Iran Ancam Serang Fasilitas Energi Teluk

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 06:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Laporan CBO menunjukkan biaya perang AS melawan Iran tembus $38 miliar Dolar AS dan mendongkrak inflasi hingga 2027. Dok: Istimewa.

Laporan CBO menunjukkan biaya perang AS melawan Iran tembus $38 miliar Dolar AS dan mendongkrak inflasi hingga 2027. Dok: Istimewa.

Ancaman Diplomatik dan Gertakan Teluk

POSNEWS.CO.ID, TEHERAN — Iran melancarkan ancaman diplomatik tegas kepada negara-negara Teluk. Pemerintah Teheran bersiap menyerang kilang minyak, pembangkit listrik, dan jaringan air kawasan. Langkah ini bertujuan memaksa Presiden Donald Trump menghentikan serangan militer Amerika Serikat.

Oleh karena itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menghubungi para pejabat Arab Saudi, Qatar, dan Turki. Araqchi meminta negara-negara Arab membujuk Trump agar memilih opsi diplomasi. Selain itu, Teheran menegaskan kesiapan penuh untuk menghancurkan aset-aset vital sekutu Amerika Serikat.

Baca Juga :  AS Gempur ISIS di Nigeria, Balas Pembantaian Umat Kristen

Lobi Arab Saudi dan Respons Trump

Di sisi lain, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman merespons cepat peringatan keras Iran. Pangeran Mohammed langsung menghubungi Donald Trump melalui sambungan telepon. Selanjutnya, Pemimpin Saudi tersebut mendesak Trump menunda serangan militer dan mempercepat gencatan senjata.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Akibatnya, Trump membatalkan rencana serangan udara skala besar pada dua Agustus lalu. Namun, Trump menuntut kesepakatan damai terwujud dalam waktu singkat. Sementara itu, Arab Saudi menegaskan komitmen membela diri jika Iran melancarkan serangan balasan.

Baca Juga :  Presiden Lebanon Joseph Aoun Desak Jalur Diplomasi

Risiko Eskalasi Kawasan dan Hambatan Perundingan

Namun, pemerintah Iran tetap menuntut penutupan pangkalan militer Amerika Serikat di Teluk. Teheran juga meminta negara-negara Arab menghentikan pembagian data intelijen dengan Washington. Selain itu, para diplomat mengkhawatirkan ancaman serangan balasan yang menyerupai peristiwa Aramco.

Sebelumnya, serangan drone menghancurkan separuh produksi minyak Saudi pada tahun 2019. Sementara itu, pemerintah Amerika Serikat menghadapi hambatan dalam merumuskan kesepakatan damai. Washington tetap membutuhkan bukti kemenangan politik sebelum mengakhiri perang di kawasan.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Giorgia Meloni Usul Pembatasan Siswa Asing dan Larangan Burqa
Ukraina Meluncurkan Seribu Drone ke Moskow di Tengah Pemilu
Pejabat Tinggi Houthi Peringatkan Sekutu Arab Saudi
Donald Trump Bentuk AI Force dan Tolak Pembatasan AI
Pengamat Oposisi Pingsan Saat Polisi Lakukan Penangkapan
Denmark Tegaskan Kedaulatan Usai Trump Klaim Kontrol
Houthi Serang Situs di Riyadh dan Fasilitas Aramco di Yanbu
Korea Utara Tembakkan Rudal Balistik ke Arah Laut Jepang

Berita Terkait

Selasa, 22 September 2026 - 09:18 WIB

Giorgia Meloni Usul Pembatasan Siswa Asing dan Larangan Burqa

Selasa, 22 September 2026 - 07:01 WIB

Ukraina Meluncurkan Seribu Drone ke Moskow di Tengah Pemilu

Selasa, 22 September 2026 - 06:00 WIB

Pejabat Tinggi Houthi Peringatkan Sekutu Arab Saudi

Minggu, 20 September 2026 - 21:58 WIB

Donald Trump Bentuk AI Force dan Tolak Pembatasan AI

Minggu, 20 September 2026 - 20:55 WIB

Pengamat Oposisi Pingsan Saat Polisi Lakukan Penangkapan

Berita Terbaru

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Ani Ruspitawati. (Posnews/Ist)

JABODETABEK

Kasus ISPA Jakarta Naik 15,7 Persen, Ini Imbauan Dinkes untuk Warga

Selasa, 22 Sep 2026 - 16:28 WIB

Kamera portabel CAIM1 memakai kipas mini Noctua NF-A4x10 untuk pendinginan video 4K dan pemrosesan kriptografi. Simak detail spesifikasinya. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Kamera CAIM1 Gunakan Kipas Mini Noctua untuk Mendinginkan

Selasa, 22 Sep 2026 - 14:29 WIB