996. Kelompok eksil Brothers to the Rescue mengoperasikan pesawat tersebut. Saat itu, Castro menjabat sebagai Menteri Pertahanan Kuba.
Jaksa menuduh Castro melakukan pembunuhan dan penghancuran pesawat. Jaksa Agung sementara, Todd Blanche, mengumumkan dakwaan ini dalam sebuah upacara di Miami. Selain itu, pengadilan turut mendakwa tiga pilot militer Kuba lainnya. Blanche menuntut Castro segera menyerahkan diri. Ia menegaskan bahwa pemerintah akan menggunakan segala cara legal untuk membawa mantan pemimpin itu ke pengadilan.
Strategi “Regime Change” dan Blokade Energi
Pemerintahan Trump menerapkan taktik serupa seperti saat mereka menggulingkan mantan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, pada Januari lalu. Oleh karena itu, banyak pengamat meyakini bahwa Washington sedang mengulangi strategi yang sama terhadap Havana.
Setelah menjatuhkan Maduro, Trump memerintahkan blokade energi total terhadap Kuba. Akibatnya, pulau tersebut mengalami pemadaman listrik yang parah dan kelangkaan bahan pokok. Sekretaris Negara Marco Rubio menyatakan bahwa pemerintah AS tetap terbuka pada solusi damai. Namun, ia meragukan niat tulus pemerintah Kuba untuk bernegosiasi secara diplomatik.
China dan Rusia Pasang Badan untuk Kuba
Kuba tidak sendirian dalam menghadapi tekanan Washington. Kementerian Luar Negeri China secara terbuka menentang sanksi dan intervensi AS terhadap Havana.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“China mendukung penuh Kuba dalam menjaga kedaulatan dan martabat nasional,” tegas juru bicara kementerian, Guo Jiakun. Selain itu, keterlibatan intelijen Rusia di Kuba juga memperkuat posisi tawar Havana di mata Washington. Rubio memperingatkan bahwa hubungan keamanan dan intelijen antara Kuba dengan China dan Rusia telah menjadi ancaman serius bagi keamanan Amerika Serikat.
Menanti Akhir dari Sebuah Era
Keluarga korban penembakan 1996 menyambut dakwaan ini sebagai langkah yang sangat terlambat. Marlene Alejandre-Triana, putri dari salah satu pilot yang tewas, menyebut Castro sebagai otak di balik kejahatan tersebut.
Singkatnya, langkah agresif pemerintahan Trump menunjukkan perubahan taktik yang jauh lebih keras di Amerika Latin. Dengan demikian, masyarakat internasional kini memantau apakah Washington akan terus menekan Havana hingga mengubah lanskap politik di pulau tersebut secara permanen.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia












