POSNEWS.CO.ID, TEL AVIV — Pemerintah Israel menyampaikan kekhawatiran keamanan serius kepada Gedung Putih. Isu utama menyoroti draf kesepakatan pelucutan senjata kelompok Hamas di Jalur Gaza. Sikap ini muncul di tengah rangkaian serangan militer Israel yang menewaskan sedikitnya 17 warga sipil.
Juru bicara Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, Doron Spielman, menyatakan keraguan atas komitmen Hamas. Ia menilai Hamas hanya berpura-pura menyerahkan senjata untuk memulihkan kekuatan tempur. Oleh karena itu, Israel menolak menarik mundur pasukan sebelum Hamas melucuti senjata secara total.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya meluncurkan draf kesepakatan damai 20 poin. Rencana tersebut mengatur penyerahan senjata kepolisian Hamas kepada komite teknokratik Palestina. Selain itu, rencana itu mencakup pengerahan pasukan keamanan internasional ke wilayah kantong tersebut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, pihak Israel menuntut kebebasan penuh dalam melakukan operasi militer di Gaza. Israel juga mendesak penolakan keterlibatan Qatar dan Turki dalam proses verifikasi kesepakatan. Para pengamat menilai posisi keras ini dipengaruhi oleh tekanan pemilu Israel pada Oktober mendatang.
Sementara itu, militer Israel terus melancarkan gempuran udara di berbagai wilayah Gaza. Rumah sakit setempat melaporkan korban tewas mencakup anak-anak akibat hancurnya bangunan tempat tinggal. Oleh sebab itu, masa depan kesepakatan damai ini masih menghadapi berbagai rintangan politik yang pelik.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia














