AS Gempur ISIS di Nigeria, Balas Pembantaian Umat Kristen

Jumat, 26 Desember 2025 - 13:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Janji Trump terpenuhi! AS lancarkan serangan udara mematikan ke ISIS di Nigeria. Simak detail operasi militer yang menargetkan pembantai umat Kristen. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Janji Trump terpenuhi! AS lancarkan serangan udara mematikan ke ISIS di Nigeria. Simak detail operasi militer yang menargetkan pembantai umat Kristen. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Langit di barat laut Nigeria membara pada Kamis malam (25/12/2025). Angkatan Udara Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan mematikan terhadap basis militan ISIS di wilayah Sokoto.

Perintah serangan datang langsung dari Presiden Donald Trump. Melalui platform Truth Social, Trump menyatakan bahwa operasi ini adalah hukuman bagi “sampah teroris” yang telah menargetkan umat Kristen.

“Malam ini, atas arahan saya sebagai Panglima Tertinggi, Amerika Serikat meluncurkan serangan kuat dan mematikan,” tulis Trump.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia menyebut militan tersebut telah membunuh orang Kristen yang tidak bersalah dengan tingkat kebrutalan yang belum pernah terjadi selama bertahun-tahun. Bahkan, Trump mengklaim telah memperingatkan mereka sebelumnya.

“Jika mereka tidak menghentikan pembantaian orang Kristen, akan ada neraka yang harus dibayar (hell to pay), dan malam ini, itu terjadi,” tegasnya.

Baca Juga :  Diplomasi di Bawah Bayang-Bayang Kapal Induk: AS-Iran Bersiap untuk Perundingan Jenewa

Koordinasi atau Intervensi Sepihak?

Komando Afrika Militer AS (AFRICOM) menyatakan bahwa serangan tersebut dilakukan melalui koordinasi dengan otoritas Nigeria. Namun, sempat terjadi kebingungan informasi.

Pernyataan awal AFRICOM di platform X menyebut serangan itu atas “permintaan” Nigeria, tetapi pernyataan tersebut kemudian dihapus. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth hanya menyampaikan rasa terima kasih atas dukungan dan kerja sama pemerintah Nigeria.

Kementerian Luar Negeri Nigeria mengonfirmasi serangan tersebut sebagai bagian dari kerja sama keamanan yang berkelanjutan. Menurut mereka, operasi ini melibatkan pembagian intelijen dan koordinasi strategis untuk mencapai serangan presisi.

Sengketa Narasi Agama

Meskipun bekerja sama secara militer, kedua negara memiliki pandangan berbeda soal akar konflik. Trump secara konsisten membingkai kekerasan di Nigeria sebagai penganiayaan agama terhadap umat Kristen.

Sebaliknya, pemerintah Nigeria menolak narasi tersebut. Mereka menegaskan bahwa kelompok bersenjata menargetkan baik Muslim maupun Kristen tanpa pandang bulu.

Nigeria secara resmi adalah negara sekuler dengan populasi yang terbagi rata antara Muslim (53%) dan Kristen (45%). Faktanya, banyak analis menilai konflik di sana lebih kompleks.

Baca Juga :  Kasus Pencabulan Anak di Pasar Minggu Viral, Polisi Amankan Terduga Pelaku

Persaingan memperebutkan lahan dan air antara penggembala dan petani sering kali menjadi pemicu utama. Selain itu, penculikan pendeta sering kali didorong oleh motif ekonomi kriminal (tebusan), bukan diskriminasi agama semata.

Janji Damai yang Berubah Perang

Operasi ini menambah daftar panjang intervensi militer Trump di periode keduanya. Padahal, ia berkampanye sebagai “kandidat perdamaian” yang berjanji mengakhiri “perang tanpa akhir”.

Kenyataannya, tahun pertamanya kembali di Gedung Putih diwarnai dengan serangan udara di Yaman, Iran, Suriah, dan kini Nigeria. Belum lagi, penumpukan kekuatan militer besar-besaran di Karibia yang menargetkan Venezuela.

Kini, Trump membuktikan ucapannya untuk meluncurkan intervensi “senjata yang menyalak” (guns-a-blazing). Dunia menanti apakah strategi agresif ini akan membawa stabilitas atau justru memperkeruh konflik di benua Afrika.

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Selandia Baru Rancang Undang-Undang Larangan Media Sosial
Jepang Janjikan Dukungan untuk Presiden ICC Tomoko
Serangan Drone Rusia Hantam Pusat Perbelanjaan Ukraina
AS Berlakukan Tarif 50% ke Kanada, Ottawa Langsung Balas
Tabrakan Maut di Inggris Utara Tewaskan Tujuh Orang
Hakim Federal AS Batalkan Kebijakan Larangan Visa
Serangan Drone Ukraina Tewaskan 10 Orang di Rusia
Kanada Balas Tarif AS dengan Pajak Impor Baja dan Elektronik

Berita Terkait

Selasa, 25 Agustus 2026 - 07:00 WIB

Selandia Baru Rancang Undang-Undang Larangan Media Sosial

Selasa, 25 Agustus 2026 - 06:00 WIB

Jepang Janjikan Dukungan untuk Presiden ICC Tomoko

Minggu, 23 Agustus 2026 - 20:10 WIB

Serangan Drone Rusia Hantam Pusat Perbelanjaan Ukraina

Minggu, 23 Agustus 2026 - 19:00 WIB

AS Berlakukan Tarif 50% ke Kanada, Ottawa Langsung Balas

Minggu, 23 Agustus 2026 - 18:30 WIB

Tabrakan Maut di Inggris Utara Tewaskan Tujuh Orang

Berita Terbaru

Lonjakan harga chip memori LPDDR5X akibat krisis pasokan AI diprediksi membuat harga konsol genggam PlayStation 6 melampaui 600 Dolar AS. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Kenaikan Harga Memori Mengancam Handheld PlayStation 6

Selasa, 25 Agu 2026 - 08:00 WIB

Perdana Menteri Selandia Baru Christopher Luxon mengajukan RUU larangan media sosial bagi anak di bawah 16 tahun dengan denda hingga 10 persen pendapatan global platform. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Selandia Baru Rancang Undang-Undang Larangan Media Sosial

Selasa, 25 Agu 2026 - 07:00 WIB

Ilustrasi, Prakiraan cuaca Jabodetabek 25 Agustus 2026 dengan potensi hujan lokal di wilayah Bogor.
(Posnews/Ist)

JABODETABEK

Jabodetabek Cerah, Bogor Dibayangi Hujan! Suhu Tembus 34°C

Selasa, 25 Agu 2026 - 06:09 WIB

Pemerintah Jepang berjanji memberikan dukungan kepada Presiden ICC Tomoko Akane setelah Amerika Serikat menjatuhkan sanksi ekonomi, meski respon Tokyo sempat menuai kritik. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Jepang Janjikan Dukungan untuk Presiden ICC Tomoko

Selasa, 25 Agu 2026 - 06:00 WIB