POSNEWS.CO.ID, WASHINGTON — Pasukan Amerika Serikat menyerang peluncur roket Iran di Selat Hormuz pada Minggu, menurut seorang pejabat AS. Serangan ini menjadi aksi militer pertama dalam sebulan terakhir. Aksi ini sekaligus memecah kebuntuan dalam perang intermiten yang telah berlangsung lebih dari enam bulan.
Pejabat tersebut enggan membuka identitasnya karena membahas pergerakan militer yang sensitif. Menurutnya, pasukan Korps Garda Revolusi bersiap meluncurkan roket bermuatan ranjau laut ke selat itu. Sebelumnya, militer AS baru saja menuntaskan pembersihan ranjau laut dari jalur pelayaran internasional di selat tersebut pekan lalu.
Iran Laporkan Ledakan dan Korban Jiwa
Media semiresmi Iran melaporkan suara ledakan di dekat Pulau Larak. Sementara itu, penyiar negara Iran menyiarkan pernyataan Garda Revolusi yang mencatat adanya sejumlah pejuang dan warga sipil yang gugur maupun terluka.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pernyataan itu juga menegaskan serangan tersebut akan berujung pada hukuman bagi pihak agresor.
Pergeseran Strategi AS ke Tekanan Ekonomi
Pertempuran ini terjadi hanya beberapa hari setelah pemerintahan Trump mengumumkan perubahan strategi. Alih-alih menempuh aksi militer, pemerintahan Trump kini mengutamakan tekanan ekonomi untuk mengakhiri perangnya dengan Iran. Strategi baru ini berpusat pada ancaman hukuman terhadap negara maupun entitas yang tetap berbisnis dengan Teheran.
Pemerintahan AS mengalihkan andalannya ke sanksi seiring menipisnya stok amunisi setelah berbulan-bulan berperang. Akibatnya, kekhawatiran pun muncul bahwa konflik berkepanjangan bisa mengganggu kesiapan militer AS di kawasan lain di dunia.
Trump Tak Terburu-buru Akhiri Perang
Seiring konflik yang terus berlanjut, wacana Trump untuk segera mengakhiri perang tampak mulai memudar. Pekan lalu, ia menegaskan dirinya “tidak terburu-buru” mengajak Iran kembali ke meja perundingan. Ia juga terus menilai kepemimpinan Republik Islam itu sedang terdesak.
Trump secara konsisten menekankan bahwa kampanye militer AS dan Israel telah menghancurkan angkatan laut dan udara Iran. Di sisi lain, pejabat Iran menyebut negaranya menderita kerugian langsung dan tidak langsung senilai USD 270 miliar. Serangan militer Israel pada pekan-pekan awal perang bahkan melumpuhkan sebagian besar struktur kepemimpinan pemerintahan teokratis itu.
Iran Kuasai Lalu Lintas di Selat Hormuz
Namun, Iran menemukan daya tawar lewat serangannya sendiri di Selat Hormuz. Hanya sedikit kapal pengangkut minyak dan gas alam cair yang berani melintasi jalur krusial tersebut. Iran masih memiliki cukup drone dan rudal untuk menembak kapal yang melintasi jalur energi vital ini.
Sebanyak 20 persen pasokan minyak dunia biasanya melintasi jalur tersebut. Karena itu, Iran secara efektif mengendalikan sebagian besar lalu lintas di selat itu.
Trump berulang kali menyatakan “Selat Hormuz tetap terbuka” dan mengeklaim 24 kapal melintasinya pekan lalu. Meski begitu, angka tersebut hanya sebagian kecil dari sekitar 130 kapal yang biasa melintasi jalur vital itu setiap hari. Jumlah itu tercatat sebelum perang pecah.
Lalu Lintas Kapal Masih Berkurang
Sebelumnya pada Minggu, sebuah koalisi multinasional menyatakan lalu lintas komersial di selat tersebut masih berada pada “tingkat yang berkurang”. Angkatan Laut AS mengawasi koalisi tersebut.
Sementara itu, sebuah lembaga pemantau militer Inggris melaporkan insiden lain. Sebuah proyektil tak dikenal menghantam kapal tanker pada Sabtu di utara Khasab, Oman, yang juga berada di kawasan selat itu.
Badan Organisasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) menyatakan kapal tersebut sedang bergerak masuk saat insiden terjadi. Badan itu mencatat insiden ini tidak menimbulkan korban jiwa maupun dampak lingkungan.
UKMTO mengutip keterangan otoritas militer tanpa menyebut namanya. Hingga kini, belum ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab atas insiden tersebut.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia














