Memahami Konflik Lewat Kacamata Konstruktivisme

Jumat, 19 Desember 2025 - 09:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mengapa AS takut pada 1 nuklir Korut tapi santai dengan 500 nuklir Inggris? Jawabannya bukan pada jumlah, tapi pada identitas. Simak teori Konstruktivisme yang mengubah cara kita melihat dunia. Dok: Istimewa.

Mengapa AS takut pada 1 nuklir Korut tapi santai dengan 500 nuklir Inggris? Jawabannya bukan pada jumlah, tapi pada identitas. Simak teori Konstruktivisme yang mengubah cara kita melihat dunia. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Dunia internasional sering kali terlihat seperti hutan rimba yang kejam. Kaum Realis percaya bahwa negara akan selalu saling serang karena tidak ada “polisi dunia” atau anarki. Namun, seorang pemikir bernama Alexander Wendt datang dan menggebrak meja perdebatan.

Pada tahun 1992, Wendt menulis kalimat legendaris: “Anarchy is what states make of it” (Anarki adalah apa yang negara buat darinya).

Intinya, anarki tidak harus berarti kekacauan atau perang. Anarki hanyalah kanvas kosong. Lantas, apakah kanvas itu akan terlukis darah atau perdamaian, semua bergantung pada interaksi sosial antarnegara. Musuh atau teman adalah pilihan, bukan takdir.

Ide Lebih Kuat dari Materi

Konstruktivisme menekankan bahwa “ide” sering kali lebih kuat daripada “materi” (senjata atau uang). Mari kita ambil contoh kasus yang sangat jelas.

Inggris memiliki 500 hulu ledak nuklir. Akan tetapi, Amerika Serikat (AS) tidur nyenyak tanpa rasa takut sedikit pun. Sebaliknya, Korea Utara mungkin hanya memiliki segelintir hulu ledak nuklir. Namun, satu nuklir itu sudah cukup membuat Washington panik setengah mati.

Baca Juga :  Presiden Prabowo Lantik Irjen Pol Suyudi Ario Seto Jadi Kepala BNN di Istana Negara

Secara materi, nuklir Inggris jauh lebih mematikan. Lantas, mengapa AS lebih takut pada Korut? Jawabannya terletak pada makna sosial atau intersubjektif.

AS mengonstruksi identitas Inggris sebagai “teman”. Sementara itu, mereka mengonstruksi Korea Utara sebagai “musuh”. Oleh karena itu, senjata tidak memiliki makna intrinsik; hubungan sosiallah yang memberinya makna.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sejarah Membentuk Identitas: Kasus Jerman

Identitas sebuah negara tidak jatuh dari langit. Identitas terbentuk melalui sejarah dan interaksi yang panjang. Contohnya, mari kita lihat transformasi Jerman.

Sebelum 1945, Jerman memiliki identitas sebagai negara militeristik yang agresif. Namun, kekalahan telak dalam Perang Dunia II dan trauma Nazi mengubah segalanya.

Masyarakat Jerman melakukan konstruksi ulang terhadap diri mereka sendiri. Kini, Jerman modern memiliki identitas sebagai negara pasifis yang anti-perang.

Akibatnya, meskipun memiliki ekonomi raksasa, Jerman sangat enggan mengirim tentara ke luar negeri. Norma anti-militerisme telah tertanam kuat dalam budaya strategis mereka. Perilaku negara berubah karena identitasnya berubah.

Konflik Bukan Sekadar Geopolitik

Aplikasi teori ini juga bisa membedah konflik di Timur Tengah, khususnya antara Iran dan Arab Saudi. Banyak analis melihat ini hanya sebagai perebutan kekuasaan geopolitik biasa.

Baca Juga :  Mengapa Nongkrong Gratis Jadi Mustahil di Kota Besar?

Padahal, kaum Konstruktivis melihat lapisan yang lebih dalam. Konflik ini langgeng karena adanya konstruksi identitas sektarian.

Kedua negara membangun narasi “Kita vs Mereka” berdasarkan perbedaan Syiah dan Sunni. Elite politik menggunakan identitas agama untuk memobilisasi dukungan dan mendefinisikan lawan. Jadi, permusuhan itu terus hidup karena terus direproduksi lewat pidato, pendidikan, dan media.

Mengubah Pikiran, Mengubah Dunia

Pada akhirnya, Konstruktivisme memberikan secercah harapan. Jika Realisme bilang perang abadi itu takdir, Konstruktivisme bilang itu bisa kita ubah.

Struktur internasional yang penuh konflik hanyalah hasil dari ide-ide yang kita sepakati bersama. Maka, jika kita ingin mengubah dunia yang damai, kita tidak perlu menunggu “pemerintahan dunia” turun dari langit.

Kita bisa memulainya dengan mengubah persepsi. Ingatlah, teman hari ini bisa menjadi musuh besok, dan musuh hari ini bisa menjadi sahabat di masa depan. Semua tergantung pada bagaimana kita “membuatnya”.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dilema Keamanan di Laut Natuna: Mengapa Modernisasi Alutsista Regional Tak Terelakkan?
Jaga Kekhusyukan: Cara Mengatur Screen Time Selama Bulan Suci
Tren Fashion Muslim 2026: Warna-Warna Bumi
Sisi Lain Ramadan: Kisah Para Pekerja yang Tetap Bertugas
Parkiran Minimarket Jadi Lokasi Transaksi, 18 Kg Ganja Disita Polisi di Duri Kepa
ABK Mengaku Tak Tahu Muatan Narkoba, Pigai: Hukuman Mati Tak Sejalan HAM
Zelenskyy: Ukraina Tidak Kalah dan Tolak Serahkan Donbas
Menko Polkam Atensi Keamanan Papua, Negara Tak Mundur Hadapi Teror Bandara

Berita Terkait

Sabtu, 21 Februari 2026 - 19:58 WIB

Dilema Keamanan di Laut Natuna: Mengapa Modernisasi Alutsista Regional Tak Terelakkan?

Sabtu, 21 Februari 2026 - 18:48 WIB

Jaga Kekhusyukan: Cara Mengatur Screen Time Selama Bulan Suci

Sabtu, 21 Februari 2026 - 17:45 WIB

Tren Fashion Muslim 2026: Warna-Warna Bumi

Sabtu, 21 Februari 2026 - 16:40 WIB

Sisi Lain Ramadan: Kisah Para Pekerja yang Tetap Bertugas

Sabtu, 21 Februari 2026 - 16:10 WIB

Parkiran Minimarket Jadi Lokasi Transaksi, 18 Kg Ganja Disita Polisi di Duri Kepa

Berita Terbaru

Ilustrasi, Kembali ke alam. Tren busana Muslim tahun 2026 mengusung konsep kesederhanaan yang elegan melalui sentuhan warna bumi dan siluet minimalis yang mengutamakan kenyamanan fungsional. Dok: Istimewa.

NETIZEN

Tren Fashion Muslim 2026: Warna-Warna Bumi

Sabtu, 21 Feb 2026 - 17:45 WIB

Ilustrasi, Pahlawan di balik kesunyian Maghrib. Saat mayoritas warga berkumpul di meja makan, sebagian orang justru harus teguh berdiri di garis depan demi pelayanan dan kemanusiaan. Dok: Istimewa.

NETIZEN

Sisi Lain Ramadan: Kisah Para Pekerja yang Tetap Bertugas

Sabtu, 21 Feb 2026 - 16:40 WIB