JAKARTA, POSNEWS.CO.ID — Pernahkah Anda terjebak menonton video orang memotong sabun selama berjam-jam? Atau mungkin Anda tertawa melihat video gameplay acak dengan suara latar bising tanpa makna?
Selamat datang di era “Brainrot”. Istilah gaul internet ini menggambarkan jenis konten yang rendah kualitas, repetitif, dan sangat absurd. Sayangnya, kita sering mengonsumsinya secara berlebihan hingga otak rasanya seolah “membusuk”.
Video-video ini membanjiri lini masa TikTok, Reels, dan Shorts. Tanpa sadar, kita menatap layar kosong sambil membiarkan algoritma menyuapi kita dengan sampah digital. Fenomena ini tampak sepele, namun menyimpan bahaya kognitif yang serius.
Krisis Atensi dan Kematian “Deep Reading”
Dampak “Brainrot” terhadap otak manusia sangatlah nyata. Pasalnya, rentang perhatian atau attention span kita menyusut drastis. Otak kita terbiasa mendapatkan stimulasi instan setiap 15 detik sekali.
Akibatnya, kita kehilangan kemampuan untuk berkonsentrasi dalam waktu lama. Dulu, kita sanggup membaca buku tebal atau artikel panjang. Kini, membaca satu paragraf utuh saja rasanya sangat menyiksa.
Kemampuan membaca mendalam (deep reading) perlahan punah. Kita menjadi malas berpikir kritis dan hanya memindai informasi di permukaan saja. Akhirnya, otak kita menjadi tumpul dan sulit memproses informasi kompleks.
Algoritma Pemangsa Waktu
Siapa dalang di balik krisis ini? Tentu saja, algoritma media sosial memegang peran besar. Platform digital memprioritaskan engagement di atas kualitas informasi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tujuannya jelas, mereka ingin pengguna terus menatap layar selama mungkin. Oleh karena itu, algoritma sengaja menyuguhkan konten-konten “Brainrot”.
Video jenis ini terbukti ampuh memicu dopamin cepat. Lantas, kita terus menggulir layar (scrolling) tanpa henti. Kita menjadi mangsa empuk bagi mesin yang memangsa waktu dan atensi kita demi keuntungan iklan.
Guru Mengeluh, Siswa Gagal Fokus
Dampak buruk ini mulai merembet ke ruang kelas. Guru-guru di berbagai sekolah mulai menyuarakan keluhan serupa. Faktanya, siswa zaman sekarang semakin sulit fokus pada pelajaran.
Mereka gelisah jika harus mendengarkan penjelasan guru lebih dari sepuluh menit. Parahnya lagi, kemampuan komunikasi mereka juga terganggu.
Banyak siswa berbicara menggunakan istilah internet yang aneh dan tidak nyambung dalam percakapan nyata. Mereka melempar kata-kata viral tanpa memahami konteks. Alhasil, komunikasi tatap muka menjadi canggung dan terputus-putus.
Diet Digital Demi Kesehatan Otak
Pada akhirnya, kita harus segera mengambil tindakan tegas. Kesehatan kognitif generasi ini sedang berada di ujung tanduk. Kita perlu melakukan “diet digital” yang ketat.
Batasi waktu layar secara disiplin. Selanjutnya, paksa diri untuk kembali ke aktivitas analog. Membaca buku fisik, berolahraga, atau sekadar melamun tanpa ponsel bisa membantu memulihkan fokus.
Jangan biarkan algoritma mengubah otak kita menjadi bubur. Ingatlah, atensi adalah aset paling berharga yang kita miliki. Gunakanlah untuk hal-hal yang benar-benar bermakna.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















