Misi Ganda Macron di Beijing: Kejar Cuan Dagang dan Desak Gencatan Senjata Ukraina

Kamis, 4 Desember 2025 - 05:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Otonomi di tengah tekanan. Kanselir Jerman Friedrich Merz, Presiden Prancis Emmanuel Macron, dan PM Inggris Keir Starmer menyerukan kemandirian pertahanan Eropa guna menghadapi retorika isolasionis Washington. Dok: Human Right Watch.

Otonomi di tengah tekanan. Kanselir Jerman Friedrich Merz, Presiden Prancis Emmanuel Macron, dan PM Inggris Keir Starmer menyerukan kemandirian pertahanan Eropa guna menghadapi retorika isolasionis Washington. Dok: Human Right Watch.

BEIJING, POSNEWS.CO.ID – Pesawat kenegaraan Prancis mendarat mulus di bandara Beijing, Rabu malam waktu setempat. Presiden Emmanuel Macron melangkah turun dengan mantel terbuka melawan udara dingin musim dingin. Ia datang membawa agenda ambisius yang memadukan kepentingan ekonomi dan diplomasi tingkat tinggi.

Menteri Luar Negeri Tiongkok, Wang Yi, menyambut langsung kedatangan pemimpin Prancis tersebut. Selanjutnya, Macron memulai rangkaian kunjungan tiga harinya yang penuh pertaruhan strategis.

Ia tidak hanya ingin mempererat hubungan dagang. Lebih dari itu, Macron bertekad melibatkan Tiongkok dalam penyelesaian konflik Rusia-Ukraina yang kian berlarut.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menyeimbangkan Defisit Ratusan Miliar

Fokus utama Macron di sektor ekonomi sangat jelas. Ia ingin menyeimbangkan neraca perdagangan yang timpang. Tercatat, defisit perdagangan Uni Eropa dengan Tiongkok mencapai angka fantastis, yakni lebih dari 300 miliar euro tahun lalu.

Baca Juga :  Pertemuan dengan JK, Ormas Katolik Tegaskan Tak Ada Penistaan Agama

Tiongkok sendiri menyumbang 46 persen dari total defisit perdagangan Prancis. Oleh karena itu, Macron berkomitmen membela akses pasar yang adil dan timbal balik.

“Kami ingin mencapai keseimbangan yang menjamin pertumbuhan berkelanjutan bagi semua orang,” ujar pernyataan resmi kantor kepresidenan Prancis.

Pejabat kedua negara bersiap menandatangani sejumlah kesepakatan strategis. Rencananya, kerja sama ini akan mencakup sektor energi, industri pangan, dan penerbangan. Prancis berharap langkah ini dapat menarik lebih banyak investasi Tiongkok ke negerinya.

Tekanan Diplomatik untuk Gencatan Senjata

Di sisi lain, misi diplomatik yang tak kalah berat menanti di meja perundingan. Macron berupaya keras membujuk Presiden Xi Jinping. Ia berharap Beijing mau menggunakan pengaruhnya untuk menekan Rusia.

Tujuannya adalah mencapai gencatan senjata segera di Ukraina. Sebelumnya, Macron telah bertemu Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di Paris pada Senin lalu untuk membahas syarat-syarat perdamaian.

Seorang pejabat diplomatik Prancis mengungkapkan harapan Paris. “Kami ingin China meyakinkan Rusia untuk bergerak menuju gencatan senjata secepat mungkin,” ungkapnya.

Baca Juga :  Suporter atau Perusuh? Membedah Psikologi Massa di Stadion

Paris juga mengharapkan Beijing menahan diri. Tegasnya, Tiongkok tidak boleh memberikan sarana apa pun kepada Rusia untuk melanjutkan perang.

Panda dan Persaingan Dagang

Hubungan dagang kedua pihak sebenarnya sedang memanas. Uni Eropa tengah menyelidiki subsidi kendaraan listrik Tiongkok. Sebagai balasan, Beijing meluncurkan investigasi terhadap impor brendi, daging babi, dan produk susu Eropa.

Namun, Macron menyambut baik pengecualian terbaru bagi produsen konyak sebagai langkah positif.

Agenda kunjungan ini sangat padat. Macron dan istrinya, Brigitte, dijadwalkan mengunjungi Taman Qianlong di Kota Terlarang. Selanjutnya, pertemuan puncak dengan Xi Jinping akan berlangsung di Balai Agung Rakyat pada Kamis.

Perjalanan akan berlanjut ke Chengdu, Provinsi Sichuan. Di sana, mereka akan mengunjungi pusat konservasi panda raksasa. Menariknya, panda bernama Yuan Meng, yang lahir di Prancis dan dinamai oleh Ibu Negara Brigitte, kini tinggal di pusat tersebut.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Sumber Berita: AP News

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Serangan Gunting di Covent Garden London Lukai 4 Orang
Prancis Melarang Panggilan Telemarketing Tanpa Izin Konsumen
Senat AS Konfirmasi Dr Erica Schwartz Sebagai Direktur CDC
Israel Gelar Serangan Susulan di Lebanon Selatan Saat Diplomasi
AS Periksa Akun Media Sosial Jurnalis Asing Pemohon Visa
AS Tetap Dorong Lisensi Rudal Patriot Ukraina
Presiden Lee Jae Myung Siaga Satu Sambut Puncak Gelombang
Iran dan Oman Sepakati Kontrol Selat Hormuz dalam Draf

Berita Terkait

Jumat, 7 Agustus 2026 - 13:11 WIB

Serangan Gunting di Covent Garden London Lukai 4 Orang

Jumat, 7 Agustus 2026 - 12:17 WIB

Prancis Melarang Panggilan Telemarketing Tanpa Izin Konsumen

Jumat, 7 Agustus 2026 - 11:02 WIB

Senat AS Konfirmasi Dr Erica Schwartz Sebagai Direktur CDC

Jumat, 7 Agustus 2026 - 09:00 WIB

AS Periksa Akun Media Sosial Jurnalis Asing Pemohon Visa

Jumat, 7 Agustus 2026 - 09:00 WIB

AS Tetap Dorong Lisensi Rudal Patriot Ukraina

Berita Terbaru

Ilustrasi, Tewas. (Posnews/Ist)

DAERAH

Rebutan Warisan Berujung Maut di Tapanuli Selatan

Jumat, 7 Agu 2026 - 13:22 WIB

Polisi London menahan seorang wanita setelah ia melukai empat pria di kawasan Covent Garden. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Serangan Gunting di Covent Garden London Lukai 4 Orang

Jumat, 7 Agu 2026 - 13:11 WIB

Pemerintah Prancis memberlakukan undang-undang baru yang melarang perusahaan melakukan panggilan telemarketing tanpa persetujuan awal konsumen. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Prancis Melarang Panggilan Telemarketing Tanpa Izin Konsumen

Jumat, 7 Agu 2026 - 12:17 WIB

Senat AS mengonfirmasi Dr Erica Schwartz sebagai Direktur CDC di tengah krisis internal lembaga. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Senat AS Konfirmasi Dr Erica Schwartz Sebagai Direktur CDC

Jumat, 7 Agu 2026 - 11:02 WIB