TANGERANG, POSNEWS.CO.ID – Ribuan pohon lontar yang tumbuh di Kubu, Karangasem, Bali, menyimpan peluang ekonomi yang selama bertahun-tahun belum tergarap maksimal.
Kini, melalui pengolahan nira menjadi gula lontar organik, Tarunira berupaya mengubah potensi alam desa menjadi sumber penghasilan bagi petani sekaligus membuka jalan menuju pasar ekspor.
Di balik produk yang manis itu, tersimpan perjuangan masyarakat desa untuk memperoleh penghidupan lebih layak.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Terbatasnya lapangan kerja dan rendahnya pendapatan pertanian selama ini menjadi tantangan bagi warga, termasuk generasi muda yang memilih mencari pekerjaan di luar kampung halaman.
Tarunira kemudian hadir pada 2021 dengan pendekatan wirausaha sosial. Perusahaan ini mengembangkan produk berbasis lontar sekaligus membangun rantai usaha yang melibatkan petani lokal.
Berdasarkan keterangan yang dipublikasikan Kementerian Perdagangan pada Sabtu (17/10/2026), kawasan Kubu memiliki hamparan pohon lontar seluas lebih dari 1.700 hektare.
Tarunira kini melibatkan lebih dari 60 petani lontar serta puluhan petani singkong di tiga desa.
Pendapatan Petani Diklaim Naik hingga Rp3 Juta
Salah satu dampak yang disoroti Tarunira adalah peningkatan pendapatan petani.
Jika sebelumnya penghasilan masyarakat yang terlibat berkisar Rp800.000 hingga Rp1 juta per bulan, perusahaan menyebut pendapatan mereka kini dapat melampaui Rp3 juta per bulan.
Peningkatan tersebut tidak terlepas dari upaya mengolah bahan mentah menjadi produk bernilai tambah.
Petani tidak hanya menjual hasil sadapan nira, tetapi juga menjadi bagian dari rantai produksi gula lontar yang menyasar pasar lebih luas.
I Komang Sukarma, Founder PT Inovasi Tani Tarunira, mengatakan pemanfaatan pohon lontar dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus mendorong pelestarian lingkungan.
Menurut dia, pengembangan usaha tersebut bukan sekadar memperkenalkan pemanis alternatif, melainkan juga membuka kesempatan agar masyarakat desa memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar dari sumber daya di sekitarnya.
Mengolah Nira, Mengurangi Limbah Produksi
Tarunira mengembangkan proses produksi dengan prinsip Circular Agriculture dan Green Chemistry. Melalui pendekatan ini, perusahaan berupaya memanfaatkan kembali sisa produksi agar tidak terbuang percuma.
Dalam keterangan perusahaan yang dipublikasikan Kemendag, jejak karbon produksi gula lontar Tarunira disebut sekitar 0,37 kilogram COâ‚‚ ekuivalen per kilogram produk.
Perusahaan juga menyatakan angka tersebut lebih rendah dibandingkan gula tebu konvensional.
Selain itu, limbah produksi diolah menjadi bio-briket dan pupuk organik cair. Tarunira juga memanfaatkan biochar untuk membantu pengolahan air limbah.
Pendekatan tersebut memperlihatkan bagaimana usaha pangan lokal dapat mengembangkan nilai ekonomi tanpa mengabaikan pengelolaan limbah.
Meski demikian, klaim perbandingan jejak karbon perlu dibaca sesuai metode pengukuran dan cakupan penilaian yang digunakan.
Komang menyebut bisnis Tarunira berpegang pada prinsip people, planet, and profit. Artinya, perusahaan berupaya menjaga keseimbangan antara kesejahteraan masyarakat, kelestarian lingkungan, dan keberlanjutan usaha.
Gula Lontar Berbasis Riset, Bidik Konsumen Lebih Luas
Tarunira memproduksi gula lontar organik dari nira pohon lontar dengan proses yang dikembangkan berdasarkan riset dan standar higiene.
Produk tersebut memiliki aroma khas serta cita rasa yang digambarkan perusahaan sebagai fruity-creamy.
Tarunira juga merujuk penelitian mengenai indeks glikemik gula lontar yang dilakukan di Institut Pertanian Bogor (IPB).
Penelitian pada 2017 mencatat indeks glikemik gula lontar cair sebesar 48,93, gula cetak 49,99, dan gula kristal 54,48.
Meski memiliki indeks glikemik relatif rendah dalam penelitian tersebut, gula lontar tetap mengandung gula. Karena itu, produk ini tidak otomatis aman dikonsumsi tanpa pembatasan oleh penderita diabetes.
Konsumen tetap perlu memperhatikan jumlah konsumsi dan mengikuti saran tenaga kesehatan.
Dari sisi pemasaran, Tarunira menyebut produknya telah tersedia di lebih dari 170 toko, termasuk jaringan Ranch Market, Hypermart, dan Sesa. Perusahaan juga memasok produk ke segmen bisnis atau business-to-business (B2B).
Jangkauan pasar domestik tersebut menjadi modal untuk memperkenalkan gula lontar Indonesia kepada pembeli dari berbagai negara.
TEI 2026 Jadi Pintu Menuju Jepang, Eropa, dan Australia
Kesempatan memperluas pasar kini dibidik melalui Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 yang berlangsung pada 14–18 Oktober 2026 di ICE BSD City, Tangerang.
Dalam pameran perdagangan internasional tersebut, Tarunira menempati stan 3A-72.
Chief Production Officer Tarunira, Kadek Juli Ardani, mengatakan keikutsertaan kali ini merupakan yang pertama bagi perusahaan.
Mereka ingin menjajaki peluang ekspor sekaligus mengetahui respons pengunjung mancanegara terhadap produk gula lontar.
Tarunira secara khusus membidik peluang pasar Jepang, Eropa, dan Australia. Namun, perusahaan masih perlu membangun kerja sama dagang dan memastikan kesiapan produksi untuk memenuhi kebutuhan pembeli internasional.
Menurut Juli, pengembangan pasar ekspor juga berkaitan dengan rencana memperluas pemberdayaan petani di luar Bali.
Tarunira telah membangun jejaring dengan petani di Rote, Nusa Tenggara Timur, dan memberikan pembekalan kepada masyarakat setempat.
Ia berharap terbukanya pasar ekspor dapat mendorong peningkatan produksi sekaligus memperluas penyerapan hasil alam Rote.
Dengan demikian, manfaat usaha tidak hanya dirasakan petani di Karangasem, tetapi juga masyarakat di daerah lain yang memiliki potensi lontar.
Target 1.000 Warga dan 10.000 Pohon Lontar
Dalam rencana jangka panjang selama dua dekade ke depan, Tarunira menargetkan pemberdayaan 1.000 warga desa dan pengelolaan 10.000 pohon lontar secara berkelanjutan.
Target itu masih menjadi rencana yang harus diwujudkan secara bertahap melalui penguatan produksi, perluasan jaringan petani, peningkatan kualitas produk, dan pembukaan akses pasar.
Kisah Tarunira menunjukkan bahwa kekayaan alam desa dapat memiliki nilai lebih ketika masyarakat memperoleh kesempatan mengolahnya menjadi produk bernilai tambah.
Dari pohon lontar yang tumbuh di Karangasem, sebuah usaha lokal kini berupaya membangun masa depan ekonomi yang lebih luas.
Bagi para petani, keberhasilan usaha ini bukan hanya tentang menghasilkan gula.
Lebih dari itu, peluang tersebut diharapkan mampu menjaga sumber penghidupan di desa, membuka kesempatan kerja bagi generasi muda, dan membawa produk lokal Indonesia menuju pasar dunia. **
Editor : Hadwan













