Puluhan Pemukim Israel Serang Rumah Warga di Desa Qusra

Minggu, 30 Agustus 2026 - 16:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Puluhan pemukim Israel menyerang rumah warga di desa Qusra, Tepi Barat, sementara militer justru menahan korban. Dok: Istimewa.

Puluhan pemukim Israel menyerang rumah warga di desa Qusra, Tepi Barat, sementara militer justru menahan korban. Dok: Istimewa.

POSNEWS.CO.ID, RAMALLAH — Puluhan militan pemukim Israel bertopeng menyerang rumah-rumah di sekitar desa Qusra, Tepi Barat pendudukan, pada Sabtu. Serangan ini menjadi serangan besar pertama sejak pengepungan pemukim awal bulan ini memicu kecaman internasional.

Kronologi Pengepungan Rumah Warga

Para pemukim mengepung sebuah rumah Palestina sambil melempari batu, dengan tujuh warga terjebak di dalamnya. Saddam Oday, salah satu yang terjebak, menyatakan militer Israel menembakkan gas air mata ke dalam rumah.

Militer kemudian menahan para penghuni di dalamnya, sementara Oday sendiri dibiarkan pergi. Ia menegaskan militer Israel tidak menahan satu pun pemukim dan justru membiarkan mereka meninggalkan lokasi.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pemilik rumah, Luay Bayruti, menceritakan saat militer tiba, mereka justru memborgol, menutup mata, dan memukuli penghuni di dalam rumah. Militer kemudian melepaskan mereka setelah insiden tersebut.

Pernyataan Resmi Militer dan Netanyahu

Militer Israel menyatakan pasukan dan polisi perbatasan tiba di lokasi untuk mengusir “perusuh” dan melindungi penghuni rumah. Namun, militer belum merespons pertanyaan soal alasan penembakan gas air mata serta penahanan dan pemukulan terhadap penghuni.

Baca Juga :  Forum Boao 2026 Proyeksikan Asia Tumbuh 4,5 Persen

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, dalam pernyataan publik pertamanya soal Qusra, mengecam kekerasan tersebut. Ia menyalahkan segelintir perusuh atas insiden di desa Qusra dan Jalud.

Sebelumnya, AS telah menekan Netanyahu agar mengecam secara publik pemukim militan yang mengepung warga Palestina. Pemerintah Israel sebelumnya kerap menyalahkan minoritas pinggiran atas kekerasan pemukim, karakterisasi yang temuan kelompok hak asasi manusia bantah.

Temuan PBB soal Keterlibatan Otoritas Israel

Penyelidikan PBB pada Juni menemukan otoritas Israel terlibat langsung dalam serangan pemukim yang menewaskan, melukai, dan menggusur warga Palestina di Tepi Barat. Misi Israel di Jenewa menolak temuan laporan tersebut.

Bayruti menceritakan ia dan enam lainnya terjebak lebih dari satu jam saat pemukim melempari batu, meski sudah memanggil militer Israel meminta bantuan. Ia menunjukkan lengannya yang terbalut perban akibat terkena lemparan batu.

Oday, seorang tenaga medis, menyebut empat orang yang terjebak mengalami luka akibat gas air mata. Dua lainnya mengalami luka akibat lemparan batu para pemukim.

Baca Juga :  Apakah Kebangkitan Multipolaritas Akan Membawa Stabilitas?

Pola Serangan yang Terus Berulang

Serangan ini terjadi beberapa ratus meter dari tiga rumah yang pemukim kepung bulan ini, memicu kecaman internasional dan penempatan militer besar-besaran. Warga menyebut kondisi ini justru membuat mereka terjebak efektif di dalam rumah sendiri.

Loui Ridi, warga Palestina-Amerika yang rumahnya turut dikepung bulan ini, menyaksikan serangan Sabtu dari rumahnya. Ia menceritakan pemukim melihat warga sedang bekerja di rumah yang masih dalam pembangunan, lalu mulai melempari batu.

Ridi mengaku menyaksikan penerobosan pemukim Israel nyaris setiap hari di sekitar rumahnya, meski kehadiran militer Israel di area tersebut cukup masif.

Eskalasi Kekerasan Pemukim di Tepi Barat

Kelompok hak asasi manusia menyebut meningkatnya kehadiran pemukim di pinggiran desa Palestina seperti Qusra sebagai bagian dari upaya lebih luas merebut lahan. Kekerasan pemukim Yahudi di Tepi Barat pendudukan terus meningkat, dengan sebagian pemukim merasa didukung pemerintahan Netanyahu.

PBB dan mayoritas negara menganggap permukiman tersebut ilegal menurut hukum internasional soal pendudukan militer. Namun, Israel menolak pandangan ini dan menganggap wilayah tersebut sebagai sengketa, bukan pendudukan.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Iran Akui Dampak Ekonomi Perang, Tegaskan Tetap Kuasai
Hakim Federal Nyatakan Kebijakan Deportasi Trump
Serangan Drone Rusia Tewaskan 37 Orang di Gudang Amunisi
Korban Hilang Banjir Bandang Himalaya Capai 3.044 Orang
Jepang Keluarkan Peringatan Hujan Level Tertinggi di Fukui
PM Qatar Kunjungi Teheran Upayakan Diplomasi di Tengah Perang
AS Alami Kekurangan Rudal Patriot di Eropa Akibat Perang Iran
Trump Ganti Nama Danau Ontario Jadi Lake America

Berita Terkait

Minggu, 30 Agustus 2026 - 18:00 WIB

Iran Akui Dampak Ekonomi Perang, Tegaskan Tetap Kuasai

Minggu, 30 Agustus 2026 - 16:37 WIB

Puluhan Pemukim Israel Serang Rumah Warga di Desa Qusra

Minggu, 30 Agustus 2026 - 16:00 WIB

Hakim Federal Nyatakan Kebijakan Deportasi Trump

Minggu, 30 Agustus 2026 - 15:28 WIB

Serangan Drone Rusia Tewaskan 37 Orang di Gudang Amunisi

Minggu, 30 Agustus 2026 - 15:00 WIB

Korban Hilang Banjir Bandang Himalaya Capai 3.044 Orang

Berita Terbaru

Iran mengakui dampak ekonomi berat akibat perang dengan AS, namun tetap menolak mundur soal kendali Selat Hormuz di tengah sanksi yang terus meningkat. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Iran Akui Dampak Ekonomi Perang, Tegaskan Tetap Kuasai

Minggu, 30 Agu 2026 - 18:00 WIB

Puluhan pemukim Israel menyerang rumah warga di desa Qusra, Tepi Barat, sementara militer justru menahan korban. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Puluhan Pemukim Israel Serang Rumah Warga di Desa Qusra

Minggu, 30 Agu 2026 - 16:37 WIB

Hakim federal California memutuskan kebijakan deportasi Trump terhadap kritik Israel melanggar kebebasan berbicara, memenangkan gugatan The Stanford Daily. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Hakim Federal Nyatakan Kebijakan Deportasi Trump

Minggu, 30 Agu 2026 - 16:00 WIB

Drone Rusia menghantam gudang amunisi di Myla, Ukraina, menewaskan 37 orang termasuk penghuni panti jompo, menjadi serangan paling mematikan 2026. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Serangan Drone Rusia Tewaskan 37 Orang di Gudang Amunisi

Minggu, 30 Agu 2026 - 15:28 WIB

Korban hilang banjir bandang Himalaya capai 3.044 orang dengan 750 tewas, sementara bantuan internasional terus mengalir ke Nepal. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Korban Hilang Banjir Bandang Himalaya Capai 3.044 Orang

Minggu, 30 Agu 2026 - 15:00 WIB