Nigeria dan Indonesia Tolak Kebijakan Sertifikasi Sawit Uni Eropa

Selasa, 8 September 2026 - 11:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Nigeria dan Indonesia mengkritik kebijakan sertifikasi sawit Uni Eropa yang dinilai selektif dan proteksionis terhadap petani kecil. Dok: Istimewa.

Nigeria dan Indonesia mengkritik kebijakan sertifikasi sawit Uni Eropa yang dinilai selektif dan proteksionis terhadap petani kecil. Dok: Istimewa.

POSNEWS.CO.ID, ABUJA — Nigeria dan Indonesia bersama-sama mengkritik rencana kebijakan sertifikasi produk minyak sawit Uni Eropa. Kedua negara menyebut kebijakan tersebut selektif dan bertujuan melindungi pasar minyak nabati domestik Eropa.

Kritik dari Peluncuran Buku di Abuja

Pakar pengembangan sawit, Lawal Olusola Lawal, menyampaikan kritik ini dalam peluncuran buku di Abuja pada 4 September 2026. Selain memimpin diskusi tersebut, Lawal juga menjabat perwakilan Duta Besar Indonesia untuk Nigeria, Ary Raharyo.

Keduanya menilai upaya Uni Eropa melabeli sawit sebagai ancaman lingkungan menyesatkan. Selain itu, mereka memandang kebijakan tersebut bersifat proteksionis, dirancang untuk menguntungkan alternatif minyak nabati milik Eropa sendiri.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kerangka Sertifikasi yang Kontroversial

Kerangka sertifikasi Eropa mewajibkan verifikasi impor sawit terhadap standar lingkungan, sosial, dan hukum yang ketat. Verifikasi ini terutama mengacu pada kepatuhan terhadap Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) dan European Union Deforestation Regulation (EUDR).

Baca Juga :  Prihatin! Andrie Yunus Tak Bisa Membaca, Hukuman 2 TNI Dipangkas

Kedua pembicara membahas peluncuran buku terbaru Lawal berjudul “Trade Protectionism Disguised as Climate Advocacy: Why Europe is Demonising the Oil Palm Tree”. Selain itu, mereka menegaskan keberlanjutan harus menjadi tanggung jawab global bersama, bukan alat proteksionisme atau diskriminasi.

Seruan bagi Negara Produsen Sawit

Lawal, yang juga menjabat Pejabat Pertanian Senior di Kementerian Pertanian dan Ketahanan Pangan Federal Nigeria, mendesak Nigeria dan negara produsen lain seperti Indonesia bersuara. Ia menegaskan pentingnya mengubah narasi dominan seputar sektor dan lingkungan ini.

Lawal membantah klaim bahwa budidaya sawit secara inheren berdampak negatif terhadap lingkungan. Menurutnya, narasi global dominan seputar minyak sawit telah dibajak kebijakan lingkungan selektif yang mengancam kelangsungan hidup jutaan petani.

Ia menambahkan advokasi keberlanjutan baru harus adil, berbasis sains, dan inklusif. Selain itu, Lawal menegaskan keberlanjutan lingkungan dan keadilan ekonomi seharusnya tidak saling meniadakan.

Pertanyaan soal Perlakuan Selektif

Lawal mempertanyakan alasan hanya sawit yang dipersoalkan, sementara tanaman penghasil minyak lain dikecualikan. Ia bertanya secara retoris mengapa kedelai, canola, bunga matahari, dan kacang tanah tidak turut masuk dalam pembatasan serupa.

Baca Juga :  Revolusi di Budapest: Peter Magyar Tumbangkan Dominasi 16 Tahun Viktor Orban

Ia menegaskan sawit bukan sekadar tanaman komoditas, melainkan tanaman industri vital. Selain itu, sawit menghidupi keluarga, menciptakan lapangan kerja, menggerakkan ekonomi pedesaan, dan mengangkat komunitas dari kemiskinan.

Lawal menyebut Indonesia berhasil memanfaatkan tanaman ini mengangkat jutaan orang dari kemiskinan. Karena itu, ia berharap Nigeria, sebagai rumah asli tanaman sawit, dapat segera mereplikasi keberhasilan serupa.

Tujuan di Balik Peluncuran Buku

Lawal menjelaskan buku ini bertujuan memulai percakapan global penting sekaligus membela jutaan petani kecil di Afrika dan Asia. Kehidupan para petani tersebut sangat bergantung pada tanaman sawit ini.

Ia menegaskan buku ini tidak menentang perlindungan lingkungan, dan pentingnya menjaga hutan serta praktik pertanian berkelanjutan. Pada akhirnya, Lawal menutup pernyataannya dengan menyebut buku tersebut sebagai suara bagi petani dan seruan keadilan dalam perdagangan global.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ekspor CPO Indonesia Tumbuh 5,49 Persen sepanjang Januari-Juli
Polri-PDRM Naikkan Level Perang Narkoba, Bandar Besar Jadi Target Utama
Soetta Kembali Berdenyut, Penerbangan Dipulihkan Bertahap
Gempa, Anak Krakatau, Karhutla Mengancam, Prabowo Perintahkan Mitigasi Diperkuat
Selat Sunda Dipantau Ketat, BMKG Pastikan Penyeberangan Tetap Aman
PJJ Mulai 7 September, MBG di Sekolah Terdampak Anak Krakatau Disetop
Jangan ke Bandara Dulu, 8 Bandara Ditutup akibat Abu Anak Krakatau
Erupsi Anak Krakatau, BMKG Siaga 24 Jam Pantau Abu dan Tsunami

Berita Terkait

Selasa, 8 September 2026 - 11:24 WIB

Nigeria dan Indonesia Tolak Kebijakan Sertifikasi Sawit Uni Eropa

Selasa, 8 September 2026 - 08:19 WIB

Ekspor CPO Indonesia Tumbuh 5,49 Persen sepanjang Januari-Juli

Selasa, 8 September 2026 - 08:04 WIB

Polri-PDRM Naikkan Level Perang Narkoba, Bandar Besar Jadi Target Utama

Selasa, 8 September 2026 - 06:15 WIB

Soetta Kembali Berdenyut, Penerbangan Dipulihkan Bertahap

Senin, 7 September 2026 - 15:34 WIB

Gempa, Anak Krakatau, Karhutla Mengancam, Prabowo Perintahkan Mitigasi Diperkuat

Berita Terbaru

Final Fantasy VII Revelation hadir dalam versi fisik satu disc, namun gamer PS5 dan Xbox tetap wajib mengunduh data tambahan sebelum bermain. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

FF7 Revelation Hadir dalam Versi Fisik, Namun Wajib Unduh Data

Selasa, 8 Sep 2026 - 09:40 WIB