POSNEWS.CO.ID, CLACTON — Publik lama mengenal politik Inggris memiliki reputasi menarik sosok-sosok unik dan penuh warna. Namun, di antara deretan karakter nyentrik itu, Count Binface justru mencuri perhatian paling besar.
Pria yang selalu mengenakan tong sampah di kepalanya ini menyebut dirinya sebagai prajurit antariksa dari planet fiksi Sigma IX. Ia akan menghadapi politisi anti-imigran garis keras, Nigel Farage, pada Kamis dalam pemilihan sela Clacton.
Pemilihan sela ini berlangsung setelah pemimpin Reform UK itu mengundurkan diri secara mengejutkan. Farage kemudian mencalonkan diri kembali untuk kursi yang sama.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Panggung Kosong bagi Kandidat Independen
Tidak ada satu pun partai besar Inggris yang mengajukan kandidat dalam pemilihan sela ini. Partai-partai tersebut menilai langkah Farage sebagai taktik untuk menunda penyelidikan parlemen atas keuangannya.
Kondisi ini pun membuka peluang bagi Count Binface dan sejumlah kandidat independen maupun parodi lain. Jajak pendapat memang menunjukkan Farage unggul telak dengan lebih dari 70 persen suara.
Meski begitu, Binface tetap mencuri seluruh perhatian publik. Kandidat ini bahkan berpotensi meraih hingga 20 persen suara.
Sosok di Balik Kostum Tong Sampah
Binface merupakan alter ego komedian sekaligus penulis komedi bernama Jon Harvey. Ia sudah menjalani perannya sebagai kandidat lucu-lucuan dalam politik Inggris selama hampir satu dekade.
Harvey selalu hadir di lokasi penghitungan suara dengan helm logam berbentuk tong sampah, jubah perak, serta zirah perak-hitam. Ia juga membawa selera humor datar yang tajam khas dirinya.
Manifesto kampanyenya memadukan satire politik cerdas dengan janji-janji lucu. Salah satu janjinya adalah membatasi harga croissant, memperbaiki WiFi kereta Inggris, dan mewajibkan wajib militer bagi orang yang memakai speakerphone di transportasi umum.
Menurutnya, siapa pun di Inggris bebas mencalonkan diri dalam pemilihan, tak peduli seaneh apa pun penampilannya. Ia menyampaikan pandangan ini kepada AFP menjelang pemilihan wali kota London 2024.
Harvey menilai sistem politik Inggris justru menumbuhkan keunikan, kekaguman, dan humor dalam dunia politik.
Lulusan Oxford yang Menulis untuk Acara Satire
Harvey berusia 46 tahun dan merupakan lulusan Sastra Klasik dari University of Oxford. Ia pernah menulis untuk sejumlah program televisi satire populer, termasuk “The Thick of It” dan “Have I Got News for You”.
Dalam sebuah wawancara podcast “The Rest Is Politics” baru-baru ini, ia bahkan mengutip “Odyssey” karya Homer dalam bahasa Yunani Homerik yang fasih.
Harvey pertama kali menarik perhatian publik pada 2017 sebagai Lord Buckethead. Saat itu, ia menantang mantan Perdana Menteri Theresa May dalam pemilihan umum.
Sengketa hak cipta kemudian mendorongnya melakukan rebranding. Langkah ini melahirkan sosok Count Binface pada 2018.
Rekam Jejak Elektoral Binface
Sejak saat itu, Binface telah bersaing dalam berbagai pemilihan melawan mantan Perdana Menteri Boris Johnson dan Rishi Sunak, serta Wali Kota London Sadiq Khan. Ia konsisten meraih ribuan suara dan liputan media yang luas.
Pada pemilihan wali kota London 2021, Binface meraih 24.775 suara pilihan pertama, atau sekitar satu persen suara. Ia mencatatkan hasil serupa pada pemilihan berikutnya di 2024, bahkan mengalahkan partai sayap kanan Britain First dengan mudah.
Sadiq Khan, yang berhasil terpilih kembali pada 2024, turut memberi apresiasi kepada Binface. Khan bercanda bahwa persaingan itu membuatnya harus bekerja keras untuk menang.
Aktivisme di Balik Lelucon
Berbeda dari kandidat lucu-lucuan lain, Harvey menegaskan ada tujuan serius di balik aktivismenya. Platform kebijakannya sering menyindir politik arus utama, namun tetap memanfaatkan kemarahan dan frustrasi publik yang nyata.
Ia juga secara konsisten menyuarakan dukungan terhadap demokrasi. Menurutnya, setiap kampanyenya membawa argumen sederhana bahwa orang tetap layak memberikan suara meski hasil malam itu sudah bisa ditebak.
Alamat Antarplanet dari Balon Udara
Pada Senin, Binface mengunggah “pidato antarplanet” di platform X. Sebuah perusahaan spesialis menayangkan pidato ini lewat layar yang terpasang pada balon udara di ketinggian sekitar 30.500 meter di atas Bumi.
Dalam pidato tersebut, ia mengajak publik bergabung dan menjadikan 13 Agustus sebagai hari buang sampah.
Janji manifesto lainnya termasuk memaksa bos perusahaan air minum berenang di sungai tercemar, serta melarang camilan berisik di bioskop. Dalam manifesto Clacton, ia bahkan berjanji membangun setidaknya satu rumah terjangkau sebagai lelucon.
Menyindir Farage Langsung
Binface menyindir Farage secara langsung dalam kampanyenya. Ia berjanji tidak akan menerima hadiah senilai £5 juta dari miliarder kripto, serta akan menghabiskan lebih banyak waktu di Clacton dibanding Washington.
Ia juga memosisikan dirinya sebagai kandidat pemersatu. Pertarungan antara Farage dan kandidat bermotokan “Make Earth Great Again” ini pun memicu perhatian media internasional yang besar.
Lebih dari Sekadar Hiburan Politik
Seiring fragmentasi lanskap politik Inggris, Binface kini menjelma lebih dari sekadar hiburan semata. Catherine Barnard, pakar politik dari Cambridge University, menilai kekalahan dari kandidat bertong sampah tetap memalukan bagi Farage.
Meski begitu, Barnard menegaskan Farage tetap akan kembali menjabat sebagai anggota parlemen. Ia juga melihat sejumlah indikasi bahwa Farage khawatir tidak akan menang semeyakinkan yang ia harapkan.
Mantan Perdana Menteri Keir Starmer bahkan turut menyindir Farage di parlemen. Starmer menyarankan semua orang membuang suara mereka ke tong sampah.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia














