Doping Genetik: Batas Baru Kecurangan yang Tak Terdeteksi

Selasa, 18 November 2025 - 19:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Lupakan steroid dan EPO. Masa depan kecurangan olahraga ada pada gen. Doping genetik memanipulasi DNA atlet untuk menciptakan

Ilustrasi, Lupakan steroid dan EPO. Masa depan kecurangan olahraga ada pada gen. Doping genetik memanipulasi DNA atlet untuk menciptakan "manusia super" yang mungkin tak akan pernah terdeteksi. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Sejarah olahraga selalu berjalan beriringan dengan sejarah kecurangan. Sejak Olimpiade Kuno, para atlet memakan testis domba (sumber testosteron alami). Kemudian, era modern hadir dengan skandal steroid Ben Johnson dan EPO Lance Armstrong. Atlet selalu mencari cara untuk melampaui batas alami tubuh manusia.

Namun, kini kita berdiri di tepi jurang evolusi baru yang jauh lebih menakutkan dan canggih. Era suntikan kimiawi mungkin akan segera berakhir. Doping Genetik (Gene Doping) akan segera menggantikannya.

Memprogram Ulang DNA

Sebenarnya, apa itu doping genetik? Secara sederhana, praktik ini menggunakan sel, gen, atau elemen genetik untuk meningkatkan performa atletik secara non-terapeutik.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Berbeda dengan doping tradisional yang memasukkan zat asing ke dalam tubuh, doping genetik memodifikasi instruksi dasar tubuh itu sendiri.

Dengan teknologi seperti CRISPR-Cas9, ilmuwan “nakal” dapat menyuntikkan gen sintetis. Gen ini memerintahkan tubuh atlet untuk:

  1. Memproduksi EPO Alami: Tubuh akan memproduksi sel darah merah dalam jumlah ekstrem tanpa henti. Hal ini meningkatkan stamina secara drastis.
  2. Memblokir Myostatin: Myostatin adalah protein yang membatasi pertumbuhan otot. Dengan mematikan gen ini, otot atlet akan tumbuh tanpa batas. Hasilnya, atlet memiliki kekuatan super.
Baca Juga :  Kanwil KemenHAM DK Jakarta Gandeng Walikota Jakarta Pusat, Perkuat Penguatan HAM dan Sosialisasi PRISMA

Tantangan Pengujian: Kejahatan yang Tak Terlihat

Inilah masalah terbesarnya: bagaimana Anda menangkap seseorang yang curang jika “obatnya” adalah tubuh mereka sendiri?

Saat ini, tes doping bekerja dengan mencari jejak zat asing (metabolit) dalam urin atau darah. Akan tetapi, tubuh menghasilkan protein dari doping genetik yang hampir identik dengan protein alami. Akibatnya, WADA (Badan Anti-Doping Dunia) kesulitan membedakan antara EPO hasil doping genetik dan EPO alami.

Satu-satunya cara pasti mungkin adalah melakukan biopsi otot yang invasif. Tentu saja, kita tidak mungkin menerapkan tindakan menyakitkan ini secara rutin pada atlet.

Evolusi atau Kecurangan?

Fenomena ini membuka kotak pandora etika. Jika teknologi pengeditan gen (seperti CRISPR) menjadi aman dan tersedia untuk mengobati penyakit (seperti distrofi otot), mengapa atlet tidak boleh menggunakannya?

Baca Juga :  Meruntuhkan Kesombongan Induksi: Kritik Karl Popper terhadap Positivisme Logis

Beberapa futuris berargumen bahwa kita harus menerima modifikasi genetik sebagai evolusi alami manusia. Menurut mereka, melarangnya sama saja dengan melawan kemajuan teknologi.

Namun, mayoritas komunitas olahraga menolak keras. Mereka berpendapat bahwa hal ini menghancurkan integritas olahraga. Jika kita mengizinkannya, olahraga tidak lagi menjadi kompetisi bakat dan kerja keras. Sebaliknya, ajang ini berubah menjadi kompetisi bioteknologi antara “atlet super” buatan laboratorium. Selain itu, risiko kesehatan jangka panjang (kanker, mutasi) masih sangat besar.

Masa Depan “Atlet Super”

Pada akhirnya, doping genetik bukanlah fiksi ilmiah; itu adalah realitas yang sudah ada di depan mata. Pertanyaannya bukan “apakah” ada atlet yang melakukannya, tetapi “apakah” kita bisa mendeteksinya.

Kita mungkin akan segera melihat pemecahan rekor dunia yang tidak masuk akal. Di saat itulah, kita harus bertanya: apakah itu hasil keringat manusia, atau hasil rekayasa genetika? Perang antara pembuat aturan dan penipu telah memasuki level seluler. Saat ini, penipu tampaknya memiliki keunggulan besar.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tomokazu dan Miwa Harimoto Bintang Tenis Meja
Persija vs Persib di GBK Dijaga 17.800 Personel, Polisi Perketat Penyekatan
Jelang Persija vs Persib, Pramono Tegas: Jangan Ada Kerusuhan
Persija vs Persib di GBK, Polisi Minta Warga Hindari 4 Ruas Jalan
Jelang Persija vs Brisbane Roar di JIS, Brimob Sterilisasi Stadion
PB POSSI Perkuat Instruktur Selam, Regenerasi SDM Jadi Kunci Prestasi
Chelsea vs AC Milan di GBK Dijaga 1.200 Personel Gabungan Polda Metro
Indonesia Hancurkan Kamboja 5-1, Mitchell Baker Cetak Hattrick di Piala AFF 2026

Berita Terkait

Rabu, 16 September 2026 - 06:28 WIB

Tomokazu dan Miwa Harimoto Bintang Tenis Meja

Sabtu, 12 September 2026 - 06:51 WIB

Persija vs Persib di GBK Dijaga 17.800 Personel, Polisi Perketat Penyekatan

Jumat, 11 September 2026 - 14:50 WIB

Jelang Persija vs Persib, Pramono Tegas: Jangan Ada Kerusuhan

Jumat, 11 September 2026 - 14:39 WIB

Persija vs Persib di GBK, Polisi Minta Warga Hindari 4 Ruas Jalan

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 20:58 WIB

Jelang Persija vs Brisbane Roar di JIS, Brimob Sterilisasi Stadion

Berita Terbaru

Ilustrasi  Hujan mengguyur kawasan Jabodetabek pada Sabtu 19 September 2026.
(Posnews/Kominfo)

JABODETABEK

Jangan Lupa Payung, Hujan Berpotensi Guyur Jabodetabek Sabtu Ini

Sabtu, 19 Sep 2026 - 05:34 WIB

Produksi sawit Kalimantan diproyeksi anjlok hingga 15% pada Q4 akibat kemarau panjang dan karhutla. Simak data kerusakan lahan dan estimasi GAPKI. Dok: Istimewa.

NASIONAL

Produksi Kelapa Sawit Kalimantan Diproyeksi Anjlok 15 Persen

Jumat, 18 Sep 2026 - 17:20 WIB