Sepatu Hak Tinggi: Dari Simbol Maskulinitas Persia ke Ikon Feminin

Sabtu, 6 Desember 2025 - 10:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Dulu dipakai tentara perang, sekarang jadi ikon kecantikan wanita. Simak sejarah mengejutkan sepatu hak tinggi yang ternyata simbol

Ilustrasi, Dulu dipakai tentara perang, sekarang jadi ikon kecantikan wanita. Simak sejarah mengejutkan sepatu hak tinggi yang ternyata simbol "kejantanan" di masa lalu. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Bunyi “tak-tuk-tak-tuk” sepatu hak tinggi di lantai marmer sering kali memunculkan citra wanita anggun yang berjalan penuh percaya diri. Dunia modern melabeli high heels sebagai simbol feminitas mutlak.

Namun, jika kita memutar waktu seribu tahun ke belakang, persepsi itu akan hancur berantakan. Faktanya, sepatu hak tinggi awalnya justru tercipta untuk kaum pria.

Bukan sembarang pria, melainkan para prajurit perang yang garang. Sejarah mencatat perjalanan panjang evolusi alas kaki ini dari medan lumpur pertempuran hingga ke karpet merah fashion week.

Senjata Perang Kavaleri Persia

Jejak pertama hak tinggi berasal dari Persia (kini Iran) pada abad ke-10. Kala itu, pasukan kavaleri elit Persia menghadapi masalah teknis saat menunggang kuda.

Kaki mereka sering tergelincir dari sanggurdi (pijakan kaki) saat kuda berlari kencang. Akibatnya, akurasi memanah mereka menjadi kacau. Lantas, mereka menciptakan sepatu dengan tumit yang tinggi dan keras.

Fungsinya murni praktis, bukan estetis. Hak sepatu tersebut mengunci kaki prajurit di sanggurdi. Dengan begitu, mereka bisa berdiri tegak di atas pelana dan memanah musuh dengan stabil meski kuda sedang berpacu. Sepatu hak tinggi adalah simbol kejantanan dan kekuatan militer.

Baca Juga :  Saat Fiksi Ilmiah Tahun 1927 Meramal Ketimpangan Global Hari Ini

Raja Louis XIV dan Hak Merah

Tren ini kemudian menyeberang ke Eropa pada abad ke-16. Delegasi diplomatik Persia membawa gaya ini ke pengadilan kerajaan Eropa. Seketika, para bangsawan pria jatuh cinta pada gaya tersebut.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mereka mengadopsi hak tinggi agar terlihat lebih jangkung dan berwibawa. Raja Louis XIV dari Prancis menjadi ikon utama tren ini. Bahkan, sang “Raja Matahari” menetapkan aturan unik.

Hanya bangsawan yang dekat dengannya yang boleh memakai sepatu dengan hak berwarna merah. Hak merah menjadi simbol status kekuasaan dan privilese politik yang sangat eksklusif.

“The Great Male Renunciation”

Akan tetapi, angin perubahan mulai berembus pada abad ke-18. Eropa memasuki era Pencerahan (Enlightenment). Kaum pria mulai meninggalkan pakaian yang rumit dan memilih gaya yang lebih praktis serta rasional.

Baca Juga :  Lebih dari Sekadar Lukisan: Menggali Sejarah Seni

Fenomena ini dikenal sebagai “The Great Male Renunciation”. Pria menanggalkan perhiasan, warna cerah, dan hak tinggi. Sebaliknya, kaum wanita mulai mengadopsi sepatu hak tinggi.

Awalnya, wanita memakainya agar terlihat lebih maskulin atau setara. Namun seiring waktu, desain hak untuk wanita menjadi lebih ramping dan tinggi untuk menonjolkan lekuk kaki. Pria pun perlahan melupakan bahwa mereka pernah memakai sepatu tersebut.

Gender Hanyalah Konstruksi Sosial

Pada akhirnya, sejarah sepatu hak tinggi mengajarkan kita satu hal penting. Gender pada pakaian hanyalah konstruksi sosial yang cair dan bisa berubah.

Apa yang kita anggap “feminin” hari ini bisa jadi merupakan simbol “maskulin” yang paling garang di masa lalu. Maka, mode hanyalah cermin dari nilai-nilai zaman yang terus berputar, bukan aturan baku yang tertulis di batu.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dilema Keamanan di Laut Natuna: Mengapa Modernisasi Alutsista Regional Tak Terelakkan?
Jaga Kekhusyukan: Cara Mengatur Screen Time Selama Bulan Suci
Tren Fashion Muslim 2026: Warna-Warna Bumi
Sisi Lain Ramadan: Kisah Para Pekerja yang Tetap Bertugas
Parkiran Minimarket Jadi Lokasi Transaksi, 18 Kg Ganja Disita Polisi di Duri Kepa
ABK Mengaku Tak Tahu Muatan Narkoba, Pigai: Hukuman Mati Tak Sejalan HAM
Zelenskyy: Ukraina Tidak Kalah dan Tolak Serahkan Donbas
Menko Polkam Atensi Keamanan Papua, Negara Tak Mundur Hadapi Teror Bandara

Berita Terkait

Sabtu, 21 Februari 2026 - 19:58 WIB

Dilema Keamanan di Laut Natuna: Mengapa Modernisasi Alutsista Regional Tak Terelakkan?

Sabtu, 21 Februari 2026 - 18:48 WIB

Jaga Kekhusyukan: Cara Mengatur Screen Time Selama Bulan Suci

Sabtu, 21 Februari 2026 - 17:45 WIB

Tren Fashion Muslim 2026: Warna-Warna Bumi

Sabtu, 21 Februari 2026 - 16:40 WIB

Sisi Lain Ramadan: Kisah Para Pekerja yang Tetap Bertugas

Sabtu, 21 Februari 2026 - 16:10 WIB

Parkiran Minimarket Jadi Lokasi Transaksi, 18 Kg Ganja Disita Polisi di Duri Kepa

Berita Terbaru

Ilustrasi, Kembali ke alam. Tren busana Muslim tahun 2026 mengusung konsep kesederhanaan yang elegan melalui sentuhan warna bumi dan siluet minimalis yang mengutamakan kenyamanan fungsional. Dok: Istimewa.

NETIZEN

Tren Fashion Muslim 2026: Warna-Warna Bumi

Sabtu, 21 Feb 2026 - 17:45 WIB

Ilustrasi, Pahlawan di balik kesunyian Maghrib. Saat mayoritas warga berkumpul di meja makan, sebagian orang justru harus teguh berdiri di garis depan demi pelayanan dan kemanusiaan. Dok: Istimewa.

NETIZEN

Sisi Lain Ramadan: Kisah Para Pekerja yang Tetap Bertugas

Sabtu, 21 Feb 2026 - 16:40 WIB