Penjajahan Gaya Baru: Teori Sistem Dunia dan Kesenjangan

Jumat, 19 Desember 2025 - 09:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Penjajah sudah pulang, tapi kenapa kita tetap miskin? Simak analisis Teori Sistem Dunia Immanuel Wallerstein yang membongkar struktur neokolonialisme global. Dok: Istimewa.

Penjajah sudah pulang, tapi kenapa kita tetap miskin? Simak analisis Teori Sistem Dunia Immanuel Wallerstein yang membongkar struktur neokolonialisme global. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Bendera penjajah sudah lama turun dari tiang di negara-negara Asia dan Afrika. Tentara asing pun telah angkat kaki. Namun, puluhan tahun merdeka, kemiskinan dan ketimpangan tetap mencengkeram erat negara-negara berkembang.

Mengapa negara kaya semakin kaya, sementara negara miskin tetap sulit maju? Perspektif Marxisme dalam Hubungan Internasional menawarkan jawaban yang menohok.

Struktur ekonomi global saat ini bukanlah arena kompetisi yang adil. Sebaliknya, sistem ini adalah bentuk “penjajahan gaya baru”. Eksploitasi tidak lagi terjadi lewat moncong senapan, melainkan lewat mekanisme pasar yang timpang.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kasta Dunia: Inti, Semiperiferi, dan Periferi

Sosiolog Immanuel Wallerstein membedah realitas ini lewat “Teori Sistem Dunia”. Menurutnya, dunia adalah satu kesatuan ekonomi kapitalis yang terbagi dalam tiga kasta kaku.

Pertama adalah Negara Inti (Core). Kelompok ini berisi negara-negara Barat yang kaya modal dan teknologi canggih. Kedua adalah Negara Periferi (Periphery) atau pinggiran. Kelompok ini berisi negara miskin (Selatan) yang hanya memiliki sumber daya alam dan tenaga kerja murah.

Baca Juga :  Penganiayaan Berat di Picu Air Ludah, Pria di Kemayoran Bacok Korban Pakai Golok

Di tengahnya, ada Negara Semiperiferi. Negara-negara ini (seperti Brasil atau India) bertindak sebagai penyangga agar sistem tidak runtuh oleh pemberontakan negara miskin.

Mekanisme Pompa Kekayaan

Hubungan antar-kasta ini bersifat eksploitatif. Mekanismenya bekerja layaknya pompa penyedot kekayaan. Negara Inti membeli bahan mentah dari Periferi dengan harga sangat murah.

Kemudian, mereka mengolahnya menggunakan teknologi tinggi. Lantas, mereka menjual kembali barang jadi tersebut ke negara Periferi dengan harga selangit.

Akibatnya, nilai tambah (added value) menumpuk di Utara (Barat), sedangkan Selatan (negara berkembang) hanya mendapat remah-remah. Surplus ekonomi terus mengalir keluar, membuat negara miskin kesulitan menabung modal untuk membangun industrinya sendiri.

Jeratan Utang dan Teknologi

Penjajahan gaya baru atau neokolonialisme ini menggunakan instrumen canggih. Senjatanya adalah buku utang dan paten teknologi.

Baca Juga :  Rusia Tuntut Penyerahan Donbas, Trump Tekan Kiev

Lembaga keuangan global seperti IMF dan Bank Dunia sering kali memberikan pinjaman dengan syarat ketat. Sayangnya, syarat tersebut kerap memaksa negara penerima untuk membuka pasar mereka bagi perusahaan asing (liberalisasi).

Selain itu, ketergantungan teknologi menjadi rantai pengikat baru. Negara berkembang dipaksa menjadi konsumen setia gadget dan mesin buatan Negara Inti. Kita membayar royalti mahal yang terus menguras devisa negara.

Sistem yang Melanggengkan Kemiskinan?

Pada akhirnya, teori ini memunculkan pertanyaan pesimis. Bisakah negara Periferi “naik kelas” menjadi negara maju?

Sejarah membuktikan hal itu sangat sulit, meski bukan mustahil (seperti kasus Korea Selatan). Namun, secara struktural, sistem ini memang didesain untuk melanggengkan kesenjangan.

Negara Inti membutuhkan negara miskin tetap miskin agar pasokan bahan baku murah tetap lancar. Maka, perjuangan melawan kesenjangan Utara-Selatan bukan sekadar kerja keras domestik, melainkan perjuangan mengubah struktur tata kelola dunia yang tidak adil.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Serangan Balik: Ukraina Gempur Terminal Minyak Rusia
Sempat Ditangkap Israel, 9 WNI Relawan Gaza Akhirnya Tiba di Indonesia
Marco Rubio Lawat India guna Pulihkan Hubungan Dagang
Bareskrim Selidiki Blackout Sumatera, Kabel SUTET Putus di Jambi Diuji Forensik
Prancis Larang Masuk Menteri Keamanan Israel
WHO Nyatakan Wabah Strain Bundibugyo sebagai Ancaman Global
Trump Klaim Kesepakatan Damai dengan Iran Hampir Tuntas
Brimob Polda Metro Gagalkan Tawuran dan Balap Liar, Celurit hingga Narkoba Disita

Berita Terkait

Minggu, 24 Mei 2026 - 18:17 WIB

Serangan Balik: Ukraina Gempur Terminal Minyak Rusia

Minggu, 24 Mei 2026 - 17:24 WIB

Sempat Ditangkap Israel, 9 WNI Relawan Gaza Akhirnya Tiba di Indonesia

Minggu, 24 Mei 2026 - 17:14 WIB

Marco Rubio Lawat India guna Pulihkan Hubungan Dagang

Minggu, 24 Mei 2026 - 17:00 WIB

Bareskrim Selidiki Blackout Sumatera, Kabel SUTET Putus di Jambi Diuji Forensik

Minggu, 24 Mei 2026 - 16:11 WIB

Prancis Larang Masuk Menteri Keamanan Israel

Berita Terbaru

Bara di garis depan. Pasukan Ukraina meluncurkan serangan drone masif terhadap terminal minyak utama Rusia di Novorossiysk, sementara jumlah korban tewas akibat serangan di asrama mahasiswa Starobilsk mencapai 18 jiwa. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Serangan Balik: Ukraina Gempur Terminal Minyak Rusia

Minggu, 24 Mei 2026 - 18:17 WIB

Misi merajut kembali aliansi. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengunjungi India untuk memulihkan hubungan yang sempat retak akibat sengketa tarif dan perbedaan pandangan strategis terkait kawasan Asia Selatan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Marco Rubio Lawat India guna Pulihkan Hubungan Dagang

Minggu, 24 Mei 2026 - 17:14 WIB

Sanksi diplomatik Paris. Pemerintah Prancis resmi melarang Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, memasuki wilayahnya sebagai respons atas sikap kontroversialnya terhadap aktivis bantuan Gaza. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Prancis Larang Masuk Menteri Keamanan Israel

Minggu, 24 Mei 2026 - 16:11 WIB