POSNEWS.CO.ID, LONDON — Pemimpin Reform UK Nigel Farage merebut kembali kursi parlemennya pada Jumat. Farage memicu pemilu ini sendiri untuk memperkuat posisinya di tengah tuduhan pelanggaran keuangan.
Farage Absen dari Penghitungan Suara
Farage, salah satu tokoh utama kampanye Brexit Inggris, tidak hadir di lokasi penghitungan suara di kota resor pesisir selatan Inggris, Clacton. Langkah tidak biasa ini ia ambil karena polisi menyampaikan peringatan soal kemungkinan upaya mengganggu hasil pemilu.
“Saya menolak berdiri di panggung setelah meraih kemenangan telak… dan direndahkan oleh orang-orang tak dikenal,” kata Farage kepada para pendukungnya dalam sebuah pesta sebelum hasil resmi diumumkan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Latar Belakang Pemilu yang Farage Picu Sendiri
Farage memicu pemilu ini setelah mengundurkan diri dari parlemen bulan lalu untuk mencari mandat baru dari para pemilih. Ia menyebut langkah ini sebagai perang melawan pihak yang berusaha mendiskreditkannya atas tuduhan menerima hadiah tak terdeklarasi dari donor.
Partai-partai utama Inggris menarik diri dari kontestasi ini dan menyebutnya sebagai aksi mementingkan diri sendiri. Akibatnya, pesaing utama Farage justru menjadi Count Binface, karakter fiksi ciptaan komedian Jonathan Harvey yang telah menjadi ikon hiburan dalam berbagai pemilu Inggris.
Hasil Penghitungan Suara
Farage meraih 62,8 persen suara dalam pemilu ini. Sementara itu, Count Binface, yang mengusung kebijakan seperti membatasi harga es krim cone dan wajib militer bagi pengguna speakerphone di transportasi umum, meraih 26,7 persen suara.
Momentum Reform UK Mulai Melambat
Reform UK sempat menikmati keunggulan panjang dalam jajak pendapat. Namun, popularitas partai ini kini menurun, sebagian akibat tuduhan pendanaan terhadap Farage.
Parlemen tengah menyelidiki apakah Farage seharusnya mendeklarasikan hadiah senilai £5 juta atau sekitar $6,75 juta dari investor miliarder mata uang kripto. Setelah Farage menyebut keputusannya memicu pemilu di Clacton hanya sebagai taktik mengalihkan perhatian dari tuduhan tersebut, partai-partai Inggris lain menarik diri dari kontestasi.
Langkah ini membuat sejumlah pendukung setia Farage mulai mempertanyakan apakah sang politisi veteran ini justru salah langkah.
Analisis Pengamat Politik
Laura Richards-Gray, dosen politik di Birkbeck University London, menilai absennya lawan dari partai besar justru merusak upaya Farage mengubah pemilu ini menjadi pertarungan “rakyat melawan elite”.
“Langkah ini justru berbalik menyerang, terutama secara nasional, karena Farage kehilangan kendali narasi,” kata Richards-Gray. Ia menambahkan sejumlah pemilih menganggap pemilu ini sebagai pemborosan waktu dan uang.
Kebangkitan Partai Buruh di Bawah Burnham
Posisi Farage semakin tertekan seiring meningkatnya dukungan terhadap Partai Buruh yang berkuasa. Sejak Andy Burnham menjabat perdana menteri bulan lalu, Partai Buruh menikmati lonjakan popularitas, unggul 28 persen berbanding 25 persen atas Reform UK.
Burnham mendominasi pemberitaan media dan media sosial dalam beberapa minggu awal masa jabatannya. Meski pemilu nasional berikutnya baru diperkirakan berlangsung tiga tahun lagi, Burnham tampak mengonsolidasikan blok kiri di sekitar Partai Buruh.
Reform UK, di sisi lain, kini bersaing memperebutkan suara sayap kanan yang terpecah dengan Partai Konservatif dan partai antiimigrasi Restore Britain yang tengah naik daun.
Investigasi Hadiah Miliarder Kripto Berlanjut
Meski memenangkan pemilu ini, Farage tetap akan menghadapi kelanjutan investigasi pengawas parlemen terkait deklarasi keuangannya begitu ia kembali menjabat.
Inti investigasi ini mempertanyakan apakah Farage seharusnya mendeklarasikan hadiah dari miliarder asal Thailand tersebut sebelum pemilu nasional 2024. Aturan parlemen mewajibkan anggota parlemen mendeklarasikan donasi yang mereka terima dalam setahun sebelum pemilu, dalam waktu satu bulan sejak menjabat.
Farage mengakui menerima uang tersebut namun tidak mendeklarasikannya. Ia menegaskan tidak melakukan kesalahan apa pun karena menganggapnya sebagai hadiah pribadi.
Jika otoritas parlemen yang menyelidiki kasus ini menyimpulkan Farage melanggar aturan deklarasi, ia berpotensi menghadapi skorsing dari parlemen. Langkah ini juga dapat memicu pemilu ulang untuk mempertahankan kursinya, di mana partai-partai utama kemungkinan besar akan kembali mengajukan kandidat.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia














