POSNEWS.CO.ID, WASHINGTON – Presiden Donald Trump resmi menunda pelaksanaan paket sanksi ekonomi berat terhadap Rusia.
Trump menandatangani perintah eksekutif tersebut hanya dua hari sebelum batas waktu pemberlakuan sanksi.
Gedung Putih menyebut langkah penundaan sanksi tersebut berjalan demi menjaga kepentingan nasional Amerika Serikat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
RUU sanksi ekonomi tersebut sebelumnya memakai nama mendiang Senator South Carolina, Lindsey Graham.
Aturan hukum ini menargetkan jaringan bank, pejabat pemerintah, serta armada kapal tanker minyak milik Rusia.
Keputusan Mengejutkan Menjelang Pemilu Sela
Keputusan mendadak ini menyusul langkah Trump membeli ratusan ribu ton diesel dari pihak Rusia.
Trump mengklaim pembelian diesel Rusia bertujuan menekan lonjakan harga energi menjelang Pemilu Sela November.
Sebaliknya, survei AP-NORC menunjukkan mayoritas rakyat Amerika Serikat menolak kebijakan perang Iran milik Trump.
Penundaan sanksi ini berisiko memperlemah posisi Ukraina dalam menghadapi agresi militer pemerintah Rusia.
Bahkan, Senator Darline Graham tetap mendukung wewenang penuh Presiden dalam mengeksekusi sanksi ekonomi tersebut.
Kritik Keras Kalangan Kongres Amerika Serikat
Anggota DPR Don Beyer mengecam keputusan Trump yang dinilai memberi angin segar kepada Vladimir Putin.
Beyer meminta Kongres segera memperbaiki celah hukum agar Presiden tidak mengabaikan dukungan bagi Ukraina.
Sementara itu, Trump terus menekan Presiden Volodymyr Zelenskyy agar segera menyepakati perdamaian dengan Moscow.
Pemerintah Rusia berjanji menyuplai jutaan ton diesel untuk pasar domestik Amerika Serikat dalam beberapa tahap.
Namun, para pakar menilai kesepakatan diesel tersebut tidak akan mampu menurunkan harga bahan bakar global.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia













