POSNEWS.CO.ID, ABUJA — Nigeria dan Indonesia bersama-sama mengkritik rencana kebijakan sertifikasi produk minyak sawit Uni Eropa. Kedua negara menyebut kebijakan tersebut selektif dan bertujuan melindungi pasar minyak nabati domestik Eropa.
Kritik dari Peluncuran Buku di Abuja
Pakar pengembangan sawit, Lawal Olusola Lawal, menyampaikan kritik ini dalam peluncuran buku di Abuja pada 4 September 2026. Selain memimpin diskusi tersebut, Lawal juga menjabat perwakilan Duta Besar Indonesia untuk Nigeria, Ary Raharyo.
Keduanya menilai upaya Uni Eropa melabeli sawit sebagai ancaman lingkungan menyesatkan. Selain itu, mereka memandang kebijakan tersebut bersifat proteksionis, dirancang untuk menguntungkan alternatif minyak nabati milik Eropa sendiri.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kerangka Sertifikasi yang Kontroversial
Kerangka sertifikasi Eropa mewajibkan verifikasi impor sawit terhadap standar lingkungan, sosial, dan hukum yang ketat. Verifikasi ini terutama mengacu pada kepatuhan terhadap Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) dan European Union Deforestation Regulation (EUDR).
Kedua pembicara membahas peluncuran buku terbaru Lawal berjudul “Trade Protectionism Disguised as Climate Advocacy: Why Europe is Demonising the Oil Palm Tree”. Selain itu, mereka menegaskan keberlanjutan harus menjadi tanggung jawab global bersama, bukan alat proteksionisme atau diskriminasi.
Seruan bagi Negara Produsen Sawit
Lawal, yang juga menjabat Pejabat Pertanian Senior di Kementerian Pertanian dan Ketahanan Pangan Federal Nigeria, mendesak Nigeria dan negara produsen lain seperti Indonesia bersuara. Ia menegaskan pentingnya mengubah narasi dominan seputar sektor dan lingkungan ini.
Lawal membantah klaim bahwa budidaya sawit secara inheren berdampak negatif terhadap lingkungan. Menurutnya, narasi global dominan seputar minyak sawit telah dibajak kebijakan lingkungan selektif yang mengancam kelangsungan hidup jutaan petani.
Ia menambahkan advokasi keberlanjutan baru harus adil, berbasis sains, dan inklusif. Selain itu, Lawal menegaskan keberlanjutan lingkungan dan keadilan ekonomi seharusnya tidak saling meniadakan.
Pertanyaan soal Perlakuan Selektif
Lawal mempertanyakan alasan hanya sawit yang dipersoalkan, sementara tanaman penghasil minyak lain dikecualikan. Ia bertanya secara retoris mengapa kedelai, canola, bunga matahari, dan kacang tanah tidak turut masuk dalam pembatasan serupa.
Ia menegaskan sawit bukan sekadar tanaman komoditas, melainkan tanaman industri vital. Selain itu, sawit menghidupi keluarga, menciptakan lapangan kerja, menggerakkan ekonomi pedesaan, dan mengangkat komunitas dari kemiskinan.
Lawal menyebut Indonesia berhasil memanfaatkan tanaman ini mengangkat jutaan orang dari kemiskinan. Karena itu, ia berharap Nigeria, sebagai rumah asli tanaman sawit, dapat segera mereplikasi keberhasilan serupa.
Tujuan di Balik Peluncuran Buku
Lawal menjelaskan buku ini bertujuan memulai percakapan global penting sekaligus membela jutaan petani kecil di Afrika dan Asia. Kehidupan para petani tersebut sangat bergantung pada tanaman sawit ini.
Ia menegaskan buku ini tidak menentang perlindungan lingkungan, dan pentingnya menjaga hutan serta praktik pertanian berkelanjutan. Pada akhirnya, Lawal menutup pernyataannya dengan menyebut buku tersebut sebagai suara bagi petani dan seruan keadilan dalam perdagangan global.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia













