JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Pemerintah Indonesia menetapkan standar baku untuk menghitung harga pembelian Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit. Sebab, kementerian pertanian ingin menjamin keadilan transaksi bagi petani mitra dan pabrik kelapa sawit. Oleh karena itu, dinas perkebunan setiap provinsi rutin merilis daftar harga resmi sesuai umur tanaman.
Rumus Resmi Berbasis Indeks K dan Rendemen
Pemerintah menerapkan rumus matematika berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 01 Tahun 2018. Secara spesifik, rumus tersebut menghitung kontribusi penjualan minyak sawit mentah (CPO) dan inti sawit (kernel).
Formula resmi untuk menghitung harga TBS adalah sebagai berikut:
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Harga TBS = Indeks K x ((Harga CPO x Rendemen CPO) + (Harga Kernel x Rendemen Kernel))
Berikut adalah penjelasan komponen dari formula di atas:
- Harga TBS: Nilai pembayaran untuk petani di pabrik dalam Rupiah per kilogram.
- Indeks K: Persentase bagian petani dari hasil penjualan minyak sawit mentah dan kernel.
- Harga CPO: Harga rata-rata minyak sawit mentah pada periode sebelumnya.
- Rendemen CPO: Persentase kandungan minyak sawit mentah di dalam buah sawit.
- Harga Kernel: Harga rata-rata inti sawit pada periode berjalan.
- Rendemen Kernel: Persentase kandungan inti sawit hasil pengolahan pabrik.
Peran Penting Penentuan Indeks K
Sementara itu, Indeks K menjadi faktor penentu yang sangat krusial dalam rumus harga sawit. Sebab, angka persentase ini menggambarkan efisiensi biaya pengolahan dan pemasaran dari pihak pabrik. Dengan demikian, pabrik yang bekerja dengan efisien akan menghasilkan nilai Indeks K yang lebih tinggi.
Pemerintah daerah menetapkan nilai Indeks K melalui rapat koordinasi rutin setiap bulan. Sebagai contoh, perwakilan petani, asosiasi pengusaha, dan dinas perkebunan menyepakati angka proporsi tersebut bersama-sama. Akibatnya, transparansi data biaya operasional pabrik menjadi kunci utama untuk menjaga keadilan harga petani.
Faktor Pengaruh dan Fluktuasi Harga
Pergerakan harga pasar internasional CPO di bursa Malaysia dan Belanda memengaruhi harga TBS lokal. Sebab, harga ekspor CPO menjadi acuan utama bagi pabrik saat menjual produk mereka. Oleh sebab itu, kenaikan harga minyak nabati global akan langsung mendongkrak harga TBS petani daerah.
Di sisi lain, faktor rendemen buah sawit juga memegang peranan penting di lapangan. Sebagai contoh, pohon sawit yang berumur matang menghasilkan kadar minyak yang jauh lebih melimpah. Akibatnya, pabrik kelapa sawit menetapkan harga beli yang lebih tinggi untuk tanaman berumur tua. Pada akhirnya, kemitraan yang transparan akan menyelamatkan daya beli petani hulu secara berkelanjutan.
Penulis : Alifa Latifa
Editor : Alifa Latifa












