BEIJING, POSNEWS.CO.ID – Beijing mulai memainkan peran aktif dalam meredakan ketegangan di Asia Tenggara. Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, turun tangan langsung dengan menelepon mitranya dari Thailand dan Kamboja pada Kamis (11/12/2025).
Dalam pembicaraan terpisah tersebut, Wang Yi menerima laporan terkini mengenai bentrokan berdarah di perbatasan kedua negara. Kabar baiknya, kedua belah pihak menyatakan keinginan mereka untuk meredakan ketegangan dan mengimplementasikan gencatan senjata.
Wang Yi menegaskan posisi China sebagai teman dekat dan tetangga bagi kedua negara. Ia menyatakan keprihatinan mendalam atas jatuhnya korban sipil akibat konflik tersebut.
“China adalah pihak yang paling tidak ingin melihat kedua belah pihak menggunakan konfrontasi bersenjata,” ujar Wang dengan nada prihatin.
Intensitas Konflik Mengkhawatirkan
Wang menyoroti skala pertempuran kali ini yang jauh lebih intens dibandingkan insiden sebelumnya. Menurutnya, membiarkan konflik berlarut-larut tidak akan menguntungkan siapa pun. Justru, hal itu akan merusak persatuan ASEAN yang selama ini terjaga.
“Prioritas utama adalah membuat keputusan cepat untuk gencatan senjata, membendung kerugian, dan membangun kembali rasa saling percaya,” tegas anggota Biro Politik Komite Sentral PKT tersebut.
Beijing konsisten memegang pendekatan yang adil dan tidak memihak. Oleh karena itu, Wang menyatakan dukungan penuh China terhadap upaya mediasi yang dilakukan oleh ASEAN.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Diplomasi Ulang-Alik Utusan Khusus
Langkah konkret Beijing tidak berhenti di telepon. Wang mengumumkan bahwa China telah mengirim utusan khusus untuk urusan Asia. Saat ini, utusan tersebut sudah bertolak menuju Kamboja dan Thailand.
Misi utusan khusus ini adalah melakukan “diplomasi ulang-alik” (shuttle diplomacy). Tujuannya, menjembatani komunikasi antara kedua pihak yang bertikai dan mempromosikan pemulihan perdamaian secara konstruktif.
Langkah ini mendapat sambutan hangat. Wakil Perdana Menteri Kamboja Prak Sokhonn dan Menlu Thailand Sihasak Phuangketkeow sangat menghargai sikap objektif China. Mereka berharap peran Beijing dapat menjadi kunci de-eskalasi situasi yang kian genting.
Korban Jiwa Terus Bertambah
Urgensi perdamaian semakin nyata melihat data korban yang terus merangkak naik. Militer Thailand merilis pernyataan resmi pada Kamis. Tercatat, bentrokan terbaru telah menewaskan 21 tentara Thailand dan 21 warga sipil.
Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Dalam Negeri Kamboja, Touch Sokhak, juga melaporkan data pilu. Hingga Rabu sore, total warga sipil Kamboja yang tewas mencapai 18 orang. Selain itu, jumlah korban luka-luka melonjak menjadi 78 orang.
Kini, harapan perdamaian bertumpu pada meja perundingan. Kehadiran mediator China dan tekanan ASEAN diharapkan mampu menghentikan hujan peluru yang telah merenggut puluhan nyawa tak berdosa di perbatasan.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia















